
“Le, nanti sekolah y” ajaku kepada Dipta. Selasa pagi 13 Oktober 2020, mendapati Dipta yang merengek lepas bangun tidurnya. Celana masih terlihat basah saat menyusulku ke depan rumah. Disertai bau khas ompol, Dipta pun berganti celana sebelum akhirnya mandi untuk persiapan sekolah.
Lebih dari 15 hari, anak laki laki ku ini tak mendatangi sekolahnya. Jadwal kedatangan peserta didik tingkat kanak kanak (TK) yang diterima ibunya via gawai di hari minggu, mendesakku untuk mengajaknya masuk sekolah. Jadwal gilir untuk satu rombongan belajar dibatasi satu jam yang terdiri 4-5 siswa dalam satu ruangan.
Meski dibatasi waktu dan siswa, tidak jarang pena guru ke gawai istriku menginformasikan bahwa tidak setiap siswa mendatangi sekolah. Masa Pandemi COVID 19 yang memasuki bulan ke tujuh masih mengkhawatirkan orang tua untuk melepas anaknya ke sekolah.
Meski begitu, pemikiranku untuk memberikan kesempatan dalam pembiasaan mengenal teman, guru, dan gedung sekolah menuntutku untuk mengantar Dipta di pagi ini.
Praktis sampai dengan sepertiga bulan Oktober ini, menjadi kedatangan pertama buat Dipta di RA Bening. Uang bulanan yang lebih dari dua ratus ribu, menjadi dalih penguat untuk Dipta ke Sekolah. Lagian, pendidikan pra sekolah seperti TK, tidak gampang untuk dilakukan secara daring.

Disela sela menunggu selesainya jadwal sekolah Dipta, kunikmati air kelapa muda. Nanti, jam 9.15 WIB aku harus nyamperin Dipta kembali di RA Bening. Berada di warung tidak permanen sebelah exit tol Kukusan (ruas tol Jagorawi ke Cinere), berandai andai datangnya manfaat air kelapa 🥥 muda untuk kebugaran badan.Â
Tentu terus berharap kekuatan dari Ilahi Rabbi, sebagai Sang Pencipta air kelapa muda.