
Mumpung bisa singgah daerah Kepulauan, kesempatan makan ikan laut menjadi sesuatu yang berharga. Berada di lokasi kuliner sebelah Pelabuhan Benteng Selayar, berhentilah kendaraan Bang Zulfikar yang aku tumpangi.
Setelah melihat situasi jejeran warung pinggir pantai dengan cerobong asap sarana bakaran ikan, ingatanku terbawa pada tiga tahun lalu. Pertama kali duduk menghadap sisi pelabuhan di Kepulauan Selayar, disuguhi menu makan malam ikan bakar oleh Bapak Kepala Dinas Perikanan.
Kali ini, ikan kakatua, ikan baronang dan cumi hitam menjadi menu ditengah hari pertama disela tugas penelitian BMN. “ini ikan dilindungi versi KLH” kata Bang Zulfikar setelah berdialog berbahasa daerah Selayar dengan penjaja warung.
Penasaran dengan ikan kakatua, aku pun selancar di Internet. Taaaraaaaa….. Si cantik kakatua jangan di makan https://beritabeta.com/news/iptek/si-cantik-kakatua-jangan-dimakan-ini-kata-peneliti/
Didepan meja telah terhidang bakaran ikan masing2 dengan harga Rp. 50.000′-. “kita tidak salah, karena ikan kakatua sudah mati, toh kalo kita tidak pesan dan hidangan tidak kita makan, kasian penjualnya” celetukku sembari menunggu datangnya nasi. Maklum, desakan rasa lapar di siang hari dan kata kuliner ikan laut telah membutakan logika.
Terbaca kenapa si ikan kakatua ini menjadi jenis ikan yang perlu dilindungi dari laman Beritabeta.com bahwa keberadaan ikan kakatua di laut penting untuk memasok sedimen pasir pada terumbu karang. “apa yang salah adalah nelayan?” kataku untuk menghantarkan suasana makan siang bersama bang zul dan bro Ardhi.
“nelayan tidak salah, karena hanya melempar kail dan kebetulan ketemu dengan ikan kakatua” saut bang zul. Aku pun menambahkan, setelah terangkat ikan kakatua dari laut ke kapal nelayan, yang tertanam di benak nelayan bukan kategori ikan terlindungi, namun kebutuhan sekolah anaknya.
“Berarti ikan kakatua bukan hanya membantu lestari ya ekosistem terumbu karang, namun juga membantu sekolah anak anak nelayan” pungkas bang zul setelah nasi dan sambal disajikan.
Akhirnya, sembari melahap sajian bakaran ikan kakatua dan baronang serta cumi hitam, terbersit pemahaman bertiga bahwa bisa jadi tersusun kalimat sempurna, namun tanpa makna. Meraih makna suatu kalimat, perlu uraian dan hubungan beberapa keadaan yang saling berkaitan. (jika kita bawa ke ranah kearsipan maka sangat perlu keterkaitan antara struktur, kontek dan konten)