Cocok Logi di Obrolan Sarabba

coba untuk tidak terlalu memikirkan kata” kongkalingkong“, kataku dalam obrolan Sarabba. Aku harus mengambil permisalan untuk menambahkan penjelasan kepada mereka. Semisal tatkala di otak hanya ada teh panas, maka di meja ini terhidang teh panas. Namun tatkala tadi aku pesan Sarabba, bisa jadi sarabba di meja ini. Tentu tidak ada kopi di meja ini, karena tidak terlintas di otaku saat ini. Suasana obrolan mencair, terlihat senyum lebar dan terdengar tawa kecil mengiringi cocok logi. 

Jumat, 30 Oktober saat bermalam di Noorsyah Resort Selayar, tebusan Rp.15K untuk semangkuk indomie plus telur dan Rp.10K untuk segelas teh panas menjelang larut, mempertemukanku dengan obrolan Sarabba.

Kenapa obrolan Sarabba? Bukankah Sarabba adalah minuman khas di Sulawesi Selatan? Minuman sejenis bandrek di tanah Jawa. Ringkasnya, si penjaja resto menawarkan Sarabba gratisan demi membuka obrolan, meski secangkir teh panas belum lah aku habiskan.

Obrolan sarabba, mencuat kan pendapat atas kondisi pengurusan kartu nelayan penuh kongkalingkong di tingkat desa. Kemudian terekam pula pendapat atas kebijakan yang sangat tergantung pada politik, atau dalam kekuasaan Bupati. Dua kata “kongkalingkong” dan “politik” seolah membuyarkan logika masyarakat Indonesia. Bisa jadi dapat pula melupakan akal sehat dalam menyikapi interaksi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Begitu juga, pandangan kita tentang politik. “nanti kita titip proposal ke mas, biar bisa kita dapat bantuan” pintanya dalam obrolan Sarabba. Aku pun harus mencocok logi mereka. Permisalanku pada tangga yang harus melalui undak undakan atau urutan anak tangga sesuai tingkatan sebelum sampai ke atas atau ke bawah. “jika aku terima proposal, dan memastikan akan bantuan, maka aku berada di daerah politik” tambahku pada obrolan Sarabba. Suasana obrolan pun seolah terhenti sejenak. Berasa ada pukulan telak antar komunikan di obrolan sarabba. 

Seolah sesederhana itu, mencocok logi demi penalaran atas kehidupan sekitar pada obrolan Sarabba di Noorsyah Resort Selayar malam itu. Di sela menunggu datangnya kantuk di Noorsyah Resort Selayar, aku pun terantuk pada dua kata kongkalikong dan politik. Dua kata yang seolah menyalurkan aura negatif di rakyat akar rumput. Dua kata yang perlu cocok logi dalam penempatan bahkan sebelum sampai pada pemahaman. 

Kenapa harus Cocok Logi? “cocok logi” itu asli Selayar. Melalui kata Bang Zulfikar, temen sekantor berdarah Kabupaten Kepulauan Selayar. Cocok logi aku artikan dengan pemahamanku ialah menyusun logika untuk mendapatkan presisi menghadapi kekaprahan kehidupan di dunia (penalaran). 

Akhirnya, kesederhanaan obrolan sarabba telah mengajarkanku atas cocok logi. Obrolan Sarabba malam itu menjadi potret begitu pentingnya membahasakan kondisi kehidupan akar rumput. Bisa jadi pengaturan logikaku diatas terlihat sangat mudah, karena tidak menjalani kejadian sebenarnya.

Permisalanku dalam membahasakan cocok logi, terasa sangat mudah mematahkan alasan masalah yang mencuat pada obrolan Sarabba. Namun demikian, sejatinya pada merekalah tantangan dan permasalahan itu. Bukan pada logika logika yang aku susun sedemikian rupa hingga seolah olah menjadi solusi permasalahan. Terima kasih atas kesempatan belajar cocok lagi di Pulau Selayar Sulawesi

Semoga bermanfaat 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar