Kalimat Sempurna, Tanpa Makna

Malam itu di Kecamatan Benteng Selayar, seorang teman mengenalkan kepadaku tentang seorang temannya. “ini ibunya anak anak” katanya sembari mengajaku masuk ke kendaraan. Ajakan makan malam dari teman sekantor itu telah membawaku menemukan kalimat sempurna namun tanpa makna. 

Sering kita jumpai kalimat yang sempurna namun tidak terkandung makna di dalamnya. Mengucapkan suatu kalimat, belum tentu akan sama saat mendengarnya. Disini yang aku maksud kalimat sempurna ialah kalimat karena diucapkan oleh seseorang.

Kedatangan teman asli Selayar malam itu di Hotel Rayhan, sembari mengenal kan temennya yang berada di mobil, “ini ibunya anak anak“, merupakan satu bentuk kalimat sempurna. Apa maknanya? Apakah temennya temenku merupakan istri dari temenku? 

Kemudian setelah selesai ngobrol di aroma Cafe, aku menanyakan  “mbak pernah ke Jakarta?”. Dia pun menjawab “belum“. Aku pun tergelitik mengkonfirmasi kepada temanku. “ajak dong bang, ke Jakarta” sautku sebelum masuk ke kendaraan untuk kembali ke hotel.

Dengan kompak mereka menjawab “selalu“. Jawaban itu pun kuanggap sempurna. Meski kalimat atau kata sempurna, namun tiada makna. Atau bermakna lain. Kalimat dan kata bisa jadi sekedar guyon untuk mencairkan suasana. Kalimat dan kata bisa juga hanya  hanya kelakar demi sebuah keakraban semata. 

Akhirnya, aku pun belajar dari Kepulauan Selayar dimana 26 dari ratusan pulau yangtelah didiami oleh masyarakat. Meski berasa terpencil karena dipisahkan puluhan KM lautan dari pulau Sulawesi, namun aku mendapati pelajaran sangat berharga. “kalimat atau kata sempurna bisa jadi tanpa makna atau bermakna berbeda”. 

Dengan logika dan hati serta rasa, aku belajar mengkorelasikan kata atawa kalimat sempurna dengan makna sebenarnya. Terima kasih Selayar, empat hari (28 – 31 Oktober 2020) mendapati pelajaran yang berharga. Semoga bermanfaat 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar