
“tunggu di sini y kak, bapak antar Thole dulu, nanti bapak jemput lagi” pesanku setelah menyerahkan form kepada petugas jaga pendaftaran. Nasywa pun duduk di bangku yang berjajar di depan kelas. Keriuhan Selasa Pagi, 17 November 2020 di SDN Tanah Baru I karena giliran Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).
Imunisasi apakah yang diberikan melalui sekolah kepada Nasywa? Kenapa hampir seluruh siswa sekolah dasar di Indonesia terutama yang sekolah negeri menerima imunisasi gratis tersebut? Wajah kak Nasywa yang terekam dalam memoriku tatkala menahan sakit pasca kedua tangan menerima jarum suntik, mendesakku mencari tahu tentang BIAS itu.
Aku menemukan buletin jendela data dan informasi vol 1 2012 pada laman http://www.kemkes.go.id › downloadPDF
download file – Kementerian Kesehatan, https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://www.kemkes.go.id/download.php%3Ffile%3Ddownload/pusdatin/buletin/buletin-mnte.pdf&ved=2ahUKEwjy8tqj9IntAhVB6XMBHaw7Bp4QFjADegQICxAK&usg=AOvVaw0D4OxJPAzU5WRKn1ZaAiLD
Ternyata, sejak 14 November 1997 secara bersama Menkes, Mendikbud, Menag dan Mendageri telah mencanangkan bulan November sebagai Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Seluruh kegiatan Imunisasi dilaksanakan di seluruh sekolah. Pemberian imunisasi DT ke anak kelas 1 SD/MI, sedangkan Imunisasi TT ke anak kelas 2 s/d 6 SD/MI.
Imunisasi DT diberikan sebanyak 2 kali. Kenapa? karena dianggap anak masuk sekolah pada waktu, belum terjangkau imunisasi DPT sewaktu bayi, sehingga dianggap masih perlu mengantisipasi pembentukan kekebalan dasar.
Kekebalan terhadap campak melalui pemberian imunisasi campak (DT). Penularan penyakit campak sangat potensial terjadi di lingkungan sekolah. Selain pembentukan kekebalan terhadap anak, Imunisasi tersebut sebagai usaha untuk memutuskan mata rantai penularan.
Akhirnya, hari Selasa 17 November 2020 menjadi kali pertama cerita Nasywa berada di sekolah. Bukan untuk belajar, namun dalam program BIAS. Keharuanku pun tercuat saat kak Nasywa berani menghadapi petugas Imunisasi.