Sepedaan Hutan Cagar Alam Pancoran 

Tata air dan produsen udara murni, menjadi tema sepedaanku di Minggu terakhir bulan November 2020. Ya… Sepedaan Hutan Cagar Alam Pancoran Mas. Seperti minggu lalu, sepedaan bersama tetangga Villa Tanah Baru Beji Depok, mengusung tema lingkungan. Tentu menjadi penting untuk membangun rasa kewaspadaan serta kecintaan lingkungan.

Baca juga  https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/11/22/sepedaan-setu-bojongsari-depok/?preview=true

Kepadatan pemukiman Kota Depok sebagai penyangga Ibukota dan konsep kota Megapolitan Indonesia, tentu terkait antara tata ruang, ancaman bencana banjir, serta penjagaan warisan dunia seperti Setu dan Hutan Cagar alam. 

Pengaturan tata air yang tak kasat mata oleh Cagar Alam. Pun oleh Hutan Jagar Alam Pancoran, meski hanya delapan belas jenis flora. Asam Jawa, Aren, Benda, Bambu, Cemara, Juwet, Jengkol, Kecapi, Ki Koneng, Laban, Mahoni, matoa, Pulau, Rasamala, Rambutan, Sengon, saga Pohpon, Walisongo. 

Bukan hanya tata air, produksi udara murni berkualitas tinggi berasa sejuk tatkala menembus lubang hidung yang tertutup masker. Melintasi tanah partikelir milik peranakan Belanda-Perancis di abad ke 17 yang kini telah dikuasai pemerintah Daerah Depok Jawa Barat, serasa dipuncak gunung. 

18 Kilometer, nyaris 2 jam bersama kayuhan pedal sepeda, tentu menambah kebugaran badan dan kekompakkan antar warga VTB. Sepedaan dengan jalur yang melintasi Tiga kecamatan di Depok yakni, Beji, Pancoran Mas, dan Cipayung, terselip rasa memiliki kota Depok. Kota yang pada tiga abad lalu telah menjadi tempat para pekerja Tuan Peranakan Belanda – Perancis.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar