Kepuasan sosial dan Bhakti Lingkungan 

Kenikmatan, kepuasan sosial beriringan rasa pegel pada otot pergelangan tangan, kaki, dan badan. Pada sore lepas ashar, 5 Desember 2020, aku kembali memegang mesin potong rumput. Getaran mesin dan adrenalin merapikan jalan dalam perumahan dari rerumputan liar menyatu hingga otot pun tegang.

Pun minggu pagi, 6 Desember 2020, sedikit goyang kanan dan kiri mengikuti irama mesin potong rumput menjadi senam kesegaran jasmani dan rohani. Mesin potong rumput yang sempat kubeli dua tahun lalu, menjadi sarana ekspresi diri di hari libur sabtu dan minggu. 

Bagiku, gerak fisik demi lingkungan sudah akrab dimata tetangga kanan dan kiri. Mereka tidak kaget lagi menyaksikan kebiasaanku “tak diam melihat yang liar dilingkungan sekitar”. Seperti lokasi fasum dan fasos yang dikuasai rerumputan liar. 

Akhirnya, tulisan di hari minggu adalah tulisan Bhakti Lingkungan. Ekspresi diri bukan karena rajin, tapi karena berkecenderungan suka sosial dan lingkungan. Aku bilang cenderung, karena aku tidak mau menyebut diri orang sosial, atau dipanggil orang baik. Aku sih gak bakal GR.  Bhakti Lingkungan dan mencari kepuasan sosial bisa jadi karena mendapatkan lingkungan dan kesempatan saja. 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar