
Apa yang perlu dilakukan untuk menunjukkan fanatik kepada Sleman???? Bukan pada lima kali dalam setahun (2020) kembali ke Sleman. Itu iya, tp tak ada yang membekas di beberapa tahun ke belakang. Pun enam kali di tahun 2019 untuk bertemu dengan Sleman, semua aku tuliskan pada blog ini.

Permasalahan kampung halaman bukan hanya sebatas terbawa perasaan untuk merasa kehilangan lingkungan. Apa yang mampu dilakukan disaat merasa diri terjajah secara ekonomi untuk meninggalkan kampung itu. Atau meninggalkan peliknya ikatan kekeluargaan sebagai dampak ketertinggalan.

Pada potensi desa, diri ini merasa sulit untuk membuka wawasan. Bahwa data produktifitas masyarakat hanya terukur dari kemajuan kesejahteraan belaka. Jatah tanah untuk para pejabat di kantor kelurahan yang berhektar hektare itu kini menjadi perbincangan. Pun ratusan juta untuk menduduki jabatan Lurah pun mengemuka.

Akhirnya kepulanganku ke Sleman belasan kali di dua tahun terakhir telah membuka hasrat. Aku ingin kembali ke Sleman dengan penuh perhitungan. Hitungan dari mana? Ketika rasa ini semakin menggelora. Angin, bawalah aku kembali ke Sleman!!!!