Perkembangan mu cukup melegakan bapaku. Ya….aku yang merasa diri menjadi bapak dari tiga anak. Anak pertamaku bernama Nasywa. Kau lah puisi kehidupanku. Bait bait langkah kehidupan bersamaku telah banyak mengajarkan tentang arti tanggung jawab.
Ketakutan mu saat melihat tontonan menegangkan, mendekatkan badanku ke badanmu. Begitu juga di setiap malam, saat beranjak tidur. Tak lupa diri ini terus mengingat dan mendampingimu untuk belajar membunyikan tulisan Al Qur’an. Sejak jilid 5 yang kuharuskan ulang sejak jilid 2 (metode IQRA’), kini Nasywa telah kembali ke Jilid 5.
“Thole kalo memilih game tidak mendidik” katanya sambil menggerutu. Aku pun menimpali, “ya kakak pilihan game yang bisa buat belajar“. Dua penggal percakapan itu menjadi puisi tersendiri buat kakak Nasywa.
Akhirnya, menerimamu setulus tulus ya, adalah caraku untuk menyampaikan rasa syukurku kepada Sang Pencipta. Karena hanya Sanf Pencipta lah pemilikmu.