
Rutin mengantar anak ke sekolah, sempat kumaknai sebagai kekuatan dalam kesuksesan mengasuh anak sampai ke gerbang kehidupan selanjutnya. Istilah “rutin“, mengandung perbuatan secara terus menerus tanpa kenal menyerah.
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/06/11/abiyoso-pradipta-m/
Senin, 22 Februari 2021 aku mengantar Dipta kembali ke sekolah. Hari ini menjadi hari satu satunya sejak awal Februari 2021 Dipta masuk sekolah. Uang SPP yang terus ditagih pada setiap bulannya menjadi pertimbangan kuat untuk mengajaknya menghadiri sekolah.
Sejak Pembatasan Kegiatan Masyarakat atawa PKM sebagai tindak lanjut meningkatnya kasus paparan Covid-19, jadwal sekolah Dipta berkurang dari lima hari menjadi tiga hari. Itu pun tetap dengan skema satu jam pelajaran untuk satu harinya.
Dipta tidak mengambil sistem daring atau sekolah online. Keputusanku dan istri untuk tetap menghadirkan suasana kelas untuk Dipta dilandasi ada pilihan dari pihak sekolah. Selain itu, melihat karakter Dipta yang sangat senang bersosialisasi.
Perubahan kehidupan atas bencana Kedaruratan Kesehatan Masyarakat COVID 19 ini sangat memprihatinkan buat iklim sekolah sistem kehadiran. Begitu juga Dipta, pilihan untuk rutin menghadiri kelas dan ibu gurunya di sekolah mendapat tantangan yang begitu luar biasa.
Tantangan itu adalah perubahan iklim atau suasana hari belajar yang hanya satu jam setiap pertemuan, tiga jam setiap minggu (jua tidak terbentur hari libur), dan hilangnya pemandangan anak2 yang berseragam di sekitar. Alhasil, bangun pagi bukan menjadi prioritas untuk anak seperti Dipta.
Usia yang belum baligh, mengistimewakannya untuk terbebas dari doktrin bangun subuh (awal pagi). Tidur larut malam tidak menjadi larangan, karena jam sekolah memang agak siang. Begitu juga karena Kakaknya yang mengikuti sekolah daring (hanya tugas tugas yang terkirim melalui grup media sosial para wali murid).
Akhirnya, tulisan ini hanya akan menjadi pengingatku akan kualitas kemampuan Dipta. Meski sisi keyakinanku terus memberatkan pikirku bahwa, Allah sebagai Penguasa sajalah yang mutlak akan memberikan kemampuan Dipta. Bukan sekolah, bukan orang tua, dan bukan perubahan kehidupan. Namun sepantasnya aku mulai berfikir, untuk tetap rutin memperhatikan Dipta.