“Lucu Kowe” pena pada 26/2 jam 20.29 WIB dari Bapak Ardhi Krisnanto Migas. Respon beliau lepas menyaksikan tampilan ku secara virtual. Ya…acara pisah sambut Sesditjen Migas pun dilaksanakan dalam jaringan (daring) zoom metting.
Respon tersebut melegakan, tatkala audien yang hadir langsung tak terdengar kehebohan. Namun setidaknya terdengar beberapa tepukan tangan dan suara ketawa. Meski tak bisa tidur semalam, setidaknya meredakan kegalauan atas deg deg an pada dua puluh menit sebelum acara dimulai. Pun rasa malu bercampur canggung tatkala rencana kata kata yang kutulis tak terucap.
Sedetik lepas stag, tulisan /contekan aku masukkan ke dalam saku. Kata kata pun mengalir begitu saja, tak terasa sepuluh menit terlalui
Dengan tema kesan atas kepemimpinan, kata kunci seperti blusukan, kasih sayang kepada bawahan, prestasi, legasi kukaitkan dengan beberapa fakta yang kupersepsikan dari sosok pimpinan tinggi pratama. .
Berikut draft tulisan yang tidak semua dapat kuingat saat berada di depan forum.
2 tahun, 3 bulan, 20 hari, kira kira…. Menjadi kebersamaan kita dengan beliau… di jajaran manajemen Migas, tentu banyak meninggalkan kesan. Tepatnya di 9 Oktober 2018, seluruh pegawai di SDM menyambut kedatangan beliau. Menteri ESDM melantik sebagai di Sesditjen Migas yang ke 17.
Waktu pun berlalu, 1 Februari datang lah masa dimana bapak Iwan harus diperjalanan kembali, litbang, minerba, itjen, mMigas kembali pada khitahnya Keuangan. Dan bersamaan dengan itu pegawai Migas khususnya SDM menyambut pimpinan tinggi pratama, Sesditjen Migas yang ke 18.
Sebetulnya, saya ini kurang pantas lah untuk mewakili bapak dan ibu baik daring maupun luring. Beliau tidak kenal saya.
Langsung saja y… Sosok pimpinan yang suka blusukan. Tak jarang kita mendapati pak Iwan berada di ruang kerja eselon 3, bahkan di ruang pejabat administratornya, pak iwan terbiasa berkomunikasi dengan driver, para OB atau CS, tenaga pramu kantor. Selain Blusukan juga sayang dengan bawahan. Cerita menarik kala Amin (pramu kantor di bagian umum) misalnya, diajak langsung ke semarang, agar amin bisa menemui bayinya kampung.
Ngomongin pimpinan tinggi tak jauh dengan apa itu legasi. Deretan nama dan foto di ruang rapat itu, 16 Sesditjen Migas sejak 1978, tentu memiliki legasi nya masing2. Saya dapat bocoran bahwa ada satu legasi yang urung terlaksana, katanya… Tapi saya kok kurang percaya…izin pak iwan, apakah bapak mau gagal buat Biro jodoh di Ditjen Migas???
Namun, Jejeran 16 orang ses tentu tidak semulya legasi pak iwan. Yaitu meninggal jejak sebagai ketua DKM masjid Al legowo, masjid di era bu evita legowo/iklas. Ini yang mungkin sedikit menyulitkan generasi berikutnya, misalnya di tahun 2035 pak Joke sudah promosi ke eselon 2 y pak Joke? Kan sulit pak…
Mulai bergabung di tahun 2013, cukup singkat untuk kemudian dapat menduduki jabatan Migas 2. Fenomenal y… Sangat beda jika dibanding pak agus, belasan tahun, eselon 4 aja belom, eh udah di transformasi…
Kenapa saya sebut Migas 2, nyatanya pak iwan ini mencatatkan dalam sejarah sebagai pimpinan tinggi pratama yang menempati rumah dinas. Gemana pak rumah dinas nya?
Angka 17, atau Sesditjen Migas ke 17 mungkin menjadi menarik dan tentu kesan manis awet seventeen lah ya… Ciri khas kepemimpinan pak iwan terkesan dengan kasih sayang (jawa ya, penuh katresnan) tak nampak sekalipun pak iwan marah kepada bawahan.. Betul? Tapi sedikit mengancam dimutasi ke Sawah Lunto.