
Selain anugerah dari Sang Khaliq, kehadiranmu bisa jadi adalah penuntun kehidupanku. Kehadiran sosok anak yang kuberikan nama Abiyoso Praditpa Muhamad.
Pemaknaan kata “penuntun hidup” diatas memang begitu liar, seperti mendudukkan keinginanmu di tiap menjelang tidur. Saat ku harus mengimbangi keliaran insting manusia baru tampil di dunia.
Serasa panglima yang menginstruksikan arahan kepada pasukannya. Jika aku panglima, Dipta itu pasukannya. Tentu akan gelisah karena kehadiranmu itu penuntun ku di kehidupan sementara ini.
Gelisah saat melihat perkembangan mu yang tak sesuai ekspektasi. Tapi ki harus kembali lagi bahwa, “apa iya perlu menaroh harapan berlebih kepadamu?”
Balik balik ya ku harus bersyukur, karena tanpa kehadiran Dipta di sisi ku bisa jadi kehidupan pun masih begitu liar tak terarah. Atau pengennya menangkap pesan atas dogma “anak adalah anugerah dari Sang Pencipta”
Sampai di enam tahun usia Dipta, misteri kehidupan ini akan terus kunanti. Karena bisa jadi anak menjadi lawan. Anak menjadi kawan. Anak menjadi tanggungan. Anak menjadi pasukan. Atau anak menjadi panglima.
Nalar terus berjalan, dituntut keliaran dalam khasanah keislaman. Adalah berani optimis tiru orang lain (Botol). Tentu dari orang lain yang telah diberikan kemuliaan di Sisi Allah SWT