
“Cintailah pekerjaan agar tidak menjadi beban“, tutur Alimudin Baso, selaku Sesditjen Migas. Kalimat berjuta makna tersebut menggema dan menohok nalar Halal Bil Halal. Nalar saling merelakan demi kondisi yang lebih baik. Secara virtual Halal bil Halal diikuti lebih dari 240 pegawai aplikasi via zoom meet pada Senin, 17 Mei 2021 sejak tabuh 12.15 WIB.
Apa yang terfikir dari kata “Cinta“?? Bisa jadi rasa yang menaklukkan logika? Apa cinta memang menumbuhkan pengorbanan? Apakah cinta itu merajut kerelaaan tiap persembahan diatas asa kepemilikan?
Tentu setiap orang beda tafsir dan pemaknaan kata “Cinta“. Sesuai kondisi dan dogma yang dianut pribadi bersamaan kedudukan peran antar ASN di lingkungan Ditjen Migas.
Dari sisi lain, kondisi lingkungan pekerjaan seperti pada Birokrasi telah menakar kadar “Cinta“. Sebutlah metode survey, dimana sering disposisikan sebagai bibir dan telinga. Menornya bibir 💋 dari mayoritas, tentu sangat berpengaruh atas kadar cinta. Bisa jadi telinga pun terkutuki suara survey, hingga memperdaya instings dan indra keenam (hati) manusia.
Ialah Agen Perubahan, Farhan dan Nadiar serta Nella diiringi Coach Lufthfi dengan bertajuk survey indek kebahagiaan dengan sasaran internal pada lebih dari 230 an pegawai seolah menchalange rasa cinta kepada Ditjen Migas.
Acara Halal Bil Halal Ditjen Migas, siang ini akhirnya berpuncak pada harapan pada perubahan. Indek kebahagiaan versi Agen Perubahan ditangkap menjadi pesan seolah halalisasi interaksi unsur pimpinan dengan unsur pegawai.
Akhirnya, dari tulisan ini memojokkan logiku dengan ❔ pertanyaan. Tanda tanya dalam hati, antara cinta dan bahagia. Kalimat “Cintailah pekerjaan agar tidak menjadi beban” versus survey indek kebahagiaan. Apa Cinta bisa buat Bahagia?
Tapi yang pasti, tidak ada Cinta jika yang ada hanya menuntut saja. Kemudian apakah tuntutan yang terpenuhi bisa membawa kebahagiaan? Tentu bisa asal berlandaskan cinta.