
Di pojok itu, terbiasa berkelakar sembari menunggu datangnya Waktu Sholat. Kopi dan obrolan santai menjadi kebiasaan, bahkan selepas waktu berjamaah.
Sejak omongan permukaan sampai mendasarkan suatu perspektif kehidupan. “obrolan pantry bukan untuk mencari kesimpulan, namun menimbulkan kegelisahan berikutnya” kelakarku. Yang dituju bukan bersepakat, namun lebih bermuara penggalian pendapat atau menjadi otokritik, atau gosip yang membangun.

Kebiasaan pantry telah menghangatkan keberadaan mushola. Meskipun orangnya itu itu saja, namun nuansa Mushola tentu menjadi sudut lain sebagai tempat tongkrongan. Kadang masalah sosial, kemasyarakatan, bahkan keberagaman meski lebih sering hal hal yang tidak penting.
Semoga menjadi penghalau untuk berfikir jahat atau mungkar, atau kufur. Oboral pantry adalah sisi lain dari keberjamahan,dan barang tentu mengakrabkan antar sesama.