Memori kepada Bapak, menemani sepanjang hayat. Apapun pencapaiannya, tentu menjadi idola. Setidaknya harus mengidolakan. Sebagai bukti tunduk penghayatan “Bhakti kepada Orang Tua” .
Tak menggubris rendahnya derajat pekerjaan ukuran dunia. Toh semua hanya sebagai sarana menggapai rejeki yang berasal dari Sang Pencipta. Tentu si Bapak lebih Hebat dari si Anak.
Kemahiran seni seruling yang tak bisa aku dapatkan. Mungkin itu titisan. Karena hanya Bapak saja yang bisa memainkan alat musik suling bambu.
Pun solmisasi yang sudah tertanam di perasaannya. Perabaan nada 🎼 yang bisa jadi tanpa kursus atau sekolah sebelumnya. Pokoknya hebat lah, Bapaku.