Figur yang melengkapi tumbuhnya jiwa dan raga. “ngopo kuliah le..nek ujung ujunge kerjo kasar” tutur Bapaku. Meski nggak persis di hampir dua puluh tahun yang lalu kala terucap, namun pitutur itu yang menancap di memori pembentuk jiwaku.
Apa yang terjadi, dengan pitutur itu? Justru yang kulakukan mengambil dua universitas sekaligus berbarengan tantangan bapak untuk langsung bekerja.
Kurang lebih di tahun 2003, pitutur seorang bapak bagiku bukan ancaman atau larangan. Justru menjadi tantangan untuk bisa membuktikan, asal penuh kepercayaan diri. Selain dua kampus (IAIN Sunan Kali jaga dan FIB UGM Yogyakarta), aku jalani bekerja berkeliling dengan motor sebagai tukang roti.
Meski pada akhirnya, lepas sembilan bulan keterujian sakit fisik dengan opname di RSUD Sleman beberapa hari, telah menghentikan episode bekerja dan kuliah.