Ngompos, kompos, sampah

Kompos, 4 bulan yang lalu

Keringat pun membasahi tubuh, kalael meremas dan memasukkan daun kering ke composter bag. Pun otot meregang kala memilah sampah rumah  seperti plastik, kardus, duplek, botol minum, dan emberan di beberapa menit menjelang tidur.

Saya tak terlalu menghiraukan dampak perubahan iklim dari kesenangan bermain sampah. Sisa makanan itu kutempatkan pada ember khusus dimana setiap dua hari sekali aku timbun dengan tanah. 

Easy Grow Composter Bag

Daun-daun yang jatuh dari pohon depan rumah, kupungut satu per satu. Begitu juga daun dari pohon besar sebelah rumah yang jatuh terbawa angin ke area rumahku. Setelah memenuhi satu kantong plastik berukuran karung, aku pun mencampur dengan hasil ngompos sembilan bulan yang lalu. 

Aku juga tak terlalu peduli, manfaat apa dari ngompos dan memilah sampah. Apakah itu akan mengurangi beban tukang sampah. Ataukah menjadi pengurang beban Tempat Pengolahan Sampah (TPS). Atau nanti menjadi pupuk organik yang diminati tetangga. 

Bank Sampah VTB

Untung nya, lokasi simpan di sebelah bang sampah VTB, begitu memanjakan hiburanku. Composter bag dedaunan itu terlihat rapi. Beberapa kantong hasil panen, telah teraplikasi pada tanaman hias di mushola VTB. 

Nyatanya, ketertarikanku dengan sampah telah menghalau penatku. Bahkan menjadi penyulut keringat keluar dari tubuhku. Tentu menambah nyenyak ya tidur, bahkan menambah lahapnya makan. Tak sampai disitu, kadang memantik kemesraan bersama anak anak untuk mengobati pegalku. 

Kompos yang siap di remas remas

Kadang berfikir menawarkan diri merapikan sampah tetangga. Tapi itu memalukan, bukan kepadaku namun bisa jadi orang lain. Terlebih sampah menjadi sesuatu rahasia atau personalitas manusia.

Akhirnya, aku pun terantuk pada “Tak harus berpikiran jahat, dengan menilai orang lain atas sampah mereka”

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar