Ngompos

Aduh maaf pa, sy td blm sempat anterin sampah, niat bsk pagi baru mo di anter ke bank sampah, Jadi ga enak bapa sendiri yg ambil katanya ya” WA Usman Security di Jumat malam 20.14 WIB tanggal 16 Juli 2021. Tiga karung sampah daun hasil beberes fasilitas sosial di perumahan VTB tersebut menjadi bahan kerianganku. 

Ya…seperti biasanya, hobi merapikan lingkungan sekitar telah merambah ke pengolahan kompos. Kebetulan Jum’at sebelum tengah hari, telah asyik di sekitaran Mushola VTB. “Mbah Papa, kalo ada kompos, mau dong” Kalimat dari seorang tetangga yang terdengar jelas saat kau berada di pantry Mushola. 

Tanpa ragu, aku pun membawa seember hasil panen kompos. “ji ini komposnya, kalo mau nambah masih ada di pojokan” Kataku sembari menyodorkan hasil keriangan bersama sampah daun. Hari itu, aku berasa mendapat suntikan semangat lepas mendengar ucapan terimakasih dari tetangga yang berkenan memanfaatkan hasil ngompos.  

Terbakarnya semangat bertemu dengan kelonggaran waktu hingga lebih dari sepuluh karung berisi sampah daun hasil pembersihan rutin bulan Juli 2021, kuhabisi sebagai bahan ngompos.

Berbeda dengan bulan lalu, dimana kesempatan petugas sampah. Putusan Pengurus RT menyerah ke pendekar kebersihan (tukang sampah) menjadi langkah yang patut diapresiasi.

Sebelumnya, Pembiaran sampah lingkungan (bukan berasal dari dapur), menjadi bahan nabung/pembakaran liar oleh beberapa warga. Kini menjadi beban petugas sampah harian untuk turut mengangkut sampah hijau. Setidaknya, itu yang aku perhatikan. 

Mungkin itu fakta di bulan lalu. Untuk bulan ini, Juli 2021, aku berhasil mengamankan karung -karung berisi daun dan rumput hasil perapian fasos perumahan. Dedaunan dan rerumputan itu aku simpan ke dalam Composter bag. Selebihnya aku timbun di area fasos untuk mempercepat penguraian.

Meski berniat baik, nalarku menuntun diri pada kebijaksanaan. Bahwa hobi mengompos yang kujalani harus menampakkan kerapian lingkungan. Selain sesuai kemampuan, sesegera mungkin kulakukan sebelum nanti dibereskan oleh petugas sampah. 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar