
“Takbir, itu” Kata Yulius dengan menunjuk microphone. Dg nada sok sadar bencana kesehatan masyarakat (zona merah akibat virus) aku pun menjawab. “Takbir kan modalnya hanya mulut”
Tak lama kemudian, terdengar tanpa microphone lantunan takbir darinya. Aku pun menyusul melantunan takbir di hari Raya Idul Adha menjelang sholat. Begitu pula dengan enam orang sebelum Haji Anwari berdiri pada shaf terdepan.
Dari situ, nalarku menyentuh pemaknaan lantunan pujian Tuhan. Takbir di hari raya kurban demi menginisiasi jiwa atas kebesaran Tuhan tanpa ketergantungan alat seperti microphone.
Kembali terpantik kesadaran itu tatkala kambing telah digantung untuk dikuliti. “Ini sambil takbiran nih, ambil pengeras suaranya” kata Irwan. Kalimat itu menjadi bukti bahwa Syiar Islam melalui pengeras suara bisa jadi telah mendarah daging.
Sampai disini, nalarku tersudutkan bukan benar dan salah. Namun perspektif cara dan mendudukan kembali pengeras suara sebagai alat syiar. Bumbu dan semangat syiar bertemu dengan esensi lahiriah lantunan pujian Tuhan.
Lantunan takbir yang sebetulnya hanya berlisan, dikaburkan dengan keberadaan alat pengeras suara. Lagi lagi berkah pandemi kesehatan masyarakat menyibak pemaknaan kembali atas rutinitas kehambaan kepada Tuhan.
Akhirnya Kurban pada Selasa, 20 Juli 2021 sangat spesial. Pengikraran Sholat berjamaah dan simbolisme penyembelihan kambing di Mushola Al Ukhuwah VTB menyibak pertanyaan dalam hati. Apa ???
Pertanyakan pada hati, kenapa Lisan mudah memuji karena alat suara. Fisik tergerak karena keberjamaahan. Kurban karena sudah membudaya. Bahkan terfasilitasi sejak mencari hewan, penyembelihan, sampai pembagian.
Andai tanpa pengeras suara? Andai tiada keberjamahan?, andai belum membudaya?. Andai belum melembaga? Tentu tak mudah melantunkan pujian Tuhan, tak mudah praktik agama.







Satu pendapat untuk “Kurban”