Sripah lelayu

Sucen enek sripah eneh mas, Pak tatang, Sesek kentekan oksigen, di murangan” Tulis Ari adiku dari Sleman Yogyakarta. Kabar duka itu menambah rentetan kematian di kampung halamanku. “Mencekam” Kesanku sepeninggal tiga orang terakhir yang turut menyaksikan tumbuh kembangku di kampung. (Tukar, Tami, Mbah Minar) 

Kabar meninggalnya manusia di tahun 2021 ini memang cukup santer. Tak luput dua orang (mbah Minar dan Pak Tatang) persis di sebelah rumah Pak Wahono sebagai orang tuaku di Kampung Sucen Triharjo Sleman Yogyakarta. 

Kalo bukan mas nurul, siapa lagi yang akan menemani keislaman anak anak di Sucen” Kata Almarhum Tatang kepada bapaku kala aku memutuskan untuk merantau ke Jakarta di tahun 2007.

Itu kesan yang bertaut dalam memori kepalaku kala mendapat cerita Bapak. Persis di depan rumah, Pak Tatang menuai kesuksesan berjualan kerupuk hingga akhirnya diperjodohkan dengan anak juragan.

Sepeninggal istri(anak juragan) bisnisnya diteruskan bersama baby sister yang kemudian diperistri. Usaha berdagang yang meski tradisional, namun cukup melegendakan nama “Tatang Juragan Kerupuk “.selamat jalan pak Tatang.. 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Satu pendapat untuk “Sripah lelayu

Tinggalkan komentar