
“Gw harus sehat, karena harus bekerja untuk anak anak” Pengakuan Haji Tatang kepadaku. Pengakuan atas janji diri yang meneguhkan dapat terlepas dari masa kritis kala isolasi mandiri (isoman) Covid 19. Sempat merasa drop dengan bantuan oksigen, rekan kerja sekaligus penghiburku di hari kerja itu menceritakan pengalaman sebulan terakhir.Â
Kepolosan dan ketulusannya selalu mampir di kupingku. Kursi dan meja kerja yang persis di depanku, mencampuri internalisasiku atas isi seminar ESQ Matrix ala Ary Ginandjar sehari yang lalu. Pun celetuknya menjelang jamaah Dzuhur, “Kok orang yang tidak sholat dan beribadah, malah gak terkena Covid ya…”
Nalarku pun terseret antara “Kepastian” & Meaning Purpose ala ESQ matrik. Pilihan antara Kepastian telah hadir di diri Haji Tatang kala terhidar dari maut dan kembali sehat. Atau Haji Tatang mendapati puncak dari ESQ Matrix (red: Meaning Purpose) kala terlepas dari maut.
Namun, bagaimana dengan pendapatnya kala mengkorelasikan Sholat dan Ibadah dengan nasib terpapar Covid? Bukankah ibadah /keyakinan adalah puncak ESQ Matrix?
ESQ Matrix: sedari paling dasar adalah Kepastian, Tantangan, Eksistensi Diri, Cinta dan Relasi Perkembangan, Kontribusi,dan yang paling tinggi Meaning & Purpose.
Akhirnya, tulisan ini mencoba “otak atik gathuk“. Metodologi Jawa menuju kewarasan. Nyatanya, kewarasanku pun harus teruji kala menanggapi beberapa pernyataan yang terlontar dari lisan Haji Tatang.