Sepedaan Situ Jatijajar

Mendung tanpo udan, mengantar sepedaan ke arah Situ Jatijajar. “Lewat Poncol ya.. ” Celetuk pak Baderi setelah meng iyakan usulanku menjajal Situ dan Hutan Jatijajar. Meski hanya berdua, tak menyurutkan semangat sepedaan yang lebih dari empat puluhan kali.

Minggu 29 Agustus 202, setengah delapan pagi memposisikan di spot tujuan dengan satu jam tanpa pit stop. Jalan tanah baru, dewi sartika, kartini, dan berpuncak melintasi Thole Iskandar Depok sebelum akhirnya bertemu Jalan Raya Bogor.

Plakat bertuliskan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemerintah Rakyat menghentikan laju sepeda. Aku pun segera menyusuri Jalan pinggir Situ Jatijajar itu hingga persis berada di pinggiran Hutan Lindung Citarum Ciliwung.

Dalam naungan balai pengelolaan daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Citarum Ciliwung pada Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, peninggalan jalan setapak sebagai akses pejalan kaki memanjakan laki sepedaan hutan. 

Sampai disini, nalarku terantuk pada nama Ciliwung, Cisadane, Citarum sebagai nama wilayah yang cukup melegenda. Sebut saja ingatan pada film “pendekar Cisadane”. Atau nama Sungai yang menghiasi kalau banjir Ibukota yakni Sungai Ciliwung. 

Akhirnya, sepedaanku kali ini menjadi pengenalan daerah aliran sungai. Sebagaimana nama dua balai sebagai unit teknis pengelola urusan Sungai. Sekaligus mengenal dua numenklatur Direktorat Jenderal pada dua Kementerian yang berbeda, sumberdaya air dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung. 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar