Kelihaian Birokrat

Satu jam sambungan telepon pintar itu kuawali dengan kalimat permintaan maaf. “Maaf Pak, saya belom sempet lapor“. Anggukanku tertuju pada masalah dalam tata upacara berbirokrasi. Komunikasi massa yang perlu kutinjau lagi. Bisa jadi aku yang belum mengerti. “Saya tau, sutradara pada acara ini, tapi mbok ya diulang ulang dalam penyampaian laporan kepada atasan” ucap beliau dengan nada menyayangkan.

Prasangka yang dilayangkan kepadaku itu bisa jadi bentuk penghargaan level manajemen atas acara sarat keterhubungan relasi. Terlebih lintas unit organisasi sampai dengan instansi. Meski keterhubungan dari urusan rendahan, namun cukup mencuri perhatian pimpinan. 

Sampai disini, nalarku terhenti pada pemahamanku atas narasi. Ujian menarasikan dengan baik, benar dan tepat, belum mampu kugapai. Bahkan tatkala literasi yang kubanggakan dengan ribuan tulisan itu, hanya meninggalkan kesemrawutan diri. “Tolong Cek dan ricek kembali penyampaian informasi” Tambah beliau sambil mempertanyakan posisi unit kerja atas pembahasan yang telah melibatkan pihak eksternal. 

Sebetulnya saya sangat slow respon atas komunikasi kedinasan secara tertulis” Kata pembelaan diri yang keluar dari mulutku. Namun sambaran dalam logika diri telah melupakan logika tim. Adrenaline atas capaian kinerja pun hanya membatasi dua patokan. Pertama adalah kesediaan dari unit kerja terkait, dan kedua adalah naskah undangan yang telah disetujui. 

Kecakapan ini boleh saja dianggap melalaikan roda organisasi. Kebutuhan ilustrator penghubung manajemen, tak terdefinisikan secara longgar. 

Memangnya pendalaman tiap urusan yang berbeda, tidak memerlukan kepercayaan diri? Bisa jadi siapapun bakal meriang jika harus menghadapi urusan yang berbeda dari kecakapan sebelumnya. 

Akhirnya, penggalan cerita diatas mengantarkanku pada kelihaian birokrat dalam mengendalikan negara. Meski merasa salah langkah, cakrawala dalam mengawal profesi tak jua mengecilkan hati. Ada sisi batin yang mampu menghibur untuk terus menghargai setiap terjal yang ku hadapi. 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar