Peduli vs Belenggu Berokrasi

Om Nurul, karena ini mendadak klo di ulang lg lama lagi .Saya Pilih jenis naskah, harusnya pilihan jenis “Undangan”, jadi “Surat Dinas”, mas Maaf ya “pena seorang analis kepegawaian via telepon pintar. Pena yang menambatkan ketermenungku, internalisasi nilai ” Harmonis” (Nilai ASN) menjelang sore pada 13 September 2021.

Bernada sedikit kecewa, aku pun harus peduli dan, menghargai. Kepedulianku bernada permisif. Membolehkan pelanggaran kecil atas kaidah kearsipan yang mungkin terakumulasi dan mengancam keterpercayaan dan kehandalan arsip. 

Kepedulian ku pun bertalian dengan 🤔💭prasangka tanya. Kenapa harus bilang “lama“? Bukankah teknologi komunikasi telah menghadirkan sarana menuju budaya kerja cepat??? “Tulis pesan atau bunyikan telp nya, buka aplikasi, satu klik, beres” Pikirku.

Dari manakah aku dapat membenarkan kepedulian dan penghargaan kinerja sesama ASN yang berhadapan langsung dengan pelanggaran kaidah urusan pekerjaanku?

Mungkin aku akan mulai dari prasangka ku. Apakah manusia tak seharusnya bersahabat dengan teknologi??? Bertanya kah, bagaimana presisi para ASN atas keberadaan teknologi naskah kedinasan? Berterima kasihkah manusia dengan teknologi informasi dan komunikasi? 

Faktanya, teknologi telah menerobos pembatasan dari dampak kedaruratan kesehatan masyarakat COVID-19. Teknologi persuratan merupakan sarana mempertahankan kinerja layanan publik. Mudahnya telekomunikasi dan jaringan internet bahkan sampai dengan berbagai aplikasi berbasis android telah mampu mempermudah kehidupan.

Namun, belenggu pikiran manusia belum lepas dari bayangan birokrasi. Birokrasi yang kutafsiri golongan priyayi. Namun bisa jadi tafsirku salah, birokrasi bukan priyayi, tapi lebih mendasari kaidah proses bisnis yang ketat demi penjagaan norma. Pentingnya syariat sebelum ma’rifat , mungkin.. 

Akhirnya, nalarku pun tertambat pada pemaknaan kata harmonis. Semangat kepedulian menguak keengganan manusia untuk berusaha, mencoba, bertindak, bahkan bersemangat menerobos pemaknaan birokrasi. Bukan saja dari kata “lama“… Tapi belenggu komunikasi dari perihnya pengalaman. Hingga akhirnya mengubur ungkapan syukur dan terimakasih atas jariyah manuisa dengan adanya Teknologi Informasi dan Komunikasi

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar