Kolam Ikan

2 Desember 2017. Aplikasi Journey menginfokan ke aku tentang tulisan ku ini. 

Pagi ini, aku masih menggali untuk rencana kolam kedua di area fasos. Suara dentuman merapikan bekas tumpukan koral dan sampah mengusik respon dari tetangga sebelah (komplek sebelah) . Protes yg disampaikan cukup keras dan bernuansa emosi.

Suara bernada tinggi bermula dari seorang perempuan penghuni rumah di bawah tempat aku merapikan tanah. “mau dibuat apa” Tanya si perempuan. Respon yang menandakan protes kekhawatiran dan bercampur kemarahan. “bapak enggak tau, kalo dulu pernah jebol, karena dulunya dibuat kolam oleh VTB” tambah ibu itu kepadaku

Sembari naik, suaminya mendekati, dan menimpali , “kalo ditanami masih make sense, namun kalo dibuat kolam, tekanan nya akan tinggi dan menghancurkan lagi tembok,” dengan nada emosi.

Seru, dan aku tidak bisa menceritakan situasi emosi pada saat itu yang menggambarkan detil perasaan sepasang suami istri penghuni rumah sebelah. Katanya, mereka masih mencari hilmi, karena belom memberikan ganti rugi, terhadap kejadian bocornya tembok yg membanjiri rumah milik mereka.

Mereka begitu benci dengan orang inisial H, si pengembang, dan sampai hari itu masih befikir menuntut ganti rugi.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar