Sosialita Lingkungan

Kerajinan… terlalu rajin.…” Kata tetanggku ke istri. Ya… Aktivis libur kerja di komplek VTB menjadi arena sosialita lingkungan. Bahkan bukan dalam peran ketua RT, kenekatanku di aktivitas sosial membabi buta. Sejak menyapu, membersihkan dedaunan, mengolah kompos dan membuat saluran air, merawat taman, menanam ikan, menghidupkan pantry mushola menjadi keceriaanku.

Mengubur diri dengan aktivitas lingkungan seolah menjadi momok untuk warga yang lain. Bertambah lagi dengan masa pandemi dimana waktu ngantor semakin longgar. Menjadi jadi saja tingkah laku ku untuk lingkungan. Project kompos telah setahun kujalani, dan itu gagal. Merintis tanaman hias di mushola pun tiada hasil. Pun menanam ikan yang tak jarang mati setiap hari.

Apa sih yang akan aku dapet? Menuruti naluri yang jago kandang tak ada habisnya. Demi mengeluarkan keringat aku rela untuk memanjat pohon, mencangkul tanah, mengangkut dari fasos ke fasos lain. Pun tak jarang mengepel lantai, menyikat kamar mandi, mencabuti rumput, menanam pohon dan menebangnya.

Tahun 2022 telah memasuki bulan ketiga. Aku tinggal kan rumah pagi hari dan kembali sore hari. Semua demi foya foya dengan aktivitas keringat tanpa tujuan jelas. Menggali tanah, menimbun potongan rumput, memasukkan daun daun kering dalam komposter back.

Arena bermain ▶adalah VTB. Hanya beberapa blok rumah saja dengan puluhan orang. Jamaah sholat, ngopi di pantry, merokok, belajar tukang batu. Belom lagi beli mesin penggilingan daun. Aneh….

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar