Mudik itu apa?

Sejak 2010, atau 12 tahun yang lalu, aku menjalani istilah mudik lebaran. Bus angkutan mudik yang disediakan oleh kementerian ESDM. Berburu tiket kereta api pun pernah kujalani. Terngiang harga perjalanan dengan rel dan gerbong yang ditarik lokomotif, melonjak ketimbang hari biasanya.

Pun moda pesawat terbang dengan low cost setelah memiliki anak berumuran bayi. Tol cikopo palimanan yang masih gres kulalui waktu mudik di tahun 2016. Lanjut tahun tahun berikut nya setelah jalan tol trans Jawa. Sejak berkeluarga, moda transportasi kendaraan pribadi mendominasi acara mudik.

Mulai jalur purwokerto, dari exit pejagan di masa mudik perdana via veloz. Atau jalan tol sementara dengan incaran gerbang elok, via Weleri untuk menuju ke Yogyakarta. Pun di tahun 2022 dimana telah melalui mudik selama 10 kali. Vakum mudik di tahun 2019 dan 2021 dampak pandemi covid 19.

Apa yang dilakukan sewaktu mudik? Rasa apa yang muncul tatkala mudik? Rangkaian ingatan mudik diatas mengantarku bermalam di Java village resort. Di malam kedua, deluxe balcony merangkai kata meninggalkan ingatan demi cerita. Sudut pandang berbeda menyelami mudik lepas dari rumah mertua indah.

Dari sini, kudapati khayal, jika kaum urban itu cenderung mengharap undangan untuk kembali bersosialisasi dengan warga yang telah lama ditinggalkan. Undangan, mungkin itu yang akan menerobos kekakauan nostalgia kampung halaman. Kisah klasik semasa kecil, mungkin menjadi wisata yang menarik disela sela waktu mudik.

Bisa jadi Ide adalah kumpulan kampung. Semacam forum gitu, ada ajang makan bersama atau pengenalan kembali seperti sawah sebagai arena bermain layangan, atau ajang ngarit bersama, mencari jangkrik, dan otor bedian.

Yang paling memungkinkan adalah perhelatan panitia zakat sampai pembagian, atau bisa jadi pengajian berbuka diakhiri dengan takbir keliling? Setidaknya berbuka puasa dengan keluarga di satu rumah anggota keluarga inti. Seperti tahun 2022 ini, Bantul, Jabung, Sucen (di rumah lek preh).

Atmosfir mudik atau pulang kampung sewaktu lebaran memerlukan gelaran yang menghadirkan nuansa tempo dulu. Ini adalah keinginan ku. Yang sampai malam keempat ini tak mampu kulalui. Karena masih berkutat di rumah mertua, rumah orang tua, dan rumah kerabat. Nuansa sosialita tempo dulu bahkan tak satupun kudapati.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar