20 tahun yang lalu, perempuan hebat dan sangat berjasa meninggalkan dunia. Perempuan hebat itu perpanjangan tangan Tuhan yang telah melindungi ku dari segala mara bahaya. Bahkan yang mengukir jiwa dan ragaku. Namanya Romilah, anak perempuan dari Bapak Harto Wiyono dan Ibu Umi.
Dari perempuan ini, aku tumbuh dan mampu meniti hidup di dunia. Perempuan yang tak pernah jera untuk bekerja untuk menghidupi keluarga. Tak heran, berboncengan naik sepeda ribuan meter hanya untuk mendapatkan nomor peserta didik dari Murangan ke Banyurejo.
Ibu yang ku panggil “Ma’e” adalah orang pertama kali mengabarkan ku bahwa namaku tertulis di surat kabar, diterima di pendidikan UGM. Bahkan tak hanya itu, memberikan duit dua juta untuk membayar ongkos mengenyam bangku kuliah. Meski waktu itu aku sudah terdaftar di UIN Suka Yogyakarta.
Pada 20 tahun yang lalu, kurang lebih sebelum bulan syawal 2002, aku hanya mampu memberikan pijatan di ruang rumah sakit murangan selama tiga minggu, berlanjut seminggu di panti rapih. Takdir Tuhan begitu Indah dan mempesona, hingga terpendam rasa sayang dari anak kepada Ibunya.
Bhakti anak kepada Ibunya, tak sanggup menjalar hingga saat ini. Hanya kenangan indah yang selalu membayangiku. Hingga di hari Senin, 2 Mei 2022 terbersit untuk menyediakan air mineral kemasan yang kuniatkan sedekah untuk alm. romilah bin Harto Wiyono. Meski hanya dalam niatan dan khayalku.
Pun tatkala terjadi pertemuan di keluarga ibu. Ada kesempatan untuk menyampaikan kata demi kata di hadapan kakak dan adik dari keluarga mbah Harto. “Aku bilang ke Ari Adik saya, meski Ma’e telah tiada di dunia, namun Tuh nya terus memantau keturunannya di dunia” Ujarku.
Setidaknya itu kalimat untuk membela rasa sayangku kepada Ma’e yang belum sempat menikmati hasil perjuangan membesarkanku. Tak ada kiriman rutin yang kuyakini sebagai sumber terang di alam kubur itu. Selain doa Ya Allah Ampuni lah segala kesalahan kedua orang tua saya, sayangilaj Ibu saya sebagaimana Ma’e menyayangiku di waktu kecil.