Ke Sleman

Kembali ke Rest Area 429, sedikit mlipir dari agenda ke Cilacap yang seharusnya telah terhenti di gerbang Tol Pejagan KM 240 an. Dengan nalar penuh resiko menyelipkan agenda menemui adik yang telah melahirkan bayinya. Kebetulan agenda Cilacap memang mundur dari jadwal 25 ke 28 November 2022.

Di Rest Area 102, dua potong ayam dan sebungkus kentang goreng menjadi pengisi perut ketiga bocah yang terpaksa harus mengikuti orang tuanya demi menjaga ikatan kekeluargaan. Laju B1171EOK terhenti di KM 318 untuk segelas kopi hitam seharga delapan ribu rupiah untuk sela kantuk.

Tujuan akhir gerbang Bawen pun terlewatkan sampai pada gerbang tol Boyolali di KM 480 an. Perjalanan malam berkendara bersama keluarga kecilku, berdurasi lebih dari 12 jam. Lepas sholat Ashar di Mushola Al Ukhuwah Villa Tanah Baru, sampai di Sucen Triharjo Sleman jam 5 pagi.

Bubur gudeg di Jalan Monjali dengan lauk sayap ayam kampung mengawal kehangatan berkengkerama atas kedatangan jabang bayi yang diberikan nama Chika. Tak lama desakan rasa kantuk berhasil menenggelamkan tubuhku di lautan kapuk. Tidur berasa di setengah jalan karena ajakan Dipta ke rumah Kakung di Jabung.

Sampai disini, rangkaian kata kata ini demi meninggalkan memori kembali ke Sleman. Akhir pekan berada di daerah istimewa. Rasa pun menggelinjang untuk perjalanan tugas kantor ke Cilacap esok hari di Minggu 27 November 2022. Pasalnya, cap dan tanda tangan pada blangko yang aku cetak di toko fotokopi akan menentukan nilaiku.

Sama halnya nilai yang aku kumpulkan di episode Bantil 16-18 November 2022. Dua kali di bulan November untuk kembali ke Sleman Yogyakarta.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar