
Yang berlalu bukanlah beban masa kini, lepaskan!!!, kerjakan saja dengan sebaiknya, pesan mengendap di otaku tatkala sosok pimpinan, Dirjen Migas, Laode Sulaeman memberikan sambutannya pada acara Gathering Sekretariat Ditjen Migas, di Bandung pada Sabtu 20 Desember 2025
Ibaratnya “Sebotol air mineral satu liter, kita tenteng kemana mana perginya, tentu berat”, timpal Pejabat Tinggi Madya Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Ke-18 di depan ASN di unit sekretariat. Masing-masing pegawai, pun tiap organisasi, unit kerja, bahkan di dalam tim kerja telah melewati masa yang tidak akan mungkin kembali dan melawannya.
Sang komandan instansi Regulator dan pengawas urusan sub sektor Minyak dan Gas Bumi di Indonesia itu telah merengkuh spektrum psikologis kolektif individu pegawai dan organisasi guna menjawab tantangan dengan merajut kebersamaan demi target capaian kinerja tahun depan.
Tak hanya sampai di acara Gatehring yang memang berada pada team buliding, Laode selaku Dirjen Migas yang dilantik oleh Menteri ESDM pada 29 Agustus 2025 pun mengunjungi ruang arsip. (sumber: https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/lantik-laode-sulaeman-jadi-dirjen-migas-ini-tugas-utamanya#:~:text=JAKARTA%20%2D%20Menteri%20Energi%20dan%20Sumber,Jumat%20(29%2F8). )
“Saya kira yang tidak pernah berhenti kerja adalah tim arsiparis Ditjen Migas“ kata Bapak Laode dihadapanku saat menyambangi Terumbu Karang Migas berada di Lantai 4 Gedung Ibnu Sutowo pada hari Rabu, 24 Desember 2025.
Selaku Arsiparis, saya pun berkesempatan menyampaikan kondisi lautan kertas yang menggumpal sejak Ditjen Migas menempati Gedung Perkantoran di Kuningan Jakarta Selatan atau sejak tahun 2001/2002. Koleksi Rekaman Kegiatan yang melimpah ruah terutama dengan Proyek Strategis Nasional di sebelas tahun terakhir yakni Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas.
Pesan Bapak Laode yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas adalah “setiap orang memerlukan pekerjaan sebagai sarana ibadah” disampaikan langsung kepada tujuh orang pekerja arsip. “Kalian harus tetap semangat ya, tambah nya!!!.
Pesan itu menuntun hipotesaku bahwa secara alamiah semangat pegawai dalam bekerja akan memantik perhatian pimpinan. Bisa jadi salah satunya adalah terkait kesejahteraan pegawai. “Pesan apa lagi pak, selain kita harus bersemangat bekerja” tanyaku yang begitu bahagia menerima kedatangan pimpinan di ruang arsip migas.
“Yang saya akan terus pikirkan adalah kesejahteraan” Jawab salah satu pimpinan otoritas migas di Indonesia itu.
DUAAR!!!! Meledak di otak dan mengempaskan rasa – rasa malu. Mengapa?
Ditengah kondisi ledakan kearsipan yang tidak bisa kita kendalikan, dan keadaan yang terendam lautan arsip, merasa diri dalam kebisuan data ditengah tengah sumber data, serta ketidaksanggupan penguasaan teknologi Artificial Intelegensi (AI), Pimpinan masih saja memikirkan kesejahteraan buat kami selaku pekerja Arsip.
Apa yang harus kami lakukan guna berterimakasih????? Apakah memang Terumbu Karang yang saya ibaratkan dari keberadaan ruang dan tim kerja arsip arsiapris dalam peran penjaga keseimbangan organisasi, harus diberikan kesejahteraan????