Soto Kuning Khas Bogor

Bogor, 8 September 2021. Sambutan senja dengan sisa sisa hujan mengantarkanku mengenal soto kuning. Hidangan khas kota hujan ini telah menenangkan perut. “Surya Kencana” Ujar Haji Tatang kepada driver Hiace Rudy. Tak berapa lama, rombongan pun mendarat di warung sederhana yang mengadap jalan pas untuk terparkirnya mobil. 

Daging dan kikil, campur, daging aja, nasi separo” Kata – kata teman sekantor bersebelas (Aku, mulyanto, tatang, Rudy, kasmari, gondo, catur, Ella, reza, teguh, avis). Soto kuning khas bogor itu telah mengantar bermalam di Sahira Butik. Kali pertama di pinggiran jalan yang tak jauh dari Kebun Raya dan Istana Bogor, mengisi wisata kuliner. 

Kelihaian Birokrat

Satu jam sambungan telepon pintar itu kuawali dengan kalimat permintaan maaf. “Maaf Pak, saya belom sempet lapor“. Anggukanku tertuju pada masalah dalam tata upacara berbirokrasi. Komunikasi massa yang perlu kutinjau lagi. Bisa jadi aku yang belum mengerti. “Saya tau, sutradara pada acara ini, tapi mbok ya diulang ulang dalam penyampaian laporan kepada atasan” ucap beliau dengan nada menyayangkan.

Prasangka yang dilayangkan kepadaku itu bisa jadi bentuk penghargaan level manajemen atas acara sarat keterhubungan relasi. Terlebih lintas unit organisasi sampai dengan instansi. Meski keterhubungan dari urusan rendahan, namun cukup mencuri perhatian pimpinan. 

Sampai disini, nalarku terhenti pada pemahamanku atas narasi. Ujian menarasikan dengan baik, benar dan tepat, belum mampu kugapai. Bahkan tatkala literasi yang kubanggakan dengan ribuan tulisan itu, hanya meninggalkan kesemrawutan diri. “Tolong Cek dan ricek kembali penyampaian informasi” Tambah beliau sambil mempertanyakan posisi unit kerja atas pembahasan yang telah melibatkan pihak eksternal. 

Sebetulnya saya sangat slow respon atas komunikasi kedinasan secara tertulis” Kata pembelaan diri yang keluar dari mulutku. Namun sambaran dalam logika diri telah melupakan logika tim. Adrenaline atas capaian kinerja pun hanya membatasi dua patokan. Pertama adalah kesediaan dari unit kerja terkait, dan kedua adalah naskah undangan yang telah disetujui. 

Kecakapan ini boleh saja dianggap melalaikan roda organisasi. Kebutuhan ilustrator penghubung manajemen, tak terdefinisikan secara longgar. 

Memangnya pendalaman tiap urusan yang berbeda, tidak memerlukan kepercayaan diri? Bisa jadi siapapun bakal meriang jika harus menghadapi urusan yang berbeda dari kecakapan sebelumnya. 

Akhirnya, penggalan cerita diatas mengantarkanku pada kelihaian birokrat dalam mengendalikan negara. Meski merasa salah langkah, cakrawala dalam mengawal profesi tak jua mengecilkan hati. Ada sisi batin yang mampu menghibur untuk terus menghargai setiap terjal yang ku hadapi. 

Sleman lagi…

Jabong Desa Trimulyo, Sucen Desa Triharjo, Ndemi Desa Sariharjo dalam putaran roda dan terparkirnya kendaraan. Kedua di 2021, pulang ke Sleman Yogyakarta. 

Potongan kertas bertotal 384 ribu untuk cikampek Utama (20K) Palimanan (107,5 K) , Kalikangkung (238,5K)dan Bawen (18K), fokus ngiras ngurus wawancara ke Purworejo. Kertas kecil bukti tebusan lintas Jalan Bebas hambatan Trans Jawa itu, pertanda harapan rembes desiminasi 300 pembaca dari secuil peran pada area budaya. 

Pun untuk pertamax senilai 600 ribu pada empat SPBU. Japex KM 19 (300K), Jalan Ambarawa Magelang (100K) dan terakhir di pinggir jalan Brigjen Katamso Purworejo Jateng (200K). Bahan bakar dan tol yang mendekati satu juta menjadi ongkos perjalananku kembali ke kampung halaman dengan kendaraan darat (mobil). 

Ongkos pokok yang belum termasuk jajan, tips parkir, maupun untuk para pengamen di jalanan. “Untuk makan gemana itu” Kata temen di kampungku saat bertemu. Aku tak memikirkan berapa rupiah sebagai pengisi perut. Bekerja di luar kota dengan diiringi keluarga, teristimewa bagiku. 

Kamis malam, tanggal 2 September berteduh di Jabong. Lanjut 3 September pagi menuju Purworejo dan bermalam di Sucen. 4 September menyusuri jalan imogiri menuju Ndemi – Sucen – Jabong. 5 September pun meluncur ke Jakarta. 

Sepedaan Ngesempe

17,7 kilo meter setiap hari. Menginjak umur 12 tahun, kunaiki sepeda 🚲 menuju ke sekolah🏫. Enam kali dalam seminggu, belum jika ada ekstra kurikuler “pramuka“. Sepeda 🚴 BMX dan Federal, tersemat dalam memori sarana transportasi sebelum adanya angkutan perdesaan (angkudes). 

Sabtu, 4 September 2021 adalah waktuku untuk napak tilas. Sepedaan Ngesempe, gowes menyusuri kenangan Sekolah 🎒 Menengah Pertama. Memori kala remaja, sehari hari bersepeda demi menghadiri belajar 📚✏ mengajar di kelas. Sepedaan untuk menemui guru 👳🔮 dan teman 👬 teman sebaya. 

Dari sudut Yogyakarta, Kabupaten Sleman, terpisah dua kecamatan. Antara Kecamatan Sleman dengan Kecamatan Tempel. Disiitulah terpisah jarak 17,7 kilo meter demi secarik ijazah. Pengantar babak menengah atas di masa remaja.

Akhirnya, sepedaan Ngesempe menjadi sarana kewarasan. Mengulang memori demi merasa diri ditempa dan menghargai rasa perjuangan. Demi sekolah, jauhnya perjalanan dari rumah tak menjadi halangan.

Kuliner malam, Bakmi 

Bakmi Sleman ya….Mbah Dumuk. Jalan Magelang No.12 Sleman 55511. Teringat sewaktu mengelandang Calon Direktur dan Calon Kasubdit di Migas kala itu. 

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/12/19/warung-bakmi-jogja-mbah-ndumuk/

Mbah Ndumuk yuk” Ajak Bapak menjelang jam 10 malam. Kebetulan, Jumat 3 September 2021 aku menginap di Sucen. Tak berapa lama mengiyakan ajakan bapak, aku pun memilih Bakmi Goreng. 

Jarak warung yang tak sampai lima menit, tujuan favorit kala longgar lambung perut di tengah malam. Pemandangan ibu2 dibalik etalase dengan ayam tergantung itu cukup khas sebelum hidangan datang. 

Akhirnya, setelah enam bulan lalu (Februari 2021) aku dapat kembali datang di warung Bakmi mbah Dumuk. Destinasi kesetiaan puluhan tahun lalu, penyaji makanan yang hanya buka sejak sore hingga dini hari. 

Rosa, Arsiparis Terbaik 2021

Sangat Layak, gelar Arsiparis Teladan Nasional Pertama 2021. Rosa Delima Nila Kusumawardhani Arsiparis Kabupaten Purworejo mengungkap begitu bermaknanya kearsipan. Buku kudu’ pun merinding, padahal kuping yang menerima penjelasan darinya. 

Berubahnya Hari Jadi Kabupaten Purworejo mendasarkan penelusuran arsip Bagelen” aku Rosa Delima, dari kontribusinya sebagai arsiparis kepada instansinya.

Baginya, kearsipan bukan sekedar metodologi menata dan menyimpan arsip, namun menjaga informasi bernilai tinggi sebagai warisan budaya. Penelusuran sejarah lisan yang dia lakukan sedari Keluarga Jenderal besar Ahmad Yani, WR Supratman, Letjen Sarwo Edi dan mantan Bupati dan DPRD telah menguak luasnya pandangan kearsipan. 

Pernyataan inspiratif dari arsiparis diatas seolah menjadi oase penjagaan jati diri Kabupaten Purworejo, tanah yang bersejarah untuk Indonesia. Tanah kelahiran tokoh tokoh nasional seperti Jenderal besar Ahmad Yani, WR Supratman, Mas Bei radiman (pengajar sekolah Kedokteran Stovia Jakarta) Urip Sumoharjo (Kepala Staf TNI pertama) sampai Letnan Jenderal Sarwo Edhi Wibowo,

Inilah tulisan ku, dua jam bersama alumni D3 Kearsipan UGM. Dari Jakarta, aku sengaja menuju ke Depot Arsip Kabupaten Purworejo demi menjawab tanya prestasi arsiparis nasional. Jumat, 3 September 2021 menjadi saksi aura keteladanan seorang perempuan dalam penjagaan warisan bangsa melalui informasi kearsipan. 

Lepas selesai pendidikan di tahun 2001, semangat dalam berkerja dia lakuin. Sebelum menjadi calon arsiparis di tahun 2010, organisasi Perbankan dan Perusahaan Pemasaran Multinasional ia jabani demi pembuktian teori kearsipan kalau di bangku sekolah. 

Rosa pun mengaku sempat merasa shock, bahkan berteriak lantang atas keterbatasan kondisi atmosfir dunia kerja pada Lembaga Kearsipan Daerah (LKD). Meski demikian, Rosa yang terdidik dari keluarga Tentara, berhasil menyelesaikan ratusan proposal Arsip Masuk Desa yang dibebankan pada instansinya.

Adalah semangat penjagaan warisan dan jati diri melalui informasi yang bernilai tinggi pada level masyarakat terendah (desa), menyulut dedikasi demi perjuangan pembeayaan kearsipan di awal peran seorang Rosa sebagai arsiparis. 

Pertemuanku dengan sosok Arsiparis perempuan yang tangguh ini berawal di tahun 2016 pada ajang Arsiparis Teladan Nasional. Berada di peringkat Harapan kedua, Rosa yang telah mengemas karya “pengawasan kearsipan kolaborasi LKD dan Inpektorat” urung menemui kesempatan terbaiknya. 

Bahkan pengawasan kearsipan yang gaungnya menasioanal saat ini, di Kabupaten Purworejo telah dituangkan dalam Peraturan Daerah sebelum tahun 2015” Ucap Rosa untuk mengenang konstestasi arsiparis tingkat nasional, dimana Kabupaten Purworejo selalu mendapat jatah rutin untuk mewakili Provinsi Jawa Tengah. 

Kemudian, datanglah pengakuan Teladan terbaik di tahun ini. 2021 menjadi keberuntungan dan kesempatan terbaik untuk Rosa. Berada di jejang keahlian, kompetensi sebagai ASN pada Jabatan Fungsional Arsiparis, ditunjukkan dengan mengemas karya mengkaitkan tema transformasi digital dengan kondisi nasional pandemi covid 19 di Kabupaten Purworejo.

Akhirnya, ceritaku diatas dari wawancara bersama Sang Juara (Teladan Nasional) pun terputus dengan bunyi adzan. Masih buanyak hal menarik lainnya, yang mungkin perlu kita gali di komunitas kearsipan. Termasuk dengan Rosa Delima Nila Kusumawardhani.

Kearsipan yang baik akan menghasilkan guru, kalo berada dalam urusan pendidikan, kearsipan akan menjadikan wartawan, kalo berfokus pada pemberitaan, kearsipan mencipta sejarahwan, karena berada pada rekam jejak tokoh nasional, bahkan kearsipan juga dapat menginisiai hiburan, dengan adanya wisata informasi bernilai tinggi” Quote Rosa Arsiparis Teladan Nasional Terbaik 2021.

Sepedaan 1.452 KM

1000 Kilo meter, capaianku bersama Ternyata Link D8. Enggak tau sampai kapan kemesraan ku dengan sepeda ini. Yang terang, belum lunas kubayar untuk harga yang disodorkan temen kantor. 

Lima puluh kali turun gowes, baik menajukkan diri sepedaan (hiburan) dan ngepit (ngantor) telah menembus total 1.421 Kilometer. 13 kali ngepit untuk sarana transportasi ke kantor sejak 31 Desember 2019 dan semakin aktif di masa PPKM Pandemi COVID-19🦠😷. 

Bersama Komunitas kecil tingkat RT “Roda Vit” Dengan 36 kali sejak Juni 2020 dan sekali reunian. Berikut hari dimana aku mengolahragakan diri dengan sepeda : 17 Agustus, kaos roda Vit merah: 10 +18 Agustus 2021, ngantor ke 7 +19 Agustus 2021, ngantor ke 8, +22 Agustus 2021; danau Cisawang: 52, +24 Agustus, ngantor 9, +25 Agustus, ngantor 10, +29 Agustus 2021, situ jatijajar : 28,5, +30 Agustus 2021, ngantor 11, +31 Agustus, ngantor 12

Akhirnya, catatan ini akan menjadi pengingatku untuk jarak tempuh 1.452 kilometer dengan 50 kali turun sepedaan. Bersiap untuk ribuan kilometer lagi sampai aku bosen bersepeda. 

Klinik Virtual Migas ke8

Masukan atau input yang di proses menjadi keluaran atau output perlu dipahami oleh pengelola rekaman kegiatan. Siapakah pengelola rekaman kegiatan itu? Adalah pegawai yang menangani urusan dukungan administrasi pada suatu unit kerja. 

Ya…umumnya, staf admin pada direktorat yang berada ruang kerja koordinator (dulu disebut dengan Sub Direktorat). Selain itu juga pada Staf sekretariat pimpinan tinggi. Biasa disebut dengan sekretaris, yang dituangkan dalam SK Pramu Kantor. 

Sampai disini, penyebutan staf admin atau sekretaris pimpinan sebetulnya merupakan nomenklatur jabatan “Pramu Kantor”. Dalam tugas pramu Kantor ini, rekaman kegiatan tercatat dan terdokumentasi dalam format database atau aplikasi persuratan. 

Dulu sih disebut dengan agenda surat masuk dan surat keluar. Di era transformasi digital, maka dapat disebut agenda elektronik. Namun demikian, pemahaman sarana agenda elektronik akan bergeser ke aplikasi naskah dinas elektronik. 

Dari uraian diatas, mengantarkan tulisan ini untuk menggambarkan forum belajar bareng yang diberikan nama “Klinik Virtual Arsip Migas”. Terhitung sejak tanggal 27 Agustus 2021, terselenggara forum yang menggaet staf admin, sekretaris pimpinan (pramu Kantor) melalui zoom meet. 

1 September 2021 adalah kali ke sembilan. Tak kurang dari 20 sampai 70 peserta setiap hari nya. Topik yang berganti tiap harinya memantik diskusi. Sebut saja untuk topik hari Senin, 31 Agustus 2021 yakni Output Kerja Kearsipan. Bahwa pemahaman input yang di proses menghasilkan output, akan berguna untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan perkantoran. 

Kita tahu bersama, bahwa proses bisnis level 0 di kearsipan terdiri dari empat tahapan yakni penciptaan, penggunaan, pemeliharaan, dan penyusutan. Semudah itu proses bisnis kearsipan menuntut pekerjaan. Apa output penciptaan arsip? Adalah naskah dinas dan dokumentasinya. Ada berapa dokumentasi penciptaan arsip, yakni register surat masuk, register disposisi, riwayat disposisi, register surat keluar. 

Dari output tersebut perlu melirii proses bisnis level 1. Bagaimana proses bisnis register surat masuk, dan bagaimana proses bisnis penomoran surat keluar atau registernya. Dan seterusnya

Akhirnya, tulisan ini hanya menjadi ceritaku untuk terus membina Klinik Virtual Migas demi peningkatan wawasan staf admin. Semoga menjadi bekal dalam menuju kearsipan yang lebih sempurna. 

Arsip, terupdate

Selain autentik, dan terjamin tingkat keterpercayaan, arsip pun perlu pembaharuan. Sebagai sumber pembuktian administrasi, Arsip memerlukan pembaharuan. Setidaknya sesuai dengan kondisi terbaru saat ini. Misalnya, arsip sertifikat diklat dari aktivitas pembinaan kepegawaian. Pembaharuan bisa bermakna lebih tinggi dari jenjang diklat sebelumnya. 

Kriteria isi arsip dalam kegiatan diklat seperti jumlah jam pelajaran, awal dan akhir waktu pelaksanaan diklat, nomor sertifikat diklat dan lembaga penyelenggara diklat menjadi hal penting terkait tingkat kepercayaan dokumen sertifikat diklat. 

Sedangkan pembaharuan arsip kepegawaian berupa penetapan pegawai yang dituangkan dalam SK CPNS dan SK PNS memerlukan data dukung berupa Sertifikat Lulus Diklat Prajabatan. Isi arsip berupa nomor sertifikat atau STTPL dan tanggal diterbitkan sertifikat memperkuat keterpercayaan data pengangkatan PNS. 

Sepedaan Situ Jatijajar

Mendung tanpo udan, mengantar sepedaan ke arah Situ Jatijajar. “Lewat Poncol ya.. ” Celetuk pak Baderi setelah meng iyakan usulanku menjajal Situ dan Hutan Jatijajar. Meski hanya berdua, tak menyurutkan semangat sepedaan yang lebih dari empat puluhan kali.

Minggu 29 Agustus 202, setengah delapan pagi memposisikan di spot tujuan dengan satu jam tanpa pit stop. Jalan tanah baru, dewi sartika, kartini, dan berpuncak melintasi Thole Iskandar Depok sebelum akhirnya bertemu Jalan Raya Bogor.

Plakat bertuliskan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemerintah Rakyat menghentikan laju sepeda. Aku pun segera menyusuri Jalan pinggir Situ Jatijajar itu hingga persis berada di pinggiran Hutan Lindung Citarum Ciliwung.

Dalam naungan balai pengelolaan daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Citarum Ciliwung pada Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, peninggalan jalan setapak sebagai akses pejalan kaki memanjakan laki sepedaan hutan. 

Sampai disini, nalarku terantuk pada nama Ciliwung, Cisadane, Citarum sebagai nama wilayah yang cukup melegenda. Sebut saja ingatan pada film “pendekar Cisadane”. Atau nama Sungai yang menghiasi kalau banjir Ibukota yakni Sungai Ciliwung. 

Akhirnya, sepedaanku kali ini menjadi pengenalan daerah aliran sungai. Sebagaimana nama dua balai sebagai unit teknis pengelola urusan Sungai. Sekaligus mengenal dua numenklatur Direktorat Jenderal pada dua Kementerian yang berbeda, sumberdaya air dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung.