Soto Kadipiro

Berkembangnya Kota Pelajar ke Kota Kuliner semakin tertangkap mata. Legenda makanan berkuah sebutan Soto, bisa jadi bukan hanya di Jalan Wates saja, namun warung dengan Plakat Kadipiro, Kadipiro Baru, Kadipiro Plus, dan Kadipiro II, cukup menjadi mengandung magnet bagi pelancong di Yogyakarta. 

Beberapa kali mendatangi warung ini, aku pun harus mengarsipkan melalui untaian kata demi kata. “ciri khas soto disini ialah potongan kubis, kotak kotak” kata istriku setelah menghabiskan satu setengah mangkuk. Potongan ayam kampung dengan kucuran kecap Sarico dan sambal tomat cukup menghangatkan perut. 

Akhirnya, pelajaran hebatnya makan atawa yang umum dengan sebutan kuliner membukakan mataku menggapai rejeki disela kepulanganku ke Sleman. Bukan saja di pemilik warung dan para pramu saji, tukang parkir pun kebanjiran rejeki di saat libur panjang seperti awal April 2021. 

Gerabah, Kasongan Bantul

Bahkan tanah liat pun di kepal terbentuk menjadi kerajinan seperti pot tanaman, hiasan taman, peralatan dapur, vas bunga, dan barang unik lainnya untuk diperjual belikan. Memaknai kebesaran Ilahi dari keuletan manusia beserta alam, dari Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya sentra kerajinan Kasongan. 

Kini, sentra Kasongan bukan sekedar kerajinan tanah liat, namun telah menyasar ke berbagai hasil alam seperti kayu, bambu, tanaman kering, pasir dan seterusnya. Akhirnya, tulisan ini hanya akan menjadi dokumentasi kedatanganku di seputaran Kasongan pada hari Sabtu, 3 April 2021 mengantar istri. 

Sate Pak Pong

Tujuan utama wisata kuliner jogja. Ramai parkir kendaraan di depan warung, memaksa aku membanting stir. Tepat di area kepulan asap perapian sate, tukang parkir berseragam biru meniup peluitnya. Tak lama duduk pada area lesehan, datanglah mbak dengan kalimat “antri tunggu 45 menit sampai satu jam” 

Woow banget, sempat terhenyak dari duduk untuk meninggalkan warung sate Pak Pong 3 ini. Namun, sesaat tersadar rencana kuliner yang disampaikan istri sebelum kepulanganku ke Sleman. Kebetulan, akhir akhir ini hobi masak daging. 

Akhirnya, di Jalan Imogiri No. 16 Sudimoro Timbulharjo Sewon Bantul, terdampar ramai ya wisata kuliner. Pesan saja, kalo tidak punya waktu luang, jangan coba coba deh datangi warung ini di tanggal merah. Janji sejam nunggu, molor juga😅😅

Menu : Tongseng Ayam, Gulai Ayam, Nasi Goreng Ayam, Tengkleng Rica Ayam, tongseng kepala, kronyos goreng, Gulai babat, Gulai daging, nasi goreng kambing, kicik, tongseng daging, Tengkleng, sate biasa, sate klathak, 

Sleman Lagi

Galau pun tumpas dengan perjalanan ke Kampung Kelahiran. Akhir dari kegalauan, terobati dengan 12 jam menuju Sleman. Persis di dua tahun lalu (2019), 👇 https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/04/08/ke-sleman-lagi/?preview=true

Tiada liburan jika tidak ke Sleman. Bagiku, ke Sleman bisa lebih dari liburan. Beranjak dari Sleman, kembali merestart eksistensi dari segala kegaduhan di dunia. “perasaan baper pun sirna” pungkas ku. Karena dari Sleman, diri ini bukan siapa siapa, dan tidak berpunya apa apa. Tiada berpantas merasa kehilangan bahkan dibilang mengalami kerugian, itu karena kukembalikan pada jiwaku saat berada di kampung kelahiran yakni Sleman. 

Insan Kearsipan pada Memori Kolektif

Saya menuntut peran Insan Kearsipan dalam penjagaan memori kolektif” tutur Pakar Kearsipan sekaligus Dosen UGM, Bapak Machmoed Effendhie. Disampaikan pada Webinar FORSIPAGAMA (forumnya arsiparis di lingkungan UGM Yogyakarta) pada Rabu, 31 Maret 2021.

Tak heran, pasalnya peserta diskusi dalam jaringan (Daring) Google Meet yang disuport oleh Pusat Arsip UGM Yogyakarta tersebut, diikuti puluhan mantan mahasiswa didikan Bapak Machmoed yabg kini berprofesi sebagai arsiparis

Pun dalam memoriku, Kaprodi Diploma III Kearsipan yang saat ini menjadi D IV pernah diampunya setidaknya selama masa kuliahku di tahun 2002-2005. Terakhir mendengar diksi kalimat dari beliau di Tahun 2012 saat seminar Offline, garapan Himpunan Mahasiswa DIII Kearsipan UGM Yogyakarta.

Baca juga http://nurulmuhamad.blogspot.com/2013/01/perkembangan-paradigma-kearsipan-di.html?m=1

Akhirnya, tulisan ini menjadi bagian kisah diri mengenal kearsipan, satu diantara nya bersama Pak Machmoed Effendie. Tetep sehat bapak, dan terus menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam klaster Kearsipan.

Tak terlupakan saat satu temen di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) bercerita kiprah pak Machmoed sebagai expertis yang mengawal konsensus sampai ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang diberikan Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan. 

Memori Kolektif, Kondisi Geologi 

Tragedi sosial yang bermula dari kondisi Geologi di sekitar lokasi Sumur Banjar Panji – I Sidoarjo Jawa Timur, kira2 pada 15 tahun yang lalu, meninggalkan memori kolektif. Pada 14 Juni 2006, Bapak Purnomo Yusgiantoro selaku Menteri ESDM menerbitkan Keputusan tentang Tim Investasi Masalah Semburan Lumpur. 

Selanjutnya, terbentuk Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Lapindo di Sidoarjo dituangkan dalam Keputusan Presiden RI No. 13 Tahun 2006 pada tanggal 8 September. DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan susunan keanggotaan yakni tim pengarah dan tim pelaksana dengan tugas penutupan semburan, penanganan luapan dan penanganan masalah sosial. 

Perpanjangan masa tugas tim nasional penanggulangan semburan lumpur tersebut di tetapkan oleh Presiden pada 8 Maret, melalui Keputusan Presiden No. 5 Tahun 2007. Selanjutnya per 8 April 2007, ditetapkan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) melalui Peraturan Presiden No. 14 Tahun 2007.

Di tahun 2017, badan ini di bubarkan dan digantikan oleh Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo di bawah Kementerian PUPR. Akhirnya, tulisan ini hanya akan mengawal pemikiran diri seorang arsiparis, betapa dahsyatnya memori kolektif. Cara negara dalam menangani tragedi sosial dapat tergambar dari memori kolektif yang tentu tersebar pada lintas Kementerian. 

Perlu kiranya menjadi perhatian para penikmat rekaman kegiatan (arsip) atau sebutannya arsiparis untuk terus mengumpulkan endapan informasi yang bernilai memori kolektif tersebut. Tentu arsiparis perlu memaknai kondakter, sehingga orkestra kearsipan dapat bersuara sebagai penjaga warisan bangsa dan negara. 

Manuver Berkas

Foto yang dominan di atas memperlihatkan berkas inaktif yang diurutkan sesuai nomor definifif. Terlihat arsip belum dibungkus dengan folder.

Proses penataan arsip inaktif sebagaimana gambar diatas, ialah pasca tahap manuver berkas. Sebelum nantinya penempatan berkas ke dalam boks, perlu dikroscek kembali atas duplikasi yang berlebih, kesamaan masalah dan kesesuaian uraian informasi.

Per hari ini, tugas ku mengecek berkas inaktif hasil penomoran definitif yang disusun berurut. Teguh dan Avis membantuku membungkus berkas dengan map dnn menempatkan berkas inaktif ke dalam boks yang telah aku periksa.

Proses ini yang membawa wawasanku semakin terbuka terhadap peran Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi dalam pembangunan.

Sepedaan BUPERTA CIBUBUR 

40,3 KM sepedaan di Minggu 28 Maret 2021. Tak sekedar peningkatan jarak, namun menambah koleksi obyek Wisata. Spot Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (BUPERTA) CIBUBUR membuka sisi manusia. 

Tebusan tiket Masuk 80.000,- rupiah untuk delapan orang oleh pak Baderi, menggeret Roda Vit menyusuri jalan eks hutan karet yang disulap menjadi beberapa graha wisata. Hampara rumput yang terlindibg dpohon menjulang, tertata apik dengan ekosistemnya. Empang, danau, lapangan, sungai menyatu dengan hijaunya dedaunan yang menghadirkan udara segar. 

Pada monumen yang menghadang pengunjung, kita mendapati patung ibu Tien Soeharto. Tepat di depan tugu tersebut, terpasang prasasti peresmian di tahun 1997 oleh Presiden terlama di Indonesia, yakni Bapak Soeharto. 

Keramaian manusia yang sedang bercengkrama dengan keluaga, kenalan, teman, sahabat, bahkan sampai kelompok hobi tertentu, adalah pemandangan di BUPERTA CIBUBUR sebagai Graha wisata. Akhirnya, tulisan ini hanya akan menjadi catatanku di seri ke-22 bersama rombongan sepedaan Warga Villa Tanah Baru. 

Tim Teknis Landas Kontinen

Tugas Tim teknis landas Kontinen sebagaimana yang tertulis di Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi ialah mempersiapkan aspek teknis dan yuridis perundingan garis batas landas Kontinen dengan negara tetangga. 

Terhadap masalah yang timbul pada wilayah yang masih menjadi sengketa (disputed area), Tim teknis Landas Kontinen memberikan rekomendasi teknis dan yuridis yang dilaporkan secara tertulis kepada Menteri Pertambangan dan Energi. 

1992: 24 Maret, Mentamben Ginandjar Kartasasmita menyempurnakan Tim teknis landas Kontinen dengan  mencabut SK Mentamben 1970 tentang Tim Teknis landas Kontinen yang telah diubah dan ditambah di tahun 1990.

Tim teknis landas Kontinen tidak dapat dipisahkan dengan Prof. DR. Mochtar Kusumaatmadja sebagai ketua. Bahkan sebagaimana SK atas nama Menteri Pertambangan dan Energi tahun 1981 tentang Pembentukan Delegasi Republik Indonesia untuk Perundingan Garis Batas Landas Kontinen Republik Indonesia – Australia yang ditandatangani Soetaryo Sigit selaku Sekretaris Jenderal, beliau tercatat sebagai ketua tim teknis landas Kontinen. 

Nah, yang menarik buatku ialah peran Direktur Jenderal Migas pada Departemen Pertambangan dan Energi sebagai wakil ketua I. Di tahun 1996, Direktur Jenderal Migas menandatangi SK atas nama Menteri Pertambangan dan Energi tentang Tim Landas Kontinen.

Dengan mendudukkan Prof DR. Muchtar kusumaatmaja sebagai penasehat, Tim Landas Kontinen bertanggung jawab kepada Menteri Pertambangan dan Energi dengan tugas yang sama atau melanjutkan Tim Teknis Landas Kontinen. 

Akhirnya, tulisan ini hanya menjadi pendalamanku atas peran Direktorat Jenderal Migas yang begitu bermakna pun  di area diplomasi luar negeri. Dengan kolaborasi dengan Direktur Jenderal Perjanjian internasional pada Departemen Luar Negeri sebagau wakil ketua, Direktorat Jenderal Migas telah mencatatkan sejarah atas usaha mempertahankan kedaulatan NKRI dengan penyiapan bahan perundingan garis batas landas Kontinen. 

Begitu juga peran strategis jabatan Direktur Eksplorasi dan Produksi Migas pada Ditjen Migas selaku Sekretaris Tim Landas Kontinen. Kolaborasi lintas Kementerian dan lembaga telah terjalin apik antara lain Kasum, Bais, Pusat Survei dan Pemetaan, TNI AL, pada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Ditjen Perikanan pada Kementerian Pertanian. Dan Kementerian Luar Negeri. 

URGENT, menebar salam (keselamatan)

Tak terhitung permohonan keselamatan dari mulut manusia. Namun, berjuta juta prasangka dan perasaan atas kesulitan. Atau paling tidak ungkapan rasa “kasihan” kepada keadaan atas kesulitan. 

Tulisan ini beranjak dari Logika Sang Kyai, Gus Baha (Bahaudin Nursalim) yang diakui para juru agama Islam sebagai Qur’an dan Hadits berjalan. Logika keren dalam menghidupkan doktrin agama Islam. Dunia itu penting, tutur Gus Baha dari Youtube yang aku dengarkan. Bahkan tak segan Ayat Suci Al Qur’an mengajarkan logika kritis mendudukkan kebutuhan pokok yakni makan. 

Di kehidupan dunia, manusia akan memahami kebesaran dan keagungan Sang Pencipta. Kehidupan dunia juga mengajarkan makna harapan atas keselamatan. Contohnya, pentingnya kebutuhan makan yang dimaknai sebagai jalan menuju keselamatan. Namun, karena di zaman ini makan sudah biasa, maka manusia di dunia pun telah melupakan betapa kerennya rahmat Allah untuk dapat makan. 

Hal hal di atas mengantarkan tulisan ini dalam memaknai ide gagasan Haji Ade Akhyar, ketua DKM Mushola Al Ukhuwah VTB. Terlaksana penyaluran bahan pokok kepada delapan Kepala Keluarga. Selama empat kesempatan (dua kali di bulan Februari 2021 dan dua kali di bulan Maret 2021), peduli sesama Mushola Villa Tanah Baru telah menyalurkan beras, mie instan, telur, minyak goreng, gula, dan sebagainya.

Akhirnya, beranjak dari Mushola, bangunan multi dimensional itu mengajarkanku akan makna menebar salam (keselamatan). Mushola sebagai tempat keberjamahan dalam sujud kepada Allah, Sang Penguasa Jagad raya, diperkaya dengan dimensi sosial dalam peduli kepada sesama. Penyaluran sembako kepada sesama. 

Hal itu sejalan dengan ketegasan makna kalimat penuh kesucian yang diartikan dalam bahasa Indonesia “Semoga keselamatan serta rahmat Allah dan juga keberkahannya terlimpah untukmu“, yang mengakhiri tiap ibadah sujud Umat Islam.