Apa makna Poros kemajuan Direktorat Jenderal Migas?? “Peran unit Sekretariat Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi sebagai poros kemajuan Ditjen Migas” tutur Bapak Alimudin Baso saat sambutan acara pisah sambut pada 26 Februari 2021 di Serpong.
Sebagai satu dari ratusan pegawai, aku mendengar dan mencoba menggali kalimat yang penuh nuansa semangat mewujudkan SetDitjen Migas (SDM) sebagai poros kemajuan Direktorat Jenderal Migas“. Bisa jadi kalimat tersebut tidak terlepas dari tugas dan fungsi pemberian dukungan administrasi dan manajemen Direktorat Jenderal selaku regulator sub sektor migas di Indonesia.
Fungsi keP3Dan yang diemban oleh SetDitjen Migas memang tidak dapat dilepas dari kerangka pemberian dukungan pada seluruh unit kerja yakni unit substansi (Direktorat). Jadi apa y, maksud dari kalimat sekretaris Ditjen Migas yabg ke 18 tersebut di atas?
Ya…Lepas dari jabatan Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas, beliau dierjalanankan untuk menahkodai unit suporting Direktorat Jenderal. Tugas perencanaan dan laporan, keuangan, hukum, Kepegawaian, pelayanan publik, dokumentasi, informasi, kearsipan, anggaran, penyajian data, reformasi birokrasi, transformasi jabatan, umum organisasi, Barang Milik Negara segera menanti kiprah beliau.
Tugas yang bukan menjadi portofolio Direktorat Jenderal namun dimaknai sebagai poros kemajuan atau pencapaian key Indikator Performance regulator Migas di negeri ini. Akhirnya aku pun terdampar pada satu pertanyaan “makna poros kemajuan Direktorat Jenderal Migas.
“LucuKowe” pena pada 26/2 jam 20.29 WIB dari Bapak Ardhi Krisnanto Migas. Respon beliau lepas menyaksikan tampilan ku secara virtual. Ya…acara pisah sambut Sesditjen Migas pun dilaksanakan dalam jaringan (daring) zoom metting.
Respon tersebut melegakan, tatkala audien yang hadir langsung tak terdengar kehebohan. Namun setidaknya terdengar beberapa tepukan tangan dan suara ketawa. Meski tak bisa tidur semalam, setidaknya meredakan kegalauan atas deg deg an pada dua puluh menit sebelum acara dimulai. Pun rasa malu bercampur canggung tatkala rencana kata kata yang kutulis tak terucap.
Sedetik lepas stag, tulisan /contekan aku masukkan ke dalam saku. Kata kata pun mengalir begitu saja, tak terasa sepuluh menit terlalui
Dengan tema kesan atas kepemimpinan, kata kunci seperti blusukan, kasih sayang kepada bawahan, prestasi, legasi kukaitkan dengan beberapa fakta yang kupersepsikan dari sosok pimpinan tinggi pratama. .
Berikut draft tulisan yang tidak semua dapat kuingat saat berada di depan forum.
2 tahun, 3 bulan, 20 hari, kira kira…. Menjadi kebersamaan kita dengan beliau… di jajaran manajemen Migas, tentu banyak meninggalkan kesan. Tepatnya di 9 Oktober 2018, seluruh pegawai di SDM menyambut kedatangan beliau. Menteri ESDM melantik sebagai di Sesditjen Migas yang ke 17.
Waktu pun berlalu, 1 Februari datang lah masa dimana bapak Iwan harus diperjalanan kembali, litbang, minerba, itjen, mMigas kembali pada khitahnya Keuangan. Dan bersamaan dengan itu pegawai Migas khususnya SDM menyambut pimpinan tinggi pratama, Sesditjen Migas yang ke 18.
Sebetulnya, saya ini kurang pantas lah untuk mewakili bapak dan ibu baik daring maupun luring. Beliau tidak kenal saya.
Langsung saja y… Sosok pimpinan yang suka blusukan. Tak jarang kita mendapati pak Iwan berada di ruang kerja eselon 3, bahkan di ruang pejabat administratornya, pak iwan terbiasa berkomunikasi dengan driver, para OB atau CS, tenaga pramu kantor. Selain Blusukan juga sayang dengan bawahan. Cerita menarik kala Amin (pramu kantor di bagian umum) misalnya, diajak langsung ke semarang, agar amin bisa menemui bayinya kampung.
Ngomongin pimpinan tinggi tak jauh dengan apa itu legasi. Deretan nama dan foto di ruang rapat itu, 16 Sesditjen Migas sejak 1978, tentu memiliki legasi nya masing2. Saya dapat bocoran bahwa ada satu legasi yang urung terlaksana, katanya… Tapi saya kok kurang percaya…izin pak iwan, apakah bapak mau gagal buat Biro jodoh di Ditjen Migas???
Namun, Jejeran 16 orang ses tentu tidak semulya legasi pak iwan. Yaitu meninggal jejak sebagai ketua DKM masjid Al legowo, masjid di era bu evita legowo/iklas. Ini yang mungkin sedikit menyulitkan generasi berikutnya, misalnya di tahun 2035 pak Joke sudah promosi ke eselon 2 y pak Joke? Kan sulit pak…
Mulai bergabung di tahun 2013, cukup singkat untuk kemudian dapat menduduki jabatan Migas 2. Fenomenal y… Sangat beda jika dibanding pak agus, belasan tahun, eselon 4 aja belom, eh udah di transformasi…
Kenapa saya sebut Migas 2, nyatanya pak iwan ini mencatatkan dalam sejarah sebagai pimpinan tinggi pratama yang menempati rumah dinas. Gemana pak rumah dinas nya?
Angka 17, atau Sesditjen Migas ke 17 mungkin menjadi menarik dan tentu kesan manis awet seventeen lah ya… Ciri khas kepemimpinan pak iwan terkesan dengan kasih sayang (jawa ya, penuh katresnan) tak nampak sekalipun pak iwan marah kepada bawahan.. Betul? Tapi sedikit mengancam dimutasi ke Sawah Lunto.
“kita sudah seharusnya memulai, menjadikan KESDM sebagai etalase konservasi energi“. Kutipan kalimat dari Direktur Jenderal EBTKE (Bapak Rida Mulyana) waktu itu yang disampaikan oleh pakar Manajemen Energi UNDP, Bapak Boyke cukup menarik pada acara Launching Lomba Hemat Energi untuk Gedung Perkantoran di Lingkungan Kementerian ESDM pada Kamis, 25 Februari 2021.
Konservasi Energi yang dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 70 tahun 2009 beserta perangkat pengaturan teknis terkait manajemen energi yang tersurat pada Peraturan Menteri ESDM No 14 tahun 2012, berisikan ketentuan umum, pelaksanaan manajemen energi, pelaksanaan penghematan energi, pembinaan dan pengawasan, insentif dan disinsentif.
Menarik bagiku untuk sedikit mendeskripsikan Pengaturan semasa Menteri ESDM Jero Wacik tersebut diundangkan oleh Kemenhukham pada 30 Mei 2012 pada Berita Negara RI Nomor 557. Terlebih kala teringat satu kalimat dari Kepala Biro Umum KESDM yang memaparkan keberhasilan Gedung Heritage dan Gedung Chaerul Saleh KESDM menyandang penghargaan AseanEnergyAward tahun 2020.
“Diperlukan peran seorang manajer energi ” kata Beliau disela pemaparan prestasi ajang regional untuk kategori Green smal dan medium Building dan kategori Energy Management Small & Medium Building pada gelaran Launching Lomba Hemat Energi 2021 via daring.
Tentu itu selaras dengan ketentuan peraturan Menteri ESDM No. 14 tahun 12 tentang Manajemen Energi pada bab II bagian ketiga. Karena esensi dari manajemen energi salah satunya menunjuk seseorang sebagai manajer energi. Tentu seorang manajer yang akan mengawal program konservasi energi, audit energi, tindak lanjut rekomendasi audit sampai dengan pelaporan kepada manajemen atawa pimpinan.
Akhirnya, tulisan ini akan menambah sudut pandangku bahwa pengelolaan gedung perkantoran bukan sebatas mengelola kebersihan, keamanan, rumah tangga, persediaan, pemasangan perangkat solar sell, operasional kantor, barang persediaan atau bahkan sebatas layanan internal saja. Nyatanya, pengelola Gedung perkantoran pun sangat signifikan dalam mendukung konservasi energi.
Hemat Energi mengandung maksud kebijaksanaan manusia dalam melestarikan alam, pengendalian penggunaan energi, proses pembakaran yang efisien dari pemanfaatan energi primer. 28 Tahun yang lalu, hemat energi dilambangkan dengan warna, segi empat, bulatan, lingkaran, garis dan tangan serta jari kanan.
8 Januari 1993, Menteri Pertambangan dan Energi melalui penetapan bernomor 47 menetapkan Logo Hemat Energi Nasional. Segi empat vertikal dengan setengah bagian atas berbentuk bulatan tiga perempat lingkaran terdiri dari:
bulatan bagian atas dilengkapi oleh tiga warna (pelangi) hijau medium, kuning dan merah yang mengandung arti kelestarian alam harus dijaga dan penggunaan energi harus dikendalikan
dalam lingkaran warna merah yang mengarah kebawa berwarna merah kekuning kuningan dengan lima garis putih dari bawah melebar keatas, menggambarkan pemanfaatan berbagai sumber energi primer melalui proses pembakaran secara efisien
Gambar tangan menghadap keatas mulai pergelangan sampai dengan jari jarinya berwarna biru refleksi dengan ibu jari tangan kanan berwarna biru langit melambangkan bahwa efisiensi bergantung pada kebijaksanaan manusia melalui tangan tangan terampil
Kini, Hemat energi bukan sebatas efisiensi namun merengkuh konservasi. Sebagaimana terbaca dari rencana Launching Lomba Hemat Energi Gedung Perkantoran di Kementerian ESDM.
Promosi kesadaran dan partisipasi sektor bangunan gedung dalam upaya penerapan efisiensi dan konservasi energi melatarbelakangi kegiatan termaksud.
Melalui Naskah dinas Direktur Konservasi Energi pada Direktorat Jenderal Energ Baru dan Terbarukan, gelaran Launching Lomba Hemat Energi Bangunan Gedung Perkantoran pada Kamis 25 Januari 2021, bakal diisi dengan pemasaran Kisah sukses predikat GreenBulding dan EnergiManagementBuilding yang digondol oleh gedung Perkantoran Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM
Rutin mengantar anak ke sekolah, sempat kumaknai sebagai kekuatan dalam kesuksesan mengasuh anak sampai ke gerbang kehidupan selanjutnya. Istilah “rutin“, mengandung perbuatan secara terus menerus tanpa kenal menyerah.
Senin, 22 Februari 2021 aku mengantar Dipta kembali ke sekolah. Hari ini menjadi hari satu satunya sejak awal Februari 2021 Dipta masuk sekolah. Uang SPP yang terus ditagih pada setiap bulannya menjadi pertimbangan kuat untuk mengajaknya menghadiri sekolah.
Sejak Pembatasan Kegiatan Masyarakat atawa PKM sebagai tindak lanjut meningkatnya kasus paparan Covid-19, jadwal sekolah Dipta berkurang dari lima hari menjadi tiga hari. Itu pun tetap dengan skema satu jam pelajaran untuk satu harinya.
Dipta tidak mengambil sistem daring atau sekolah online. Keputusanku dan istri untuk tetap menghadirkan suasana kelas untuk Dipta dilandasi ada pilihan dari pihak sekolah. Selain itu, melihat karakter Dipta yang sangat senang bersosialisasi.
Perubahan kehidupan atas bencana Kedaruratan Kesehatan Masyarakat COVID 19 ini sangat memprihatinkan buat iklim sekolah sistem kehadiran. Begitu juga Dipta, pilihan untuk rutin menghadiri kelas dan ibu gurunya di sekolah mendapat tantangan yang begitu luar biasa.
Tantangan itu adalah perubahan iklim atau suasana hari belajar yang hanya satu jam setiap pertemuan, tiga jam setiap minggu (jua tidak terbentur hari libur), dan hilangnya pemandangan anak2 yang berseragam di sekitar. Alhasil, bangun pagi bukan menjadi prioritas untuk anak seperti Dipta.
Usia yang belum baligh, mengistimewakannya untuk terbebas dari doktrin bangun subuh (awal pagi). Tidur larut malam tidak menjadi larangan, karena jam sekolah memang agak siang. Begitu juga karena Kakaknya yang mengikuti sekolah daring (hanya tugas tugas yang terkirim melalui grup media sosial para wali murid).
Akhirnya, tulisan ini hanya akan menjadi pengingatku akan kualitas kemampuan Dipta. Meski sisi keyakinanku terus memberatkan pikirku bahwa, Allah sebagai Penguasa sajalah yang mutlak akan memberikan kemampuan Dipta. Bukan sekolah, bukan orang tua, dan bukan perubahan kehidupan. Namun sepantasnya aku mulai berfikir, untuk tetap rutin memperhatikan Dipta.
Pecah Rekor, setelah 17 kali keikutsertaanku di rombongan sepedaan Warga Villa Tanah Baru. 27 kilometer yang berhasil ditempuh pada 21 Februari 2021 menjadi kelegaan tersendiri. Pasalnya, kegamangan jalur tanjakan dan kemampuan pesepeda yang tidak merata telah berhasil direda.
Akhirnya, sepedaan mingguan “RodaVit” terus meninggalkan cerita yang akan menjadi kenangan klasik di masa depan. Cerita kondisi fisik pesepeda, jalan jalan Depok, Situ, Taman, Jalan tanjakan, seragam, sepeda, dan tak ketinggalan cerita mengkoordinir rombongan.
Nuansa Jawa yang diusung warung Soto Ndelik di deket Gaplek Pamulang (bisa diakses di kawasan riko pondok cabe) ditunjukkan dengan rumah joglo dan limasan. Dekorasi pun semakin menenggelamkan pengunjung dengan adanya hiasan seperti ornamen ukiran Jawa, gong, lampu petromak, lukisan.
Meski nama warung Soto, menu ayam dan bebek menjadi alternatif konsumennya. Tentu menu utama Soto khas Boyolali. Soto ayam dengan kuah kunir (bukan santan), mencirikan hidangan berkuah di jogja dan jawa tengah.
Akhirnya, empat minggu terakhir ini, aku dan ketiga anaku terhipnotis di Soto Ndelik. Mendatangi suasana rumah joglo dan khasanah kuliner Jawa sekaligus sekedar memenuhi kebutuhan perut. Bahkan Nasywa, anak pertamaku sempat ngambek saat kepagian datang di warung Soto Ndelik. Warung Soto Mbok Giyem yang berada di dekat nya dan juga khas Boyolali tak mampu meredam kekecewaan Nasywa, meski perut belum terisi.
Kebersamaan di perumahan semakin lengkap dengan jumatan di Mushola Al Ukhuwah VTB. Kebetulan penunjukanku sebagai petugas pengumandangan adzan, menjadi satu peran yang perlu aku tuliskan. Lupa terakhir kapan berperan menjadi muadzin di jamaah sholat mingguan itu.
Tradisi menuliskan terkait apa yang aku lakukan, sekedar membangun kebiasaan diri saja. Selain itu meninggalkan dokumentasi yang aku dapat baca dimasa mendatang.
Muadzin di Masjid level RW, pernah kujalani semasa lajang dulu. Masjid Asy Syifa’ di Sucen Triharjo Sleman Yogyakarta. Setelah lebih dari satu dasawarsa, pada hari Jumat 19 Februari 2021, aku pun mengulangi peran diri sebagai muadzin jumatan