Momong & Gowes Pagi

Bersepeda di pagi hari menjadi hal yang membahagiakan bagi kedua anaku. Nasywa dan Dipta begitu semangat di beberapa minggu terakhir ini. Setelah mahir di jalanan komplek, ajakan ku bersepeda di jalan umum membuat mereka penasaran. Layaknya hari yang telah berlalu, pagi ini 4 November 2020 Kak Nasywa terbangun sejak subuh hari demi menantikan aktivitas sepeda. 

Ba’da sembahyang dua rakaat, Kak Nasywa membangunkan adiknya yang semalam tidur bersama. Aku yang berada persis di sebelah mereka, lepas memperdengarkan lantunan ayat suci Al Qur’an, segera mengajak mereka berdua sebelum sang mentari beranjak tinggi. 

Perbaikan rem dan rantai sepeda siang kemaren, kembali menambah gairah Dipta untuk menjajal sepeda track jalan turunan. Kepercayaan dirinya terbangun dengan rem tangan, dimana sebelumnya sempat merasa khawatir dengan rem sendal andalan. 

Kak Nasywa sempat panik saat mendapat giliran sepedanya dengan kontur jalan menurun. Gowes bersama mereka dengan cara saling bergantian. Kedua tangan mungil yang berada di stang, tak mampu menjangkau pegangan rem. Sepanjang perjalanan, yang terpikir olehku adalah sebaik mungkin berperan dalam mendampingi titipan Allah berupa tiga anak. 

Materialistik & Arsip Statis

Nyatanya, pola pikir kearsipan terbelenggu aspek fisik materi atau media rekam informasi. Disaat informasi menjadi komoditas yang menggiurkan, atau informasi senantiasa dikaitkan dengan teknologi demi peningkatan kesejahteraan kehidupan, nyatanya kearsipan masih terjerembab pada aspek materiil. Apakah ini memang ciri khas kearsipan diantara rumpun urusan kehidupan pada obyek informasi??? 

Melalui surat kepala Biro Umum KESDM tanggal 24 Februari 2020 kepada Sesditjen Migas, tergambar inisiasi penyelamatan arsip statis yang belum diserahkan ke Lembaga Kearsipan. Surat yang mengawali info atas berakhirnya pengawasan sistem kearsipan di tahun 2019, berujung pada pengawasan muara daur hidup arsip. 

Pasca pengawasan sistem kearsipan, ANRI menetapkan agenda nasional terkait pengawasan obyek atau fisik arsip. Logikaku pun teringat pada pendekatan siklus hidup arsip yang teradob pada konsensus Nasional yakni Undang Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan. 

Pendekatan siklus hidup arsip tentu lebih dulu terkenal dari pada pendekatan Records Continum Model (RCM). Dapat diartikan bahwa pendekatan siklus lebih senior atau lebih tua dari pendekatan yang lain dalam penyelenggaraan kearsipan di Indonesia. 

Yang melekat dalam pemahamanku, pendekatan siklus hidup arsip adalah terkait erat dengan aspek materi fisik media rekam. Selain itu, siklus hidup arsip memberi penekanan atas muara akhir media rrekaman kegiatan yakni berada pada lembaga kearsipan. 

Sejak puluhan tahun lalu, pendekatan daur hidup arsip telah menyuarakan kata “pindah” dan “serah“. Kedua kata tersebut menggambarkan perjalanan media rekaman kegiatan. Selain itu tersirat status rekaman kegiatan yakni status dinamis yang melekat pada kata pindah dan status statis pada kata serah.

Jika disederhanakan menjadi dinamis=pindah, statis=serah. Disi lain terdapat pemahaman “pengawasan sistem versus pengawasan materi fisik arsip”. Ini menjadi kata kunci yang dapat kita rumusan pada tulisan ini, bahwa pasca pengawasan sistem maka beranjak ke pengawasan objek materi fisik arsip demi mendorong pemindahan arsip dinamis dan penyerahan arsip statis. 

Tidak dapat dinafikan, konsensus nasional kearsipan menetapkan tujuan penyelenggaraan kearsipan yakni menjamin ketersediaan arsip. Kemudian seiring penggunaan pendekatan siklus hidup arsip, telah berpengaruh signifikan terhadap pola pikir kearsipan Indonesia. Apa itu? Informasi yang terekam bukan saja berada pada aspek sistem nilai dan sistem pengelolaan, namun terus mempertahankan pada aspek fisik materi arsip (media rekam). 

Akhirnya, tulisan ini menjadi sisi lain pemahamanku atas kearsipan. Meski tuntutan peri kehidupan atas informasinya begitu dahsyat, namun sebagai insan kearsipan tak perlu harus gagap. Waspada atas ketertinggalan tidak juga harus melepaskan ciri khas kearsipan. Ciri yang tetap mendudukkan aspek materi fisik media rekam informasi. 

Last, aku pun semakin absurd tatkala kekhasan kearsipan berada dalam kondisi dunia dalam pembatasan fisik (dampak virus COVID 19) . Bukankah ini akan bertabrakan dengan ciri khas kearsipan (aspek fisik material media rekam)?. Apakah kearsipan perlu bertransformasi dalam mendudukkan fisik material media rekam? Dg kata lain, apakah kearsipan harus bergerak maju dengan mengikis ciri materialistik???

Anggaran penyelamatan dan pelestarian arsip

Melalui Surat tertanggal 6 Februari 2020, Sekretaris Jenderal menyampaikan informasi kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Migas terkait monitoring dan supervisi dalam rangka menjamin penyelamatan dan Pelestarian Arsip Kementerian ESDM. 

Surat tersebut dimaksudkan untuk mendorong penambahan anggaran kearsipan. Pun sekaligus menjadi pembaruan semangat dalam menguntai inisiasi kearsipan pasca ditandatangani Peraturan Menteri Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Kearsipan di Lingkungan KESDM di penghujung Januari 2020.

Baca https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/04/05/kearsipan-kesdm/?preview=true

Sesuai Pasal 57 dan 58 Undang Undang No. 43 tahun 2009 tentang Kearsipan, Pengelolaan arsip dinamis menjadi tanggung jawab pencipta arsip. Terlebih dengan terbitnya Surat Edaran Menteri PAN dan RB Nomor 01 tahun 2020 tentang Penyelamatan dan Pelestarian Arsip Negara 2014-2019, mencuat kebutuhan percepatan pengelolaan arsip dinamis sebagai persiapan pemindahan Ibukota Negara. 

Baca https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/08/05/penyelamatan-dan-pelestarian-arsip-negara-2014-2019/

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2020/09/26/arsip-dan-pemindahan-ibukota/

Penentuan narasi penyelamatan dan Pelestarian Arsip  yang mengacu pada metodologi yang tersurat pada produk hukum, bisa jadi menjadi enggel berbeda dengan kondisi secara nyata. Sebut saja beberapa tahapan pengelola arsip dinamis yakni Identifikasi arsip yang tercipta, Pemberkasan arsip aktif, Penataan arsip inaktif, Penyusunan dan Pelaporan arsip aktif, Penyusutan Arsip berdasarkan Jadwal Retensi Arsip. 

Tahapan tersebut dihadapkan dengan perbedaan pola pikir dalam pengelolaan anggaran secara keseluruhan sehingga tidak menunjukkan dukungan nyata dalam mengalokasikan anggaran untuk kearsipan pada unit organisasi. 

Hal hal tersebut diatas semakin nyata saat usulan penambahan anggaran kearsipan yang ditujukan secara khusus untuk implementasi SE MenPAN&RB tentang Penyelamatan dan Pelestarian Arsip 2014-2019 belum berhasil. Wajah rencana anggaran kearsipan tidak seelok dari hebatnya suara kearsipan. Kondisi penganggaran tidak lebih dari pembagian merata untuk keseluruhan unit kerja 

Sampai disini otaku pun terantuk pada efektivitas penentuan narasi pengelolaan arsip. Artinya narasi penyelamatan dan pelestarian arsip belum menyentuh pada kebutuhan anggaran kearsipan. Dan seolah penyelamatan dan lelestarian arsip tidak memerlukan anggaran. Di sinilah muncul satu pendapatku untuk menarasikan urusan kearsipan menyatu dan menjadi bagian dari pencapaian kinerja organisasi sesuai peran unit organisasi.

Transmisi Manusia

Menjelang petang, suara sholawat dan puji pujian terdengar dari 🔊 pengeras di Perumahan Villa Tanah Baru Beji Depok Jawa Barat. Suara itu menjadi ciri khas yang bisa jadi tak ditemui di Bali. Begitu pula di daerah tertentu dimana saat menjalani perjalanan luar kota. 

Bukan karena tidak ada suara, namun telinga dan kondisi tak serilek saat berada di rumah. Atau bisa jadi memang hanya ditemui di daerah yang mayoritas penduduknya muslim.

Berikut adalah 16 kali perjalanan selama tiga bulan Agustus, September, dan Oktober tahun 2020. Tidak menduga, disaat pembatasan transmisi manusia, tuntutan pekerjaan memaksa langkah kaki sekali dalam seminggu. 

Sejak minggu kedua pada bulan Maret 2020, dimana  masa awal Pandemi, terjadi pembatasan perjalanan dinas lebih dari 4,5 bulan (April, Mei, Juni dan Juli). Namun transmisi manusia diyakini menjadi satu diantara stimulus perekonomian.

Pembatasan transmisi manusia antar daerah yang dikhawatirkan bidang kesehatan, bagai sisi mata pisau yang perlu penempatan secara bijak. Enam belas kali tentu melebihi dari rata2 transmisi tiap bulannya. Berikut catatan perjalanan 3 bulan :

  1. Bandung ke PSDMBP, post pada 4 Agustus 2020 
  2. Pondok Ranji, Tangerang Selatan, untuk sosialisasi Kearsipan, 10 Agustus 2020 
  3. Wisma Energi Puncak Bogor untuk rapat layanan surat, post pada 12 Agustus 2020 
  4. Safira Kota Bogor untuk monev SDMU, post pada 13 Agustus 2020 
  5. Palembang untuk pra Rakor konkit wilayah Kalimantan dan jawa, post pada 15 Agustus 2020 
  6. Yogyakarta untuk keperluan keluarga, post pada 20 Agustus 2020 
  7. Bandung untuk konsi unit Sdmul, Post pada 29 Agustus 2020 
  8. Yogyakarta studi banding kearsipan Ke Poltekes Negeri post pada 4 September 2020 
  9. Rumpin Bogor ke LAPAN, post pada 9 September 2020 
  10. Makassar, pra Rakor konkit wilayah Sumatera dan Sulawesi post pada 13 September 2020 
  11. Tangerang Selatan dalam rangka pencarian arsip DMI(Infrastruktur SPBG) 
  12. Cilegon, Studi tiru LKD di 29 September 
  13. Yogyakarta untuk Rapat koordinasi konkit tahun 2020 di 30 September 
  14. Yogyakarta, 8 Oktober 2020 untuk keperluan keluarga 
  15. Bandung 19 Oktober 2020 post IP ASN
  16. Selayar, Sulawesi Selatan, 28 – 31 Oktober, post BMN Konkit Nelayan

Kalimat Sempurna, Tanpa Makna

Malam itu di Kecamatan Benteng Selayar, seorang teman mengenalkan kepadaku tentang seorang temannya. “ini ibunya anak anak” katanya sembari mengajaku masuk ke kendaraan. Ajakan makan malam dari teman sekantor itu telah membawaku menemukan kalimat sempurna namun tanpa makna. 

Sering kita jumpai kalimat yang sempurna namun tidak terkandung makna di dalamnya. Mengucapkan suatu kalimat, belum tentu akan sama saat mendengarnya. Disini yang aku maksud kalimat sempurna ialah kalimat karena diucapkan oleh seseorang.

Kedatangan teman asli Selayar malam itu di Hotel Rayhan, sembari mengenal kan temennya yang berada di mobil, “ini ibunya anak anak“, merupakan satu bentuk kalimat sempurna. Apa maknanya? Apakah temennya temenku merupakan istri dari temenku? 

Kemudian setelah selesai ngobrol di aroma Cafe, aku menanyakan  “mbak pernah ke Jakarta?”. Dia pun menjawab “belum“. Aku pun tergelitik mengkonfirmasi kepada temanku. “ajak dong bang, ke Jakarta” sautku sebelum masuk ke kendaraan untuk kembali ke hotel.

Dengan kompak mereka menjawab “selalu“. Jawaban itu pun kuanggap sempurna. Meski kalimat atau kata sempurna, namun tiada makna. Atau bermakna lain. Kalimat dan kata bisa jadi sekedar guyon untuk mencairkan suasana. Kalimat dan kata bisa juga hanya  hanya kelakar demi sebuah keakraban semata. 

Akhirnya, aku pun belajar dari Kepulauan Selayar dimana 26 dari ratusan pulau yangtelah didiami oleh masyarakat. Meski berasa terpencil karena dipisahkan puluhan KM lautan dari pulau Sulawesi, namun aku mendapati pelajaran sangat berharga. “kalimat atau kata sempurna bisa jadi tanpa makna atau bermakna berbeda”. 

Dengan logika dan hati serta rasa, aku belajar mengkorelasikan kata atawa kalimat sempurna dengan makna sebenarnya. Terima kasih Selayar, empat hari (28 – 31 Oktober 2020) mendapati pelajaran yang berharga. Semoga bermanfaat 

Cocok Logi di Obrolan Sarabba

coba untuk tidak terlalu memikirkan kata” kongkalingkong“, kataku dalam obrolan Sarabba. Aku harus mengambil permisalan untuk menambahkan penjelasan kepada mereka. Semisal tatkala di otak hanya ada teh panas, maka di meja ini terhidang teh panas. Namun tatkala tadi aku pesan Sarabba, bisa jadi sarabba di meja ini. Tentu tidak ada kopi di meja ini, karena tidak terlintas di otaku saat ini. Suasana obrolan mencair, terlihat senyum lebar dan terdengar tawa kecil mengiringi cocok logi. 

Jumat, 30 Oktober saat bermalam di Noorsyah Resort Selayar, tebusan Rp.15K untuk semangkuk indomie plus telur dan Rp.10K untuk segelas teh panas menjelang larut, mempertemukanku dengan obrolan Sarabba.

Kenapa obrolan Sarabba? Bukankah Sarabba adalah minuman khas di Sulawesi Selatan? Minuman sejenis bandrek di tanah Jawa. Ringkasnya, si penjaja resto menawarkan Sarabba gratisan demi membuka obrolan, meski secangkir teh panas belum lah aku habiskan.

Obrolan sarabba, mencuat kan pendapat atas kondisi pengurusan kartu nelayan penuh kongkalingkong di tingkat desa. Kemudian terekam pula pendapat atas kebijakan yang sangat tergantung pada politik, atau dalam kekuasaan Bupati. Dua kata “kongkalingkong” dan “politik” seolah membuyarkan logika masyarakat Indonesia. Bisa jadi dapat pula melupakan akal sehat dalam menyikapi interaksi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Begitu juga, pandangan kita tentang politik. “nanti kita titip proposal ke mas, biar bisa kita dapat bantuan” pintanya dalam obrolan Sarabba. Aku pun harus mencocok logi mereka. Permisalanku pada tangga yang harus melalui undak undakan atau urutan anak tangga sesuai tingkatan sebelum sampai ke atas atau ke bawah. “jika aku terima proposal, dan memastikan akan bantuan, maka aku berada di daerah politik” tambahku pada obrolan Sarabba. Suasana obrolan pun seolah terhenti sejenak. Berasa ada pukulan telak antar komunikan di obrolan sarabba. 

Seolah sesederhana itu, mencocok logi demi penalaran atas kehidupan sekitar pada obrolan Sarabba di Noorsyah Resort Selayar malam itu. Di sela menunggu datangnya kantuk di Noorsyah Resort Selayar, aku pun terantuk pada dua kata kongkalikong dan politik. Dua kata yang seolah menyalurkan aura negatif di rakyat akar rumput. Dua kata yang perlu cocok logi dalam penempatan bahkan sebelum sampai pada pemahaman. 

Kenapa harus Cocok Logi? “cocok logi” itu asli Selayar. Melalui kata Bang Zulfikar, temen sekantor berdarah Kabupaten Kepulauan Selayar. Cocok logi aku artikan dengan pemahamanku ialah menyusun logika untuk mendapatkan presisi menghadapi kekaprahan kehidupan di dunia (penalaran). 

Akhirnya, kesederhanaan obrolan sarabba telah mengajarkanku atas cocok logi. Obrolan Sarabba malam itu menjadi potret begitu pentingnya membahasakan kondisi kehidupan akar rumput. Bisa jadi pengaturan logikaku diatas terlihat sangat mudah, karena tidak menjalani kejadian sebenarnya.

Permisalanku dalam membahasakan cocok logi, terasa sangat mudah mematahkan alasan masalah yang mencuat pada obrolan Sarabba. Namun demikian, sejatinya pada merekalah tantangan dan permasalahan itu. Bukan pada logika logika yang aku susun sedemikian rupa hingga seolah olah menjadi solusi permasalahan. Terima kasih atas kesempatan belajar cocok lagi di Pulau Selayar Sulawesi

Semoga bermanfaat 

Pantai Punagaan, Selayar

Disela perjalanan ke Selayar, menyelam di pantai Punagaan Selayar dapat menjadi pilihan. Beberapa spot pantai ⛱ di Kepulauan Selayar cukup eksotik dan masih menunjukkan keperawanannya. Misalnya di Pantai Punagaan dimana masih dikelola warga setempat, menyajikan wisata alam bawah laut dangkal dengan keindahan terumbu karang. 

Kemampuan menyelam amatiran yang kupunyai, tidak menyulitkan untuk melihat habitat dasar laut dangkal. Kedalaman pantai yang bersahabat menjadi andalan anak dan remaja untuk memburu hiburan. Cukup berbekal kacamata selam sewaan, atau seperangkat snorkling, mata kita disodorkan keindahan ekosistem dasar laut ciptaan Allah. 

Jumat, 30 Oktober 2020, aku berkesempatan menyambangi Pantai Punagaan Selayar. Lepas Sholat Jumat di Masjid Baitul Makmur dan santap ikan Sunu bakar belah di Kuliner Pelabuhan Benteng Selayar Bonehalang, cukup menempuh perjalanan kendaraan roda empat selama satu jam. 

Pantai Panugaan menjadi saksi kali pertama mataku menembus keindahan terumbu karang dan ikan berwarna indah. Meski tak lebih dari 15 detik tiap kali selam, namun sensasi melebihi penglihatan pada televisi. 

Lepas terasa capek, aku pun beranjak untuk mencari penginapan semalam sebelum besok sabtu 31 Oktober 2020 harus kembali ke Jakarta. Pilihan Norsyah Resort.  seharga Rp. 650.000 per malam, aku isi berdua dengan teman sekantor. 

Menjelang terbenam matahari Sejenak suara genset kontraktor jalan, sejenak mengacaukan keheningan malam di resort ini. Gegap gempita pembangunan infrastruktur jalan, terlihat pula di seberang pulau celebes. Pelebaran dan pengerasan jalan dari tangan Provinsi untuk memberikan menstimulus kepada Kabupaten. Meski terkadang perhatian itu masih sulit dicerna di otak rakyat kecil, oleh karena pola pikir rakyat yang berkutat pada faktor perut. 

Keheningan malam mulai merayap seiring menghilang suara jenggeret. Desakan sinyal demi menghubungi keluarga, menarik mendatangi resto pada resort Noorsyah yang menyediakan wifi. Semangkuk indomie rebus plus telur dilengkapi teh panas mengharmoni badan sebelum beranjak tidur. 23.35 WITA, aku pun mulai memejamkan mata di perpaduan demi tenaga penerbangan kembali ke Makasar. 

Kuliner Ikan Kakatua, Selayar

Mumpung bisa singgah daerah Kepulauan, kesempatan makan ikan laut menjadi sesuatu yang berharga. Berada di lokasi kuliner sebelah Pelabuhan Benteng Selayar, berhentilah kendaraan Bang Zulfikar yang aku tumpangi.

Setelah melihat situasi jejeran warung pinggir pantai dengan cerobong asap sarana bakaran ikan, ingatanku terbawa pada tiga tahun lalu. Pertama kali duduk menghadap sisi pelabuhan di Kepulauan Selayar, disuguhi menu makan malam ikan bakar oleh Bapak Kepala Dinas Perikanan.

Kali ini, ikan kakatua, ikan baronang dan cumi hitam menjadi menu ditengah hari pertama disela tugas penelitian BMN. “ini ikan dilindungi versi KLH” kata Bang Zulfikar setelah berdialog berbahasa daerah Selayar dengan penjaja warung. 

Penasaran dengan ikan kakatua, aku pun selancar di Internet. Taaaraaaaa….. Si cantik kakatua jangan di makan https://beritabeta.com/news/iptek/si-cantik-kakatua-jangan-dimakan-ini-kata-peneliti/

Didepan meja telah terhidang bakaran ikan masing2 dengan harga Rp. 50.000′-. “kita tidak salah, karena ikan kakatua sudah mati, toh kalo kita tidak pesan dan hidangan tidak kita makan, kasian penjualnya” celetukku sembari menunggu datangnya nasi. Maklum, desakan rasa lapar di siang hari dan kata kuliner ikan laut telah membutakan logika. 

Terbaca kenapa si ikan kakatua ini menjadi jenis ikan yang perlu dilindungi dari laman Beritabeta.com bahwa keberadaan ikan kakatua di laut penting untuk memasok sedimen pasir pada terumbu karang. “apa yang salah adalah nelayan?” kataku untuk menghantarkan suasana makan siang bersama bang zul dan bro Ardhi. 

nelayan tidak salah, karena hanya melempar kail dan kebetulan ketemu dengan ikan kakatua” saut bang zul. Aku pun menambahkan, setelah terangkat ikan kakatua dari laut ke kapal nelayan, yang tertanam di benak nelayan bukan kategori ikan terlindungi, namun kebutuhan sekolah anaknya. 

Berarti ikan kakatua bukan hanya membantu lestari ya ekosistem terumbu karang, namun juga membantu sekolah anak anak nelayan” pungkas bang zul setelah nasi dan sambal disajikan. 

Akhirnya, sembari melahap sajian bakaran ikan kakatua dan baronang serta cumi hitam, terbersit pemahaman bertiga bahwa bisa jadi tersusun kalimat sempurna, namun tanpa makna. Meraih makna suatu kalimat, perlu uraian dan hubungan beberapa keadaan yang saling berkaitan. (jika kita bawa ke ranah kearsipan maka sangat perlu keterkaitan antara struktur, kontek dan konten) 

Jauh dari Keluarga

Tampak kekompakkan mereka saat aku tinggal dinas ke luar kota. Bersama istri di rumah, menjalani waktu seiring kepergianku ke luar Jawa. Tertangkap gambar dari kamera terasa nuansa keluarga.

Nalarku terantuk pada suatu kalimat, “bersama dengan mereka, terukir jiwa ragaku di dunia”. NASYWA, DIPTA, & RARA, ketiganya adalah titipan Allah, Tuhan Yang Maha Esa. 

Sampai disini, kuakui kekuatan di dunia datang dari Sang Pencipta melalui titipanNya. Bukan saja di saat hari hari membersamai fisik saja, namun saat raga ini harus berpisah selama tiga malam dengan mereka.

 

Di satu sudut kota di sebelah pulau taman nasional Takabonarate, untaian kata demi memaknai perjalanan yang jauh dari keluarga. 

Memori Infrastruktur Migas Nelayan Selayar

Kegiatan infrastruktur migas kolaborasi Kementerian ESDM Cq. Ditjen Migas, DPR RI, Pertamina dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar melalui Konversi BBM ke BBG untuk Nelayan sasaran di tahun 2020 menjadi satu diantara inisiasi menghadirkan negara untuk rakyatnya. 

Nampak di gudang di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) pada Kelurahan Bone Halang Kecamatan Benteng, 1.358 unit Paket Barang Milik Negara (BMN) konversi BBM ke BBG untuk Nelayan sasaran. Gudang penyimpanan sementara disediakan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar. Setidaknya untuk sebulan sampai dengan selesai distribusi (dirakit dan di pasang) pada kapal/perahu para nelayan. 

Proses pendistribusian sarana Konversi BBM ke BBG untuk Nelayan Sasaran ini akan menciptakan arsip, satu diantaranya berupa daftar nama, alamat nelayan, dan tanda tangan setiap nelayan. Seluruh nelayan yang ditetapkan sebanyak 1.358 orang di Kabupaten Kepulauan Selayar harus membubuhkan tanda tangan sebagai bukti bahwa Paket BMN sebagai sarana konversi BBM ke BBG telah diterima dengan baik. 

Nantinya daftar tersebut akan diperiksa kembali oleh Pengelola BMN Ditjen Migas sebagai data dukung penelitian serah terima BMN, setelah mendapatkan persetujuan Hibah oleh Pengguna Barang, sebagaimana ketentuan yang tersurat dalam Peraturan Menteri ESDM No. 1 tahun 2019 tentang Tata cara Hibah BMN di Lingkungan Kementerian ESDM yang sejak awal pengadaannya akan dihibahkan. 

Disisi lain, kehadiran negara untuk rakyat melalui pemanfaatan gas sebagai bahan bakar penggerak mesin perahu menjadi rekaman kegiatan infrastruktur migas. Gas Bumi berjenis LPG kemasan 3kg paket Perdana yang dikombinasi dengan pengembangan teknologi konventerkit telah dirasakan para nelayan kecil. Hal ini dapat dimaknai sebagai stimulus perekonomian pada komunitas nelayan pengguna mesin sampai dengan 5GT.

Menurut penuturan, Zul Janwar selaku Kepala Bidang pada Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar, komunitas nelayan yang telah terverifikasi melalui program kartu nelayan Kementerian KKP mencapai lebih dari 6.000 orang.

Hampir separo sejak 2018, paket BMN konversi BBM ke BBG disasarkan ke Nelayan Kabupaten Kepulauan Selayar mencapai lebih 2.500 unit. Ribuan orang yang menggantung kegiatan ekonomi keluarga yang tersebar di seluruh kecamatan yakni Benteng, Bontomanai, Bontohoru, Pasimasunggu, Pasimarannu, Bontosikuyu, Buki, dan Bontomatene, terekam sebagai kegiatan infrastruktur migas. 

Akhirnya, tulisan ini menjadi jejak peran arsiparis, si penjaga rekaman kegiatan. Kegiatan yang menghadirkan negara untuk kesejahteraan rakyat. Tentu suatu kegiatan yang akan menjadi memori kolektif bangsa seiring memori masyarakat dalam bait lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut