Susunan boks arsip yang tidak teratur telah mengelitik nalar Desi. Kondisi Penyimpanan boks arsip di dalam lemari secara acak tak mampu menahan ucapannya. “kenapa sih pak, kok menata arsipnya tidak urut? ” Ucap Desi, Mahasiswa Program Studi Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi (PARI).
Pengaturan secara sistematis secara berurutan menjadi ciri kearsipan. Logika Filling System telah merasuk pada mahasiswi semester tujuh di Kampus Yogyakarta. Sistem kronologis, geografis, Alfabhetis, Numerik mencirikan pengaturan kearsipan.
Logika Desi pun menarik buatku sebagai mentor Praktek Kerja Lapangan (PKL). Aku pun segera memberikan tugas untuk membuat denah penyimpanan yang diawali dengan mentabulasi atau mengolah data ribuan boks yang berada di ruang penyimpanan arsip. Pemilihan aplikasi perkantoran MS Word untuk memulai mentabulasi data hars kuarahkan ke penggunaan Pengolah Data MS Excel.
Lewat dari satu pekan dalam mentabulasi data boks, Desi pun mendapat giliran presentasi. Dihadapan tim arsip, presentasi untuk mahasiswi PKL membentuk kecakapan komunikasi publik. Meski pemaparan melalui file Excel yang telah disusun beberapa hari, forum pemaparan pun mengundang nalar kearsipan secara kolektif.
Himpunan seri atau jenis arsip yang berhasil diketik pada kolom Excel memerlukan editing. Satu seri arsip identik dengan satu daftar arsip. Meski lokasi simpan satu seri arsip berada di lemari atau roll opeck yang tidak berurut, namun secara cepat dapat terlacak. Sampai disini, Desi merasa terhambat dengan kode kode yang mencerminkan klasifikasi arsip dan kode unit kerja.
Bahkan ketidakkonsistenan dalam penulisan label boks, menyulitkan Desi untuk mengidentifikasi satu kesatuan seri arsip. Misalnya label “SPM Inf” Yang mewakili seri arsip pembayaran infrastruktur migas. Atau kode MG.03.08 yang menjadi salah satu seri arsip sesuai dengan Klasifikasi Kementerian ESDM.
Praktik kerja sembari belajar membawa Desi semakin cakap dalam memahami ilmu terapan kearsipan. Dengan penyusunan Denah Kearsipan maka Desi mulai mengerti apa sarana retrivel atau sarana akses penyimpanan fisik kertas sebagai media rekam informasi. Lebih dari sembilan ribu boks dan lebih dari 72 seri arsip memerlukan pendekatan praktis dalam pengelolaan nya.
Denah penyimpanan arsip tergambar melalui gambar atau simbol yang akan memandu petugas arsip dalam menelusuri lokasi penyimpanan. Denah penyimpanan memerlukan tabulasi data seri atau jenis arsip, nomor lemari, unit kerja pemilik arsip, urutan boks, urutan folder, urutan lemari, yang nanti akan mengkonfirmasi keberadaan penyimpanan fisik kertas arsip.
Pengolahan data penyimpanan arsip yang sistematis dapat menyajikan informasi yakni daftar arsip simpan sesuai jenis arsip, daftar arsip simpan sesuai lemari arsip, penyimpanan arsip sesuai unit kerja pencipta,grafik penambahan arsip, informasi ketersediaan slot penyimpanan arsip, jumlah total koleksi arsip, dan seterusnya.
Pada bagian akhir, Desi sebagai calon manajer arsip diharapkan mampu menggerakkan petugas arsip untuk menghasilkan susunan penyimpanan arsip secara sistematis. Selain kemudahan akses, perlu kiranya memperhitungkan sumber daya waktu penyelesaian pekerjaan penyusunan boks arsip ke dalam lemari.