Cuti Bersama 2020

Ratusan kendaraan pribadi 🚙 yang kujumpai di jalan Tol Rabu dan Jumat kemaren, bisa jadi merupakan perjalanan darat untuk memanfaatkan hari libur cuti bersama. Seperti aku, perjalanan pada hari cuti bersama aku manfaatkan dalam rangka pulang ke kampung halaman, mengunjungi orang tua. Cuti bersama di bulan Agustus 2020 yang jatuh pada hari ke dua puluh satu itu, kupergunakan untuk melakukan perjalanan darat dari Depok Jawa Barat ke Sleman Yogyakarta.

Cuti bersama pada Jumat kemaren, bertepatan dengan hari kedua Tahun Baru Hijriyah 1442, ditetapkan melalui Keputusan Presiden 17/2020 tanggal 18 Agustus 2020. KEPRES yang menimbang dalam rangka mewujudkan efisiensi dan efektivitas hari kerja serta memberi pedoman bagi instansi pemerintah. 

Sebagaimana dasar hukum yang disebutkan dalam Kepres 17/2020 tersebut, Cuti Bersama bagi pegawai ASN mendasarkan pada Peraturan Pemerintah tentang Manajemen PNS pasal 333 ayat (4)  dan Peraturan Pemerintah tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja pasal 91 ayat (3).

Akhirnya, aku memaknai perjalanan darat lebih dari 500 KM (Tanah Rantau ke kampung Halaman) sebagai perjananan cuti bersama. Apakah di bulan Oktober mendatang, pada hari ke 28 (Rabu) dan 30 (Jumat) mengapit tanggal merah sebagai peringatan hari Maulid Nabi Muhammad, akankah terjadi perjalanan cuti bersama kembali? 

Jika nanti pejalanan cuti bersama di bulan Oktober urung terlaksana, masih tersedia kesempatan di bulan Desember. Hari ke dua puluh empat (hari Kamis) yang menggenapi hari Jumat sebagai Hari Raya Natal telah ditetapkan sebagai hari cuti bersama. 

Pun kesempatan dalam perjalanan cuti bersama di hari pengganti cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 1442 selama empat hari di minggu terakhir bulan Desember 2020. Pungkasan, cuti bersama Pegawai Aparatur Sipil Negara ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 17 tahun 2020 dengan tanpa mengurangi hak cuti tahunan. 

Memori Gowes 16 KM sehari 

Menguak kembali memori masa SMP terantuk pada ingatan Gowes 16 KM setiap harinya. Belum jika di hari Jumat dengan 32 KM untuk turut pada kegiatan Pramuka di siang sampai sore hari. Napak tilas, memori kemesraanku di usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 1994 sampai dengan 1997.

Selama tiga tahun, aku menempuh pendidikan di SMP 2 Negeri yang beralamat Di Kelurahan Banyurejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman Provinsi Yogyakarta. Bukan menjadi pilihanku, urutan cadangan saat mendaftar di SMP Negeri 2 di kecamatan Sleman telah mengantarkanku pada perjodohan dengan sekolahan itu. Nilai EBTANAS murni atau lebih dikenal dengan NEM yang nyaris pada ambang batas bawah, membawaku merasakan gowes16 KM PP setiap harinya. 

Kamis, 20 Agustus 2020. Aku dan Nayla (keponakanku) menyusuri jalan yang dulu pernah kulewati dengan sepeda BMX. Meski serasa nyebut Merk, namun sebenarnya menggambarkan satu dari jenis sepeda yang berukuran kecil khas untuk anak seumuran SMP. 

Sembari bercerita kepada Nayla, aku menguak pengalaman teriknya mentari di tengah jalan persawahan. Kanan dan kiri jalan dihiasi hijaunya tanaman rakyat sebagai satu diantara sumber pendapatan. 

25 tahun yang lalu, aroma persawahan mengiringi laju sepedaku demi mengenyam pendidikan. Aroma yang menusuk hidungku di pagi, siang maupun sore hari. Aroma yang melekat pada otaku, mengingatkan memori gowes 16 KM setiap hari. 

Bulak Senthe

Nama “bulak” membawa memoriku pada persawahan, sedangkan kata “senthe” merupakan sejenis tumbuhan liar di pinggir sungai. 

Bulak Senthe merupakan satu diantara ratusan Venue dan tujuan wisata kuliner di Sleman Yogyakarta. Konsep taman di persawahan dengan pepohonan dalam ruangan menjadi ciri dari venue yang dapat dimanfaatkan sebagai pernikahan atau pentas musik. Menu paket makanan seperti lodeh, sop, semur, bubur, mangut, sayur asem, nasi rames melengkapi venue yang juga sebagai restoran bernuansakan persawahan. 

Sabtu, 22 Agustus 2020, aku pun menjajal Bulak Senthe yang berkali kali kulewati jika pulang kembali ke Sleman. Lokasi di pinggir jalan searah dengan lokasi resto terkenal Jejamuran. Tepatnya di kanan jalan sebelum bertemu dengan gedung kelurahan Pandawaharjo. 

Menurut info yang masuk ke telingaku, pemilik venue ini sama orang dengan pemilik resto Jejamuran. Dampak terpaan masa Pandemi, beberapa orang pemuda pemudi dari desa sekitar yang menggantungkan mata pencaharian turut diliburkan. Bahkan itu terjadi di resto yang kuat dan terkenal seantero nusantara, seperti Jejamuran. 

Semoga penyikapan masa pandemi di wilayah kuliner dan venue persawahan semakin dewasa dan menjunjung protokol kesehatan. Akhirnya Resto dan Venue di Sleman kembali semarak dan menggeliatkan kembali roda ekonomi masyarakat desa di sekitar.

Kedewasaan Bermasyarakat di Sleman,

Program percepatan Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) sebagaimana yang telah diinstruksikan oleh Presiden tanggal 13 Februari Tahun 2018, menjadi satu diantara cerita keriangan rakyat. Terlebih dengan agenda dalam menumbuhkan peran serta masyarakat pada peran tim Puldatan. Adalah Petugas Pengumpul Data Pertanahan yang merupakan kepanjangan dari Puldatan. Sekelompok masyarakat yang diberikan pelatihan dan ditugaskan sebagai fasilitator sekaligus pengumpulan data fisik dan data yuridis. 

Tim Puldatan ditetapkan oleh kepala kantor pertanahan yang berada di satuan desa, dapat terdiri beberapa sub tim mendasarkan wilayah kerja misalnya batasan padukuhan.

Selain bertugas mengarsipkan melakukan pemberkasan data yuridis seperti Kartu Keluarga Kartu Tanda Penduduk, Alas Hak, SPT PBB, Surat Pernyataan Kepemilikan Tanah atau Penguasaan fisik, sub tim puldatan di wilayah kerja padukuhan juga melakukan penarikan biaya operasional pengukuran. 

Dari sini lah mulainya cerita, Lek Bandi yang didatangi enam orang sebagai sub Tim Puldatan di satu padukuhan di Sleman. Sembari saling berkelakar, aku mendengar tiap kalimat yang meceritakan tentang adanya keterujian kerukunan masyarakat. 

kenapa satu gambar harus dihargai 100 ribu rupiah sedangkan di padukuhan di sebelahnya seharga 50 ribu saja” protesnya kepada sub tim yang disebutnya sebagai panitia. Kalimat tersebut menjadi inti pembicaraan saat panitia mendatangi Lek Bandi di rumahnya. Panitia mengkonfirmasi atas keberatan perbedaan beaya operasional pengukuran tanah pada program PTSL-PM. 

Cerita panjang dan detil yang menggambarkan kedewasaan dalam bermasyarakat, antara lek bandi dan panitia itu telah menginspirasiku. Minimal dengan satu kalimat “kuliah bukan untuk kedudukan atau jabatan bahkan pekerjaan namun untuk meraih kedewasaan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat” 

Buat Lek Bandi, mungkin pendidikan sampai dengan kuliah, tidak mengantarkannya pada kedudukan dan jabatan. Buah Pendidikan dipetiknya sebagai bekal dalam menempatkan pada kedewasaan bermasyarakat. Perbedaan pendapat dan ketidaksetujuan terselesaikan dengan baik tanpa ada perpecahan kerukunan dalam masyarakat. 

Cerita diatas menjadi cerita pembelajaranku atas dinamika sosial dan penyikapan atas program pemberdayaan. Pemerintah melalui kegiatan sesuai fungsi dan tugas tentu membidik program pemberdayaan masyarakat sebagai jurus jitu dalam percepatan pencapaian tujuan. 

Sebagaimana Program PTSL, masyarakat telah merasakan buah kegiatan dengan diterimanya sertifikat tanah dengan biaya murah dibanding dengan pengurusan via pejabat  pembuat akta tanah (PPAT) atau banyak yang menyebut dengan notaris.

Begitu juga Lek Bandi, yang telah menerima sertifikat tanah melalui program PTSL dengan biaya sangat terjangkau atau sebagai penggantian beaya operasional lapangan. Akhirnya, aku menyudahi dengan satu kalimat ku tentang apa itu pemberdayaan masyarakat. Sebisa kita memberi arti bukan sebatas masyarakat yang berdaya guna, namun harus pula dibarengi dengan penghargaan kepada masyarakat. Panitia atau sub tim puldatin sangatlah pantas jika mendapatkan apresiasi atas terselesaikan tugasnya. Apresiasi yang bukan saja daei masyarakat namun dari pemerintah yang telah mendapatkan manfaat. 

Begitu juga pada contoh masyarakat seperti Lek Bandi yang mampu mengkomunikasikan kegundahan atas adanya perbedaan beaya pengukuran PTSL pada wilayah kerja antar padukuhan. Pantas kiranya apresiasi itu kepada kebijaksanaan dak kehebatan masyarakat Indonesia yang mampu menunjukkan kedewasaan dalam menjaga kerukunan. 

Sumber bacaan https://www.slideshare.net/mobile/Petakampung/juknis-pendaftaran-tanah-sistematik-lengkap-berbasis-partisipasi-masyarakat

Mie Ayam Dam Tegal, Bantul

Mie ayam, tersimpan dalam memori otaku. Hidangan favorit sejak pertama kali bisa jajan di warung. Lupa kapan pertama kali lidahku mencicipi Mie Ayam. Bisa jadi di tahun 1994, dua puluh enam tahun yang lalu. 

Kini, tiap kali kepulanganku ke Sleman, membawa cerita Mie Ayam. Meski di tanah perantauan Jakarta mie dicampur ayam banyak dijajakan oleh penjual, namun tak menggantikan kenangan lidah mie ayam Yogyakarta. 

Jumat, 21 Agustus 2020. Aku pun terbawa oleh ajakan bapaku untuk menyatroni Mie Ayam Dam. Sesampainya di lokasi, terbaca tulisan Ibu Edi Sutrisno. Tidak jauh dari ujung jalan raya Imogiri barat pada wilayah Desa Kebonagung Bantul, terdapat dua pasang bangunan joglo dan ramainya para penikmat mie ayam. 

Hari ini, kudapati rasa mie ayam Yogyakarta dg pecah mrica di tiap sruputan kuahnya. Warna coklat kehitaman potongan ayam bersama mie dan potongan sawi serta empat ceker memenuhi lambungku. 90 ribu untuk sembilan mangkuk dan delapan gelas minum. 

Tak jauh dari warung mie ayam Edi Sutrisno, aku pun melihat beberapa penjaja mie ayam serupa di sekitar bendung Tegal. Keramaian warung mie ayam di spot berkumpulnya warga bantul. Kehangatan ramah dak sederhananya kehidupan di sekitar persawahan. 

Kembali ke Sleman

Malam satu suro atau malam tahun baru Hijriyah, ketiga anaku berada di kampung halaman. Setelah sholat Dzuhur di Mushola VTB, Dipta sudah tak sabar untuk bertolak ke Sleman. 19 Agustus 2020 menjadi kali kedua setelah bulan Februari, aku dan sekeluarga melakukan perjalanan menuju kampung halaman. 

Pukul 13.30 WIB keluar dari Warung Soto Barokah, segera menyusuri jalan via Taman Makan Kalibata untuk bergabung ke Tol Cikampek. Mengawali jalan Tol dari KM 2, kendaraan pun terhenti di KM 207. Kewajiban empat rakaat pun dapat terlaksana pada 17.25 WIB. 

Indikator bahan bakar pun memaksa berhenti kembali di KM 379. Rest Area ini berada di Batang, Jawa Tengah. Secangkir kopi instan dan tiga cup es krim buat bocah sengaja kubeli untuk sekedar memulihkan konsentrasi perjalanan jarak jauh. 

Setelah mengisi pertalite 200 ribu rupiah, aku pun tancap gas melanjutkan perjalanan ke Sleman. Total menjadi 400 ribu rupiah dengan separonya kubeli saat sebelum mengawali perjalanan. 

Sampai di KM 483, keluar dan sampailah di Sleman. Seporsi bakmi Pak Hardi mengisi perut yang sedianya bakmi Mbah Ndumok. Dini hari pun segera meluncur ke hotel Mertua Indah. 

Akhirnya, 11 jam perjalanan Jakarta-Jogja di masa Pandemi ini mengiringi cerita di malam satu suro atau malam tahun baru Hijriyah. 

Sapaan Si Penjual

ora dho melu, iki? ” sapa Si Penjual kepada Si Pembeli saat menyerahkan sebungkus pesanan. Sembari menanyakan total harga dua ekor lele goreng kremes dan satu potong ayam goreng, si pembeli menjawab, “iyo e mas, bocah bocah di rumah

Hampir setiap kali kedatangan Si Pembeli di warung kaki lima itu, Si Penjual pasti menanyakan anak anak yang sudah tidak diajak. Sebelum datangnya Pandemi, tiga anak Si Pembeli menjadi pemandangan bagi Si Penjual saat menunggu menu pesanan selesai disiapkan.

Mungkin pemandangan itu sangat berbeda bagi Si Penjual. Pemandangan yang tidak dilihatnya pada pembeli yang lain. Pemandangan tiga anak yang masih balita di atas motor bersama Si Pembeli saat menunggu menu pesanan selesai dipersiapkan oleh si penjual. 

Dari cerita di atas, nalarku melahirkan tanda tanya ❔. Apakah sapaan kepada Si Pembeli itu merupakan strategi penjualan? Apakah sapaan itu mempunyai maksud agar terbina keakraban antara penjual dengan pembeli? Apakah sapa Si Penjual itu dapat mengkondisikan kedatangan pembeli di warungnya bersamaan dengan persaingan antar warung kaki lima? 

Di hari Selasa 18 Agustus 2020, si Pembeli pun kembali mendatangi warung Si Penjual itu. Tidak seperti biasanya, ia menunggu hampir 30 menit. Riuh ramai warung kaki lima sejak area jualan direnovasi oleh pemilik lapak. Penampakan renovasi bangunan semi permanen yang terlihat lebih bersih dari sebelumnya, menambah deretan antrian para pembeli. 

Setelah menunggu lebih dari lima orang termasuk OJOL, Si Pembeli itu pun mendapat giliran. Menu pesanan yang telah selesai disiapkan pun diserahkan kepada Si Pembeli seraya berkata “ora dho melu, iki? ” 

Sapaan khas dari Si Penjual itu pun menyudahi transaksi setelah ucapan terima kasih dan uang kembalian yang diserahkan kepada Si Pembeli. 

75 Th. HUT RI di Masa Pandemi 

“aku disuruh hormat ke televisi” kata tetanggaku menjelang Jamaah Dzuhur di Mushola Villa Tanah Baru. Kalimat tetanggaku itu karena penugasan instansinya untuk mengikuti upacara bendera via daring.

Mungkin agak sedikit aneh y…. Meski demikian begitulah pemandangan yang dapat diceritakan di  tanggal 17 Agustus 2020 dalam peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tak terkecuali, masa pandemi COVID 19 ini pun berdampak dimusim upacara dalam peringatan HUT RI. 75 tahun Indonesia merdeka, disuguhi kejadian yang unik dimana para ASN yang mendapat tugas dari instansi, mengirim foto yang menampakkan penghormatan kepada bendera merah putih. 

Begitu pula upacara penurunan bendera di Istana Presoden di sore harinya. Satu tetanggaku lainnya pun masih mengenakan kemeja putih, saat kusapa di jamaah Ashar di mushola VTB. Setelah kutanya, ternyata beliau juga ditugaskan mengikuti upacara penunuran bendera via daring.

Tentu kemeja putih lengan panjang yang dikenakannya menjadi dress code agar foto layak dikirimkan kepada pimpianan instansi. Selain itu di WAG tersebar foto salah satu teman yang mengenakan pakaian adat, sebagaimana Presiden Republik saat memimpin upacara yang sempat kulirik di televisi. 

Akhirnya, cerita pandemi COVID 19 telah sampai pula di momentum kebebasan Bangsa Indonesia dari Penjajahan Kolonial. Semoga meningkatnya angka orang yang terpapar virus COVID 19 bukan menjadi suasana keterjajahan. Namun menjadi perenungan dalam memaknai arti kemerdekaan. MERDEKA 

Perjalanan Udara di masa Pandemi

Mas, yang pakai tas merah” panggil teriak petugas pemeriksaan saat boarding di Sultan Mahmud Bandarudin II. Mendengar teriakan petugas, aku pun kembali di gate 2 sebelum masuk ke garbarata. “iya pak” kataku dengan tenang. Pikirku pun sudah memprediski apa yang akan ditanyakan, yakni keterangan hasil rapid test.

Ternyata benar dugaaanku. “mas tadi enggak lapor ke petugas chek in ya, bisa ditunjukkan hasil rapid test? …”, kata petugas gate 2 saat boarding. Aku enggak menjawab, justru kembali bertanya, sembari menyerahkan selembar kertas yang telah divalidasi oleh petugas sebelum masuk di ruang tunggu keberangkatan.

Petugas nya pun tidak menjawab pertanyaanku. Mengapa petugas sebelum masuk ruang tunggu tidak menanyakan namun mempersilahkan masuk?. Kebetulan aku chek in via online dan keterangan boarding hanya berupa foto di Handphone saja.

Kemudian, petugas lainnya memberikan komentar bahwa meski telah Chek In Online, namun tetap harus melapor pertugas Chek In, sehubungan, kertas keterangan hasil rapid harus difoto kopi untuk dilampirkan pada data penumpang pesawat, meski di CGK tidak melakukan itu.

Cerita di atas menggambarkan penambahan prosedur selain boarding pass dan ID Card. Perjalanan melalui bandara wajib menunjukkan formulir deteksi dini COVID 19 atau hasil rapid test. Selain itu, melalui aplikasi IHAC atau kepanjangan dari Indonesia Health Alert Card, calon penumpang kudu mengisi data diri sesuai jadwal, tujuan, serta nomor pesawat. 

Akhirnya, perjalanan dimasa pandemi COVID 19 memerlukan adaptasi kebiasaan baru. Transmisi orang atau barang dari satu wilayah ke wilayah lain, memerlukan penambahan prosedural selain tiketing, chek in atau boarding pass dan Id Card. Jika temen teman berencana bepergian melalui Bandara musti mempersiapkan Hasil Rapid test dalam bentuk kertas dan mengunduh aplikasi IHAC dan mengisinya. 

Semoga bermanfaat 

Palembang

14 Agustus 2020, aku menginjakkan tanah Palembang melalui Sultan Mahmoed Badarudin 2, pintu masuk tanah leluhur, Kerajaan Sriwijaya. Palembang termasuk kota tua di Indonesia, dimana sejak ribuan tahun lalu telah menjadi tempat berlangsungnya peradaban manusia. 

Bahkan, Kota Palembang yang selama ini hanya kukenal dengan makanan Khas “empek – empek”, ternyata selama ratusan tahun menjadi wilayah kesultanan sampai datangnya Belanda. 

Kedatanganku ke Palembang ini menjadi perkenalan singkat sebagai bonus semangat membersamai persahabatan. Jalinan timbal balik dengan manusia di sekitarku. Teman yang selalu membantu atas beban tanggung jawabku dalam pekerjaan. 

Tulisan ini akan menjadi catatanku, membersamai para sahabat/manusia/teman/anak/tim di pengalamannya naik Garuda Indonesia. Seolah kekuatan dari wilayah yang memendam nilai historis panjang membela rasa kebersamaan dalam keterbatasan. 

Terbatas dari kompetensi pengadministrasi pada urusan administrasi pembeayaan. Terbatas pula dalam pengalaman pengurusan dan mengoperasikan sarana kerja. Terbatas kelihaian mengkoordinasikan antar simpul kegiatan. Terkuak setelah berada di pulau seberang dan menaiki kendaraan burung besi simbol prestise. 

Akhirnya, aku pun mengembalikan keajaiban ini pada Sang Pemilik Kekuatan. Bijaku pun berbisik, “inilah buah jiwa kesetiaan”. Bahkan tafsirku atas perkenalan dengan Palembang ini semakin menunjukkan “Gusti Allah, Mboten Sare”