Sepuluh tahun pernikahanπππ«π°, menyudutkan ungkapan syukur kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Bulan kesembilan itu, janji dihadapan penghulu mencatatkan pada akta negara. Aku bermodalkan niat menjalankan sunah Rasul, kekasih Allah dan melengkapi sisi gelapnya manusia. Gadis dari pasangan yang tinggal tidak jauh dari gubuk kelahiran ku, menjadi persinggahan.
Tak terasa, persinggahan yang kujalani telah satu dasawarsa lamanya. Bersamanya, untaian minggu ke bulan bertautan sepuluh tahun. Dari dua menjadi lima, bersama ketiga anak dalam bangunan π’ pernikahan. Bisik godaan dan kefalsan, belum mampu menggoyahkan jalinan sejoli. Hidayah dan anugerah Allah Sang Penguasa Jagad Raya lah sang penentu.
Meniti hari hari sebagai kaum Urban dengan lima hari kerja, bisa jadi menjadi penghalau kegundahan. Beranjak dari terjaga hingga terbenamnya surya, tak begitu parah dalam kubangan gelapnya prasangka. Seolah waktu begitu cepat berlalu, hingga persoalan tak nampak begitu nyata.
Nalar pun terantuk pada ketaktisan berfikir. Dengan sadar aku mempersempit lingkaran pergaulan demi menjaga resiko jalinan dan relasi berkeluarga. Tak harus narsis demi menjaga eksistensi diri, karena bagiku usai sudah petualangan. Episode berumah tangga persinggahan yang ketiga, baca juga π