Nasywa tidak lagi ngedot

Alhamdulillah, diperlihatkan satu anugerah Ilahi dari satu pertumbuhan dan perkembangan anak. Kak Nasywa sudah melepaskan ketergantungan dari dot dan botol berisikan susu. Kini kak Nasywa sudah bisa tidur malam tanpa harus ditemani oleh susu dot.

Bapak sangat senang melihat kak Nasywa terus tumbuh dan berkembang. Bahkan dengan sendirinya kak Nasywa telah memutuskan untuk tidak lagi mempergunakan dot sebagai pengantar tidurnya.

“kalo mau jadi boboboy, Thole harus minum susu tidak pake dot” kata kak Nasywa kepada adiknya. Tak berapa lama dari perkataan tersebut, kak Nasywa pun mencontohkan untuk minum susu dengan gelas sebelum tidur. Dengan rasa tanggung jawab, kak Nasywa telah mencontohkan dan memegang perkataan dengan jiwa kedewasaan dan kedaulatan.

Hampir seminggu ini, tawaran susu dot sebelum tidur selalu ditolaknya. Padahal kebiasaan bermanja manja setiap sebelum tidur, langganan dua sampai tiga botol susu dot racikabn bapaknya mengantar tidur Kak Nasywa

Bagiku, sudah menjadi prestasi sang anak tatkala mampu berpaling dari susu dot. Pun menjadi kebanggaan untuk kesekian kalinya. Sebelumnya pada tulisanku di 18 Juni 2019 👇

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/06/17/nasywa-dipta-rara

Nasywa telah berhasil melepaskan jeratan ngompol di tempat. Keuntungannya adalah dapat meninggalkan popok bayi berbagai merk yang selama ini menjadi barang belanjaan pokok.

Terimakasih kak Nasywa, puja dan puji hanya untuk Allah Sang Pencipta, untuk bimbingan dalam menggapai prestasi kehidupan si buah hati tercinta. Karena hanya atas kehendak Nya, tumbuh dan kembang anakku terus berjalan sesuai dengan kebutuhan dan ketepatan waktu.

Gedung Migas Ibnu Sutowo

Selalu berada di balik Gedung 🏢 yang dimiliki Badan Usaha, begitu kiranya keberadaan Gedung kantor ku. Lepas dari Gedung Dharma Niaga, Direktorat Jenderal Migas menempati Gedung Plaza Centris yang sebelumnya bernama Lukitha Plaza. Dari penelusuran via mbah google, aku mendapati sumber informasi pada tautan

https://www.setiapgedung.web.id/2019/04/plaza-centris.html?m=1

Sejak tahun 2001, unit kerja di bawah naungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral urusan minyak dan gas bumi berpindah di Gedung perkantoran sebelumnya yang saat ini bernama GRAHA PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia).

Cerita dari beberapa senior bahwa sejak 1993 s.d 2000 menempati gedung Dharma Niaga. Saat ini, Gedung tersebut bernama GRAHA PPI

Sumber :

https://www.setiapgedung.web.id/2019/10/graha-ppi.html?m=1

Bagiku yang lebih dari sepuluh tahun menuju ke Gedung bertingkat enam belas ini pada setiap hari kerja, menjadi sangat memorial untuk dituliskan.

Bisa jadi bagi kurang lebih 600 orang pegawai, Gedung Ibnu Sutowo akan menjadi habitat dalam menghabiskan hari hari dalam episode bekerja. Meski telah berpisah dari atmosfir gedung perkantoran yang sempat diisi oleh perusahaan swasta, namun lokasi di pinggiran Jl. HR Rasuna Said Jakarta Selatan tetap berasa pada jantungnya metropolitan.

Baca juga

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/10/15/gedung-ibnu-sutowo/

Profil Gedung Ibnu Sutowo 👇

https://youtu.be/tnhjqFx2u6c

Arti Kecelakaan

Kamis, 2 Januari 2020 kudapatkan pelajaran dari kepedihan seseorang pada fisik tubuhnya. Enam bulan menjelang pensiun, menutup cerita kehidupan seseorang dengan kasih sayang Sang Pencipta meski harus berdebat dengan arti suatu kecelakaan.

Siapapun orangnya, termasuk aku pun tak dapat berlari dari kecelakaan. Kemalangan yang menimpa badan dengan rasa yang begitu sakit akan mengkondisikan orang pada gejolak batin menelusuri suatu kenyataan.

Nyatanya, keberuntungan dan kehati hatian itu mutlak meski semua sudah digariskan oleh Sang Pemberi Kehidupan. Cacian orang atas karma, azab, ujian dan cobaan atau dalam istilah Jawa yang kuingat adalah “ngunduh wohing pakarti” : “kenyataan merupakan hasil dari tindakan sebelum sebelumnya” , semoga bagian terpenting untuk selalu kuingat.

Apapun itu, yang harus kulakukan adalah menebar kebaikan untuk menuai keberuntungan dan kondisi kehati hatian. Semoga terhindar dari segala bentuk kecelakaan.

Hal diatas menjadi buah perenungan malam hari sebelum tidur. Perenungan dari kejadian siang hari di episode kehidupan di kantor.

Di awal tahun 2020, jam di mesin absensi belum genap 07.30 WIB. Setelah menempelkan jempol tanda masuk ke kantor, lokasi yang kutuju adalah melampiaskan kecanduan nikotin tembakau beserta kenikmatan buang air besar.

Tak berapa lama memasuki ruang kerja, panggilan pimpinan via telepon menyeret untuk berbincang dengan kepala Bagian terkait teman kantor yang terbakar wajahnya.

Aku pun mengkoordinir beberapa orang untuk mendatangi RSUD Tarakan dimana teman sekantor sedang terbaring dalam perawatan medis. Seluruh wajah terkena luka, panasnya minyak saat menggoreng barang dagangan mengenai kulit muka beserta kedua tangan dan kaki.

Bulu kuduk pun berdiri saat mendengar cerita temen yang lebih dulu masuk ruang inap. Selang beberapa menit, giliran ku untuk memasuki ruang perawatan. Ruang kelas tiga dengan beberapa pasien dibatasi kain menjadi saksi dimana aku harus menyaksikan kepedihan seseorang menahan sakit.

100 persen wajah terbakar panasnya minyak penggorengan. Hampir kutak mengenali wajah itu, jika tak menerima jawaban sapaan yang keluar dari mulutku. Pedih yang dialami temenku, tak sanggup tergambar dengan kata kata.

Setelah kusampaikan salam dari pimpinan, aku pun pamit dan meninggalkan rumah sakit. Bacaan doa untuk orang sakit pun meluap. Dalam hati kupuja dengan harapan semoga lekas baikan dan penuh ketabahan.

Semoga berguna

Bersepeda

Meski sedikit grogi untuk bersepeda ke kantor, namun ajakan temen terlalu susah untuk ditolak. Kepengecutanku untuk bersepeda, ditambah belum punya kostum. Tapi apa lah itu, tekat untuk bersepeda ke kantor harus dimulai.

Atmosfer bersepeda telah melanda dimana mana, termasuk di Sleman Yogyakarta. Pun tatkala mendapati Bapaku yang di kampung Sucen, keranjingan naik sepeda di hari sabtu atau minggu.

Beberapa kenalan juga sudah rajin bahkan menghobikan diri untuk bersepeda. Bagiku, sepeda mempunyai memori perjuangan saat menjalani pendidikan tingkat pertama. Dari 🏡 rumah ke gedung sekolahan berjarak puluhan Kilo meter kutempuh tiap harinya naik sepeda.

Sekitar tahun 1994 – 1997, mengayuh sepeda menjadi rutinitas harianku dari senin sampai dengan sabtu. Khusus untuk hari Jumat, pulang balik dua kali karena jadwal kegiatan pramuka di Sekolah Menengah Pertama.

Dua belas tahun kemudian, dan di hari terakhir tahun 2019, aku pun mengulangi naik sepeda berjarak 25 KM untuk berangkat kantor. Meski kaki terasa pegal untuk menggenjot pedal, dan sempat kepikiran menyerah, namun sampai juga di Kantor (gedung Ibnu Sutowo).

Jalan yang menurun, berpihak kepada kekuatan kedua kakiku. Sepanjang jalan Depok ke Jakarta mempunyai karakter agak menurun. “yang agak berat, nanti pulangnya” kata Dani, temen sekantor. Sore nanti menjadi tantangan ke dua. Jakarta ke Depok dengan kondisi jalan agak menanjak.

Bersepeda, capek sih… Bersepeda, nostalgia semasa remaja… Bersepeda, merasakan kenangan memori lama…. Bersepeda, merasa asing karena riuh kendaraan bermotor di jalan yang sama…. Bersepeda, merasakan minoritas yg lebih akrab, disapa oleh pesepeda lain meski belum kenal sebelumnya.

Semoga berguna

Kode Etik Arsiparis

Pagi ini, melalui WAG kudapati file “kode etik arsiparis” dari seorang teman. Aku pun harus menyampaikan ucapan terima kasih atas respon dari topik yang aku tuliskan pada 19 Desember 2019 tautan 👇

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/12/19/asosiasi-arsiparis-indonesia-2019/?preview=true

Meski file termaksud bukan berasal dari pengurus AAI, dan masih belum terbaca keabsyahannya (tidak adanya tanda tangan), namun setidaknya dapat diilustrasikan substansi isi kode etik tersebut.

Adapun tujuan tulisan ini sebagai sarana pendalaman substansi isi untuk menyediakan informasi bagi pembaca pada posisi si pemilik profesi. Ya, aku pun berprofesi sebagai arsiparis.

Jika ada yang berpendapat, kenapa sih harus membahas kode etik, toh rincian tugas serta standar kualitas hasil kerja arsiparis telah ditetapkan oleh instansi pembina (ANRI). Jika kita mendalami maksud dan tujuan serta melaksanakan dengan sebaik baiknya maka kelar sudah kewajiban sebagai arsiparis.

Nanti deh y, nulis lagi kenapa harus ada kode etik profesi. Itu lo.. Kayak yg di tv atau media berita lain, bahwa kode etik profesi, sering dirujuk untuk menjadi standar perilaku para profesional yang katanya menghargai keahlian dan ketrampilan tertentu.

Setidaknya terdapat empat bab yang menjadi standar moralitas pelaksanaan profesi kearsipan. yakni

1. Etika dalam berbangsa dan bernegara

2. Etika dalam berorganisasi

3. Etika dalam bermasyarakat

4. Etika pada bidang kearsipan

Masih ada yang tertinggal? Kemungkinan sih masih ada y…. Tak dipungkiri bahwa tiga tahun terakhir ini, kondisi sosial, birokrasi, pengaruh kemajuan teknologi informasi sangat memperlihatkan kemajuan.

Contohnya misalnya era industri 4.0 yang identik dengan perubahan pendekatan konvensional menuju pendekatan digital dan berbasis aplikasi dalam pemenuhan kebutuhan manusia.

Misalnya pada etika bermasyarakat, arsiparis dituntut untuk memiliki pola hidup sederhana, tanggap atas kondisi lingkungan (disadir dari file kode etik versi termaksud). Kemudian dari sumber itu juga tertulis bahwa arsiparis dituntut untuk memiliki rasa empati, hormat, santun, tanpa pamrih dan tanpa unsur pelaksana dalmm memberikan pelayanan.

Kemudian, dalam pasal selanjutnya yang masih bersumber pada file yang sama disebutkan bahwa arsiparis harus mempertahankan mutu Profesionalisme dalam memberikan sumbangan dan pemikiran. Selain itu arsiparis harus dapat mengemban mandat dalam arti kepercayaan khusus dan menghindari penyalahgunaan wewenang secara tidak adil untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok tertentu.

Hal diatas, jika diresapi mendalam, bisa jadi berasa sangat komplek untuk bersinggungan dengan kondisi masyarakat yang terus berkembang. Menjadi pertanyaan arsiparis adalah, bagaimana jika nantinya terjadi pelanggaran kode etik tersebut?

Pertanyaan kepada substansi isi kode etik yakni apakah etik dalam bidang kearsipan sudah sesuai dengan tantangan masyarakat di era industri 4.0???

Etika dalam bidang kearsipan tertulis antara lain arsiparis berkewajiban pengelolaan terhadap informasi, menjaga integritas bahan kearsipan untuk menjamin bukti masa lampau, menilai menyeleksi memelihara dalam konteks kesejarahan hukum administrasi dengan tetap menjaga asal usul.

Arsiparis harus melindungi otentisitas arsip selama proses kerja kearsipan, pelestarian dan penggunaan. Arsiparis mempromosikan seluas mungkin bahan kearsipan.

Etika dalam bidang kearsipan tersebut diatas bisa jadi masih debatebel diantara para pemilik jabatan kearsipan. Penulis masih teringat pada permintaan salah satu wakil sekjen AAI untuk mengilustrasikan melalui tulisan persinggungan wilayah pekerjaan kearsipan dengan pranata humas dan pranata komputer.

Baca juga

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/08/21/rincian-tugas-arsiparis/

Ilustrasi diatas memang masih kurang untuk dapat mendalami substansi isi kode etik arsiparis. Namun demikian, Diakhir tulisan ini, menjadi pekerjaan rumah bersama sebagai pemilik jabatan kearsipan untuk terus mendiskusikan sehingga dapat diperoleh kesepakatan yang dapat diterima oleh arsiparis di manapun berada.

Keberadaan arsiparis pun di instansi pemerintahan mempunyai tipikel kondisi kearsipan yang berbeda beda. Arsiparis dalam kedudukan di lembaga kearsipan, di unit kearsipan, di unit pengolah memiliki karakteristik organisasi yang beragam.

Terlebih kearsipan dituntut untuk terus mengimbangi perkembangan teknologi informasi yang begitu melesat di empat tahun terakhir ini.

Semoga berguna

Dharma Bhaktiku untuk Sang Pencipta

Minggu, 29 Desember 2019

Aku mengawali pagi hari dengan bersepeda Bareng Thole di hari terakhir di libur panjangku. Bhakti lingkungan sampai dengan jam 15.00 WIB menenggelamkanku di aktivitas kebersihan taman di perumahan. Gak tau, tiba tiba karena terbiasa di empat tahun terakhir ini, banyak waktu libur ku untuk merapikan lingkungan sekitar rumah.

Terlebih panggilan sosial setelah berdirinya mushola, aktivitas libur kerja tersedot untuk Bhakti sosial. Aku pun harus memperkosa permakluman dari istri yang harus menerima lelakinya keluar rumah. Waktu libur yang seharusnya hanya diisi dengan bercengkerama bersama anak dan istri.

Area taman yang kini berdiri Mushola, akan dikembalikan menjadi taman meski tidak seukuran yang lalu, pinta pak RT yang terpilih di bulan November 2019. Aku pun segera mengambil inisiatif untuk memanggil tukang pengangkut kayu dan bambu sisa bangunan mushola.

Lepas jamaah Dzuhur, aku pun membersihkan lahan sisa fasos itu dimana sebelumnya telah berdiskusi dengan Herman(tukang), untuk segera mendirikan tembok pembatas.

Meski kegelisahan sisi pembiayaan, namun tak menyurutkan niat ku untuk segera membuat area sekitar mushola kembali rapi sebagai wujud pengembalian area taman.

Allah maha mengetahui niat baik hamba Nya. Alhamdulillah, pak Bayu bersama istri membawakan 2 juta di sore hari. Ketakutan atas ketersediaan modal membeli rangkaian besi tiang dan sluf serta cakar ayam, sedikit terobati.

Bhakti pamungkasku di penghujung tahun 2019 dan lepas jabatan ketua RT 10, sedikit lega karena tampilan sekitar Mushola sudah mulai dipersiapkan. Nantinya dapat menjadi bahan laporan pertanggungjawabanku di hari Selasa ini saat pisah sambut dengan kepengurusan RT 10 periode 2019-2022.

Diakhir tulisan ini, sebagai hamba yang merasa lemah, layak kiranya ku selalu mengharap perlindungan Sang Khaliq yang selalu menjadi teman setia.

Ya Allah, perkenankan melalui tulisan ini, aku menyampaikan permintaan kepada Mu, jika akan menjadi kebaikan, berilah jalan yang mudah. Jika akan menjadi keburukan, segera beri peringatan.

Jika dharmaku melalui kebersihan lingkungan perumahan VTB dan penyiapan area dan fasilitas sholat adalah kebaikan. Kuatkanlah mentalku Ya Allah, dalam pelaksanaannya.

Berilah petunjuk jalan dalam penyediaan beaya. Bukakanlah pintu permakluman dan dukungan dari warga sekitar. Jadikanlah diri ini selalu rendah hati dan berpikiran positif. Hilangkan lah prasangka buruk ku terhadap sesama. Jauhkanlah dari rasa dan jiwa miskin.

Ya Allah, bukakan permakluman dari istriku, bahwa suaminya ini selalu membuat kecewa. Semoga kebaikan dan keberuntungan selalu menyertai istri dan anak anaku.

Aamiiiin.

Perjalanan akhir tahun 2019

Aku bersama istri dan ketiga anaku menjalani sepekan pada ujung tahun 2019 di Sleman Yogyakarta. Biar kayak orang orang gitu…maka dalam sepekan ini kuberikan judul “berlibur di kampung halaman”.

Persediaan kartu berisikan rupiah untuk dapat mengakses Jalan Tol kurang lebih senilai Rp. 800.000′-. Sedangkan petty Cash di Jalan dipersiapkan untuk menembus Bahan Bakar Minyak sampai dengan Rp. 1.000.000,-.

Sabtu, 21 Desember 2019

Bersiap lepas melaksanakan dua rakaat berjamaah di Mushola Al Ukhuwah VTB, baru jalan di 5.10 WIB. Pejalan pun terkesan macet dari dampak hawa liburan. Sejam berjalan sudah berada pada KM 43 tol lingkar luar Jakarta (6.10 WIB) dan tepat jam delapan pagi berhenti di rest Area 57 tol cikampek

Keluar Tol Kendal dikarenakan mempergunakan akses One Way dan sempat merasa tersesat karena harus berbalik arah sekitar 11 KM tepatnya di exit tol weleri. Sesampainya di Jabung Pandawaharjo Sleman Yogyakarta,jam 21.00 WIB, kita pun bermalam.

Minggu,22 Desember

Pagi bergegas untuk menengok paman yang mengidap kanker usuastadium 3-4. Tak berapa lama, rengekan bocah mempertemukan mereka dengan keponakan. Tak didapati Bapak di rumah Sucen, hiburan anak di Palanggi Tirta, menjadi arena bermain air.

Hobi membaca Kak Nasywa pun menyeret untuk mampir di Toko Buku Sosial Agency Jalan Kali urang. Diiringi hujan lebat sore hari, mengantar Nayla ke Sucen. Tak sengaja mampir rumah paman Amat (adik ibu) yang ditemui istrinya dengan selisih umur hampir 20 tahun.

Ngobrol di rumah kakek, diakhiri pesan bakmi mbah Ndumok melalui Go Shop (aplikasi Gojek). Aku pun tidur di rumah 🏡 yang mulai jarang ku datangi sejak tahun 2007 Nasywa tidur bersama Nayla

Senin, 23 Desember 2019

Ada sesuatu diluar kebiasaan tatkala dapat berjamaah subuh dengan mengajak bapak ke Masjid. Ketakjubanku pun datang tatkala melihat masjid yang sempat mengisi episodeku dalam proses pencarian Cpns banyak didatangi warga. Tiga shaf diisi oleh warga di RW 06 Sucenuntuk dua rakaat di awal hari.

Sarapan pagi,berwujud nasi goreng oleh adik ipar tak tersentuh. Soto pak Marto depan GOR Sleman lebih menghiasi selera sarapan. Antrian dan meja kursi yang selalu penuh di pagi hari terlebih di hari libur, teringat dimemoriku sejak 10 tahunan yang lalu.

Panggilan 📞 istri untuk manyambangi kedatangan tetangga Depok hanya ku iya kan di rumah Mertua. Tak tau kenapa, kok akhir akhir ini, semangat bersosialisasi dengan teman dan kenalan sudah berada di ujung kebosenan. Kondisi yang bersebrangan kala waktu masih jomblo dan masih punya satu anak.

Sejak semalam Nasywa bersama dengan tantenya diakhiri di Sleman City Hall. Aku pun harus menuruti Dipta yang mencari Kak Nasywa dan ketemu di Lapangan Denggung untuk bercengkrama di Jabung di sore hari bersama Kakung dan Uti. Meski agak ngambek karena masih berasa senang dengan masa bermain bersama Nayla, Nasywa pun terhibur dengan rencana main pasir dan ombak laut Kidul.

Selasa, 24 Desember 2019

Jam 7 pagi bersiap ke pantai Parang Tritis. Ketiga kali nya, dipantai yang terkenal dengan misteri Nyo Roro Kidul, Dipta tenggelam dalam keriangan bermain pasir dan ombak.

Tak kalah pula dengan si Bontot, kali perdana menginjakkan kaki diatas pasir pantai, Rara pun tenggelam dengan keasyikan bermain dengan alam. Ombak yang bergulung gulung serta air laut dengan pasir yang lembut begitu asyik untuk dijadikan arena bermain ketiga anaku.

Sejam terasa cepat berlalu hingga di tengah hari, demi panggilan perut, perjalanan pun menyasar di pantai Depok. Di barat Parang tritis terhampar puluhan perahu nelayan dan pasar ikan. Saat ini menjamur warung makan seafood yang menjajakan aneka tangkapan para nelayan.

Petang hari, tatkala Nasywa masih saja nempel dengan keponakan yang umurnya tidak jauh berbeda (selisih 2 tahun) membawa ragaku untuk kembali nostalgia dengan jamaah Masjid Asy Syifa. Meski telah berkembang dengan perluasan bangunan serta tanah, tempat ibadah tersebut menjadi kenanganku, tiga rakaat untuk magrib dan bersamaan dengan ketua Takmir mengakhiri nostalgia kilat.

Aku pun harus mendiskusikan keinginan pengiriman sedekah untuk ibuku nun jauh di alam kubur melalui pengelolaan hasil kos kosan oleh ari adiku. 2 meter persegi sebagaimana harga tanah lelang wakaf semoga menjadi cahaya dari anaknya yang masih kurang berbhakti

Lepas magrib, naik motor menyurusi jalan di sekitar sampai ke pasar malam Denggung (naywa, nayla dan Dipta) menjadi isian aktivitas dimana makan es Cream Campina di depan Indomaret Warak Lor dan berakhir di warung bakmi pak Hardi.

Rabu, 25 Desember 2019

Memori pun terkuak kala menerima pengorbanan dari ibu sambung saat merawat Nasywa di Jakarta. Jam delapan pagi, aku beserta anak dan istri menyambangi Dusun Demi, Sriharjo, Imogiri Bantul. Rumah tempat tinggal istri sambung yang menjadi pilihan bapak.

Tak dapat bertemu bapak di Bantul, bunyi telpon membelokkan arah mobil untuk nyamperin kakek (sebutan bapak untuk cucunya) di Sucen Triharjo Sleman. Keakraban dirumah dirasa belum lengkap tanpa ada suasana arena bercandaan. Meski gerimis tak menghalangi demi mencari suasana bercanda dengan tujuan Obyek Wisata Kali Urang (Gardu Pandang).

Pengalaman anak untuk bertatap muka dengan berjumpa dengan hewan liar pegunungan “monyet”, menjadi penutup perjumpaan debgan nayla dan kakek.

Kamis, 26 Desember 2019

Perjalanku pun sampai di ruko tempat pengobatan non medis. Metode sinse yang telah lama kudengar, kali ini kusambangi untuk mengantar adik mertua ke dekat tugu jogja.

Sembari menunggu, tak sengaja memasuki emperan pasar Kranggan. “nek ngango mentok, regane larang lo mas” kata penjual nasi gudeg di pasar itu. Luar biasa, begitu baiknya si ibu penjual nasi itu yang memberikan informasi sebelum terjadinya transaksi jual beli

LAPANGAN Denggung

Dimana saja badan ini selama di jogja? Badan pun encari suasana di daerah kelahiran. Misalnya terdampar di area pertemuan publik seperti upacara, pasar malam, ceremoni publik berada di Jantungnya Kabupaten Sleman, area perkantoran bupati Sleman. Tepatnya pada lapangan Denggung.

Di daerah itu, biasa aku mengantar dan menjemput ibuku untuk bekerja di pabrik lampu. Dulunya, tepat disebernang lapangan Denggung, beroperasi perusahaan Sibalec dengan produk bermerk DOP (lampu pijar).

Bisa dibilang, jiwa dan ragaku menjadi buah jasa perusahaan tersebut. Ibuku yang bekerja di perusahaan itu sampai dengan beliau menghadap ke Ilahi Rabbi tercatat sebagai karyawan tetap.

Perusahaan LAMPU yang pada perkembangan diakuisisi oleh GR Ligthing pun tidak mampu bertahan. Kini bangunan berubah fungsi dengan pemugaran secara struktural menjadi Sleman City Hall (pusat perbelanjaan terpadu yang biasa disebut dengan Mall)

Bukan lagi Bocah Kampung

Aku pun sampai untuk bernostalgia menikmati suasana sederhana. Layaknya anak kampung, sederhana karena tidak ada pilihan. Kini sederhana adalah pilihan. Memilih untuk tidak kemana mana.

Mengurai kenangan lama untuk dimaknai menjadi sesuatu yang indah. Suasana sederhana yang kudapati saat pulang kampung. Bocah bermain apa adanya dan tak jarang mereka mencari ide hanya untuk mengubur waktu sampai dengan datangnya malam.

Hijaunya persawahan di musim penghujan ini dan suara gemericik air menambah kesyahduan. Tak perduli dengan obyek wisata yang sering dikunjungi banyak pelancong dari luar kota. Maklum, kota jogja menjadi salah satu destinasi wisata di Indonesia.

Bahkan melalui tulisan 👇 👇https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/12/04/merasa-asing-di-kota-kelahiran/

karena tak pernah jalan jalan, tak banyak yang kuketahui tentang seluk beluk jogja. Menjadi sangat sederhana memang susah, dimana sudah mulai terbiasa di pagi hari mencari sarapan dengan jajan, dan tak lupa malam hari dengan jajan.

Berjuang, berkedaulatan diri “kesehatan”

Sleman, di penghujung tahun 2019

Nikmat apalagi yang kau dustakan?

Kalimat diatas adalah satu dari ribuan Ayat Nya, yang semakin menuntunku untuk mempunyai kedaulatan diri.

Di depan kedua mataku, dan terdengar di kedua kupingku, seseorang berkata “vonis terhentinya fungsi organ tubuh vital dari medis (meninggal) akan berada pada sekitaran 14 bulan lalu/ini di tahun 2019”.

Menjalarnya sel kanker di usus telah merembet ke bagian di tubuh lainnya. Dokter pun berpendapat jika harus dilakukan tindakan “operasi” , maka diperlukan transpalasi hati. “dimanakah dan dari siapakah donor hati itu?” kata pak Anto menceritakan kegundahannya lepas mendengar penjelasan dari dokter.

Nikmat apalagi yang kau dustakan?

Agar tak terperdaya karena suatu kalimat, meski berasal dari Kitab Suci, perlu kiranya mengurai potret kejadian dalam mentadaburi (memperkaya sudut pandang) agar terjauh kan dari sikap pendustaan terhadap NikmatNya

Otaku semakin terbuka bahwa medis hanya salah satu sarana menjamin kesehatan. “kanker ciptaan Allah, dan aku ciptaan Allah, jika harus bertemu dan bersama, maka janganlah saling ganggu” kata Pak Anto kepadaku untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya ketegaran sebagai salah satu wujud kedaulatan diri.

Hmmmm… Kanker diajak ngomong? Penyakit diajak bicara, begitu terhormat diri Pak Anto yang mendudukan ciptaan Allah, meski itu berwujud hal yang menyakiti tubuhnya.

Bahkan, ketidakberdayaan medis untuk menjadi salah satu cara penyembuhan, menjadikan sosok yang berjiwa bebas (pak anto’) masih sempat berkelakar kepadaku “banyak manfaatnya kok mas nurul dengan penyakit ku ini”

Masya Allah….. “Edaaan, Gile abis nih orang” batinku kala mendengar kelakarnya, meski mata ini harus berkaca kaca karena tersudutkan rasa empati. Masih kuat dan berani ya….dan bener bener keluar dari mulutnya bahwa “penyakit yang terkenal mematikan itu” dibilang membawa manfaat.

Nikmat apalagi yang kau dustakan?

Bahwa derita apapun masih dibawakan sebagai nikmat, tanpa harus mengharu biru dengan jiwa pendusta. Bisa jadi tempaan beban berat kehidupan telah membawaPak Anto pada pola pikir kebebasan dan membentuk kedaulatan diri.

Pikiranku pun terbawa untuk terbukanya memori batinku yg tersayat saat putusan dari medis untuk tindakan “operasi” untuk anak pertamaku. Saat itu, aku hanya pasrah yang menunjukkan ketidakberdayaan pengetahuan dan wawasan demi suatu kesembuhan yang memang harus diupayakan.

Padahal manusia punya kedaulatan untuk membuka wawasan dan pengetahuan. Ada gudang informasi dari buku, atau dari testimoni orang lain yang terekam dan terendus pada jejak digital. Bukan sekedar pasrah mengharap kesembuhan dari salah satu sarana yakni jalur Medis. Toh ada cara non medis (alternatif) atau ala tradisional dan lain lain. Intinya kesembuhan berasal dari Kuasa Allah.

Hari ini aku harus berterima kasih pada guru kehidupan (pak anto’) yang kembali menginspirasi bahwa

1. ada Kuasa Allah;

2. Ada logika keterhubungan antara Sang Pencipta dengan makluk ciptaan Nya meski itu berwujud penyakit.

3. ada kedaulatan diri dalam pola pikir manusia yang menjadi kekuatan. Karena bukan melulu pada kekuatan Medis, namun kekuatan terbesar pada kekuatan diri sendiri bersama atas Kuasa Allah untuk dapat menuju kepada kesembuhan.

Pun, pelajaran berharga untuk diri ini dapat berdaulat dengan memetakan sebagai penanggungjawab pasien/pasien atas putusan medis

a) MENOLAK putusan medis atas vonis tidak dapat dilakukan tindakan selanjutnya untuk kesembuhan karena masih ada metode kesembuhan SELAIN MEDIS

b) MENERIMA putusan medis atas vonis tidak dapat dilakukan tindakan selanjutnya untuk KESEMBUHAN karena medis hanya salah satu cara saja, dan tidak dapat menggantikan kedudukan si pemberi kesembuhan (Kuasa Allah)

c) MENERIMA putusan medis atas tindakan operasi dengan kepasrahan untuk mengharap kesembuhan

d) MENOLAK putusan medis untuk operasi demi kedaulatan manusia berpendapat “medis hanya salah satu metode penyembuhan”