POHON NANGKA

Aku menanam satu pohon nangka “gori” dari seukuran dapat dibawa memakai motor, kini telah berbuah beberapa kali.

Sejak tahun 2014, ketika pertama kali menempati perumahan Villa Tanah Baru Jl. PALAKALI kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok Provinsi Jawa Barat, yang terpikir olehku adalah suasana udara sejuk.

Untuk itu, beberapa pohon kutanam di depan rumah meski area tanam sangatlah terbatas. Dua pohon telah tumbang karena dimakan rayap dan area tanam menjadi lahan perluasan bangunan rumah.

Dua pohon itu adalah mangga dan jambu jamaika. Sedangkan dua pohon lain sampai sekarang masih tumbuh hijau adalah sirsak dan nangka.

Yang menonjol adalah dari beberapa pohon itu adalah pohon nyangka. Kini tinggi pohon hingga empat meter tinggi dahannya. Dari balkon depan rumah senantiasa terpandang kedua mataku. Hijau daun nangka dengan setia mengeluarkan oksigen murni untuk menjaga keseimbangan alam.

Setelah dua kali berbuah, pohon nangka menunjukkan keanehanya. Berbuah untuk ketiga kalinya, kok sama sekali tidak ada nyamplung yang jadi. Hanya dami nangka yang juga berasa manis.

Menanam pohon membawa suatu cerita, minimal untuk sanak famili atau teman yang bertanda ke rumah. Pohon di depan rumah dengan buang nyangka di badan pohon menjadi bahan perbincangan.

Bahkan, buah nyangka hasil tanam telah dibawa ke kantor istri. Pimpinan di tempat kerja begitu tersanjung dengan rasa manis buah nangka. Kebetulan memang suka dengan buahnya.

Melalui tulisan ini, kuabadikan adanya pohon nangka. Sebelum akar tunjang pohon nangka membuat masalah, biar memberikan keteguhan disaat terik matahari siang hari.

Begitu cepat meninggi pohon nangka meninggalkan pohon sirsak di sebelahnya. Saat istriku kupinta merebus daun sirsak, kala itu masih persis didepan rumah, air rebusan berasa daun nangka. Ternyata salah petik.

Mungkin menjadi perjodohanku dengan pohon nangka. Tak disangka, meski pohon telah dimakan rayap, masih dapat bertahan hidup.

#yukMenanamPohon

Semoga berguna

Infrastruktur gas

Tema Infrastruktur pada sepuluh terakhir memuncak pada tahun 2019. Desakan agenda kepemimpinan nasional terus mendera keberadaan instansi selaku administrator kepemerintahan.

Infrastruktur Migas terus digenjot dengan alasan pemerataan dan tersampaikannya manfaat yang langsung kepada rakyat. Bahkan bentuk ketahanan energi bukan lagi bertumpu pada ketersediaan ladang minyak bumi, melainkan ketersediaan infrastruktur gas. Wajar saja, tatkala telah terjadi pergeseran kejayaan Indonesia sebagai penghasil minyak seantero jagad.

Selain prediksi angka produksi minyak yang selalu meleset dari target yang ditetapkan, para ahli perminyakan menyebutkan potensi ketersediaan dan sifat padat modal pada industri minyak mentah menjadi dalih lain untuk mendukung pergeseran kepada gas alam.

Saat ini, terdapat tiga institusi kemigasan Indonesia, yakni BPH Migas, SKK Migas dan Ditjen Migas yang menjadi perpanjangan tangan pemerintah sebagai regulator, operator dan pengawasan industri Migas di Indonesia.

Para pelaku berbentuk Badan Usaha Tetap dan Badan Usaha pada industri Hulu dan Hilir serta penunjang (operator) merupakan obyek pembinaan dan pengawasan.

Bisa jadi luput dari ketatanegaraan organisasi negara kita, tatkala regulator menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan oleh ketiga institusi migas termaksud, ternyata pada diskusi lain menafikan fungsi organisasi negara atas peran membangun infrastruktur gas di Indonesia?

Pertanyaan termaksud terulang kembali di obrolan bersama senior (kasubdit Penyiapan Program/Pak Alfa, kasubdit usaha penunjang/pak Suryono dan koordinator Inspektur Migas/pak Erwan) bersamaku disela sela acara rapat koordinasi atau refleksi dan evaluasi pelaksanaan perencanaan dan pembangunan infrastruktur Migas.

Terjebak dengan mereka, obrolan ngalor ngidul demi keakraban dan membunuh waktu untuk persiapan acara selanjutnya di Ibis Style Hotel Bogor Raya pada Jumat 13 Desember 2019.

Bersama mereka, inspektur Migas kawakan selaku Komandan PPNS Migas dan dua orang pejabat administrator yang keduanya berasal dari jogja, membuka cakrawala wawasanku tentang kemigasan.

Seolah diriku menjadi moderator yang memancing tiap topik pembicaraan, aku pun turut menimpali. Bukan karena sok tau lo y….dan sok PD tp dapet bocoran dari aktivitas baca saat berperan sebagai penjaga rekaman kegiatan (arsiparis)

Pernah kubaca dari satu surat pimpinan tinggi madya 1b,(staf ahli menteri) tahun 2007, dimana Ditjen Migas tidak ada satu pun fungsi organisasi yang secara langsung dapat melaksanakan pembangunan infrastruktur.

Peran Badan Usaha Milik Negara Migas sebelum tahun 2007 yang diharapkan dapat menjalankan fungsi membangun seperti halnya pada bidang konstruksi pekerjaan umum (dhikarya, waskita karya dan lainnya) masih belum memperjelas organisasi negara urusan konstruksi infrastruktur gas.

Sebelum menjadi perusahaan terbuka, pembangunan Infrastruktur gas dilakukan oleh Perusahaan Gas Negara (PGN). Rekaman kegiatan penetapan BMN sebagai bentuk penyertaan modal pemerintah kepada PGN sampai dengan tahun 2006, menjadi bukti adanya organisasi negara yang membangun infrastruktur.

Kemudian perubahan perundangan tentang BUMN dan sifat terbuka (milik publik), mengharuskan Ditjen Migas melaksanakan pembangunan infrastruktur gas seperti jaringan distribusi untuk rumah tangga.

Kemunculan Direktorat Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur pada Direktorat Jenderal Migas di tahun 2016 menjadi awal babak baru instansi pemerintah yang memiliki fungsi tersebut.

Namun apakah benar, Direktorat tersebut memiliki fungsi pelaksanaan pembangunan konstruksi? Bukankah administrator pemerintahan kental dengan peran dan kedudukannya sebagai regulator dan pengawasan saja?

Banyak pendapat dari para senior di kantor bahwa ciri kekhasan kemigasan dapat bersanding dengan urusan konstruksi umum dimana Direktorat Jenderal hanya sebagai reaserch dan pengembangan serta penetapan regulasi saja.

Munculnya distorsi kedudukan instansi sebagai administrator pemerintahan yaitu sebatas kebijakan, pengaturan dan penetapan teknis pelaksanaan pembinaan dan pengawasan, bukan untuk mengeksekusi pembangunan konstruksi.

Siapakah yang akan mulai mendiskusikan dan menstandarisasi infrastruktur gas berdasarkan penelitian dan pengembangan serta memberikan pedoman pelaksanaan, kalo bukan fungsi Direktorat Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas?

Penasaran, aku pun merujuk pada Peraturan Menteri ESDM nomor 13 tahun 2016 tentang Organisasi dan ata kerja Kementerian ESDM. Dapat dipahami dan perdebatan ketiadaan organisasi negara untuk pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana gas dianggap CLEAR.

Meski baru lahir dan jabang Bayi, Direktorat Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur (mulai berjalan di awal tahun 2017) ditambah beratnya tuntutan pelayanan publik, diberikan bonus tambahan dengan beban berupa fungsi pelaksanaan pembangunan konstruksi sarana dan prasarana infrastruktur gas.

Unit kerja baru tersebut tancap kecepatan bukan lagi mendesain garapan kebijakan dan pengawasan diantaranya NSPK standar mutu teknologi hingga peralatan teknis serta lingkungan pembangunan infrastruktur gas bumi saja, namun harus tergerus dengan perintah pelaksanaan pembangunan.

Tarohlah memang benar yang disebutkan dalam perpres nomor 65 tahun 2015 tentang Kementerian ESDM terkait fungsi Direktorat Jenderal Migas untuk melaksanakan kebijakan pembangunan sarana dan prasarana tertentu dengan kegiatan membangun infrastruktur gas.

Toh juga dalam tiga tahun terakhir, Direktorat termaksud melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur gas baik melalui penugasan ke BUMN Migas maupun pemaketan dalam wujud pelelangan umum pada kerangka penetapan penyedia barang dan jasa pemerintah.

Berbagai kejadian hukum sebelum terbentuknya Direktorat termaksud menjadi pelajaran berharga bagi Ditjen Migas. Pun sifat kekhususan barang dan jasa gas yang harus menginduk kepada Prepres pengadaan barang dan jasa secara umum yang telah ada,menjadi tekanan para ASN.

Kemudian munculah instrumen kebijakan berupa pengaturan agar melegitilasi kekhususan infrastruktur gas dengan infrastruktur urusan lain. Peraturan Presiden RI nomor 6 tahun 2019 tentang Penyediaan, Pendistribusian melalui Jaringan Transmisi dan atau Distribusi Gas Bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil.

Pada babak akhir tulisan ini, penulis masih penasaran dengan pertanyaan

1. apakah memang harus terus digenjot pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur gas???

2. Sejauh manakah kesiapan kebijakan, SDM, industri penunjang, manajemen birokrasi, kesejahteraan ASN, kompetensi ASN, perlindungan hukum, koordinasi lintas gedung birokrasi, penghargaan ASN pada Direktorat yang bertugas membangun infrastruktur?

Target fantastis untuk segera mewujudkan ketahanan energi yang merata berupa penganekaragaman sumber energi dan meniti beratkan pada gas alam, menyisakan banyak pekerjaan rumah.

Koordinasi lintas birokrasi dengan berbagai peran sedari Ditjen Migas, BPH Migas, SKK Migas, Litbang Migas, peran Auditor pengawas Internal Pemerintah (APIP), peran teknik dan lingkungan seperti jabatan fungsional Inspektur Migas, BUMN Migas, peran Pengembangan Sumber Daya Manusia urusan gas alam, peran industri penunjang peralatan dan utilitas gas, peran Kementerian keuangan, peran Kementerian dalam negeri selaku koordinator pemerintah daerah, serta stakeholder penyedia jasa konstruksi akan menjadi tolok ukur keberhasilan.

Tanpa kerja bareng dan Harmonosasi program kerja,maka beban kerja perencanaan dan pembangunan infrastruktur gas alam akan menjadi momok untuk para ASN.

Pun demikian, koordinasi dengan Lembaga Pengadaan Barang dan Jasa (LKPP), kejaksaan, kepolisian serta unsur penegakan hukum lainnya, sampai dengan elemen masyarakat menjadi sangat penting menyongsong tahun anggaran 2020.

Semoga berguna

Kebebasan Menulis

Bisa jadi tulis menulis adalah pekerjaan bebas merdeka tanpa ada suatu tuntutan y. Aku masih sering merasa terbebani jika ada permintaan untuk menulis. Otak mendesak anggota tubuh lainnya untuk mencari cari bahan agar tergambar kerangka berfikir yang jelas atas tema yang dimintakan.

Seperti hari ini, Kamis 12 Desember 2019, aku mendapati permintaan tulisan dari salah satu rekan auditor. Permintaan dengan disampaikan memiliki batas waktu. Tak ayal permintaan itu mendesak keinginan diri untuk mencari cari bahan.

Tantangan rekan auditor memang cukup menarik bagiku untuk diladeni. Namun berasa muncul nya penjajahan atas kemerdekaan dalam merangkai kata kata. Sodoran tema konventerkit untuk nelayan dan BBM satu harga dengan batas waktu 16 Desember 2019 sebagai bahan buletin di kantornya.

Pun demikian, tawaran untuk menulis pada Buletin reguler di kantorku, mengkontaminasi kemerdekaan dalam merangkai kata per kata. Tatkala mengejar tulisan tersebut maka yang muncul rasa tuntutan.

Tema permen Data Migas yang paling memungkinkan dapat kutulis dari kedudukan jabatan ku di unit kerja. Tp itu masih sebatas rasa ingin menulis saja. Bagiku menulis adalah ekspresi kebebasan.

Jadi kepikiran, empatiku kepada penulis profesional yang dikejar deadline. Kejengahan otak mereka saat tuntutan terbit harian, bulanan atau per edisi, seolah datang momok yang terus menghantui. Hantu itu mungkin saja disebut dengan Dead Line.

“Pak nurul, maaf belum bisa gabung di pertemuan warga, karena dikejar deadline” kata pak wandi. Salah seorang warga di wilayah mukim ku. Bersama pak wandi, mushola Al Ukhuwah telah dapat dipergunakan. Kesediaan ya untuk aku tunjuk menjadi ketua panitia pembangunan mushola, meski sering tak dapat hadir pada pertemuan warga karena dikejar momok Deadline di kantor nya.

Diiringi sruputan kopi dan hisapan tembakau kudapati kesimpulan yang bisa jadi menghentikan untuk menjadi penulis bayaran. Sore ini menjelang magrib kusimpulkan bahwa kebebasan menulis dan terlepas dari beban tuntutan menjadi nikmat hidup.

Gas Bumi untuk Ketahanan Energi

Nyaris satu dasawarsa, sejak tahun 2010, pemanfaatan gas bumi sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan dan rumah tangga,menjadi salah satu Prioritas Pembangunan Nasional untuk ketahanan energi (Inpres 1/2010)

Rangkaian kebijakan sebelumnya melalui Peraturan Presiden RI no 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Yang menyebutkan bahwa Diversifikasi Energi adalah penganekaragaman penyediaan dan pemanfaatan berbagai sumber energi dalam rangka optimasi penyediaan energi.

Kini dengan menimbang bahwa dalam rangka menjamin ketahanan energi nasional dan mempercepat terwujudnya diversifikasi energi serta mendorong terwujudnya penyediaan energi secara mandiri, diperlukan percepatan penyediaan dan pendistribusian gas bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil maka dikeluarkan Peraturan Presiden Nomor 6 tahun 2019.

πŸ’£ Pemanfaatan Gas untuk rumah tangga atau kala itu sering disebut dengan program City Gas melakukan pembangunan pipa transmisi dan sambungan pengguna dapur rumah yang gencar dilaksanakan pada tiap tahunnya. Misalnya di kota Depok tempat domisili ku, sejak tahun 2010 telah mulai dibangun dan tahun 2019 terbangun kembali.

Sejak 2009 s.d 2019, sepuluh tahun terakhir semakin bertambah dapur rumah tangga yang teraliri gas melalui pipa. Misalnya tahun 2013 Jaringan Distribusi Gas Bumi, telah sampai di wilayah Sorong Papua Barat. Selain itu pada tahun yang sama tidak terlewatkan di wilayah Ogan Hilir Sumatera Selatan, dan Blora Jawa Tengah serta Subang.

Tahapan sejak perencanaan FEED & DEDC, Penyusunan Dokumen UKL dan UPL, menjadi landasan pelaksanaan konstruksi atau pembangunan dan pengawasan konstruksi.

Pada perkembangan selanjutnya pada tahun 2014 dan 2015, pembangunan gas untuk rumah tangga dilaksanakan melalui penugasan kepada Pertamina dan PGN pada beberapa wilayah di Indonesia namun tetap bersumber anggaran pemerintah pusat.

Sampai dengan tahun 2018 seperti wilayah serang, Bogor, Cirebon dimana pembangunan terus berlanjut ditahun ini. Pun di tahun 2019 juga wilayah Probolinggo dan Pasuruan.

Tentu saja masih terdapat beberapa daerah yang telah teraliri gas untuk rumah tangga namun belum dapat tertulis pada artikel ini.

πŸ’£ Pemanfaatan gas sebagai bahan bakar terkait dengan konversi BBM ke BBG juga menyasar kepada masyarakat nelayan kecil.

Pada tulisan πŸ‘‡

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/11/30/aneka-ragam-bbg/

LPG 3 Kg dipergunakan untuk nelayan dan petani dalam operasional mata pencaharian.

Baca juga

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/12/10/konversi-bbm-ke-bbg-untuk-nelayan-tanah-bumbu-kalsel/

πŸ’£ Sejak 2007, gas berupa LPG telah menjadi sahabat Dapur kita. Pada tautan berikut πŸ‘‡

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/11/28/sahabat-dapur-kita/

πŸ’£ Infrastruktur gas untuk sektor transportasi pun terus dipersiapkan dengan pembangunan SPBG antara lain

🌟 Tahun 2012, Mother Station Surabaya, online Station Sidoarjo, Daugther Station Gresik,

🌟 Tahun 2013, Mother Station Cibubur, online Cilandak Jaksel, Online Lebak Bulus Jaksel, Daugther Station Balikpapan,

🌟 Tahun 2014 online di Pulogebang, Kampung Melayu, Ciputat, Plumpang, Mangkang Semarang dan penggaron Semarang .

🌟 Tahun 2015, daerah Jawa Barat, Bekasi, Depok dan Balikpapan. Daerah pulomerak Serang Banten berbentuk SPBG Daughter

Antara Kerja dan Keluarga

Berada lah pada satu potret ketemu kenalan untuk beberapa hari. Saling berinteraksi dengan staf dan pelaksana pada unit kerja yang berbeda memang meningkat jangkauan wawasan.

Telpon sana sini untuk berkoordinasi dengan tujuan pasti, melintasi gedung birokrasi dan bahkan antar geografi menjadi pemantik peningkatan kepercayaan diri.

Bukan rutinitas di dalam ruangan dengan obyek kerja yang belum jelas manfaatnya. Berada dalam bungkusan perjalanan untuk memastikan manfaat kepada para penerima.

Sisi positif selaku ASN dalam kerangka mengawal program kerja instansi sebagai katalisator tersampainya peran pemerintah untuk pelayanan publik.

Bisa saja perjalanan bersama dengan berganti ganti tempat tidur, berpindah tempat makan, kemudahan untuk beberapa hal, dan kenyamanan untuk diri sendiri akan mendatangkan persepsi ketidakadilan.

Misalnya ketimpangan perjalanan pada unit kerja yang berbeda. ASN dengan unit kerja Penanggung Jawab program kegiatan yang menyentuh penerima yang lebih luas akan lebih sering melakukan perjalanan dinas. Wajar atas target pencapaian kinerja, mobilitas para staf menjadi dukungan pimpinan unit kerja untuk memastikan kebenaran sasaran penerima.

Di sisi lain, ASN pada peran suporting manejemen internal akan lebih banyak di kantor saja. Meski pada akhirnya, potret yang kualami dapat juga giliran atas luapan penugasan yang tidak tertampungnya oleh unit terkait.

9-12 Desember 2019 mengenal tanah bumbu Kalimantan Selatan. Belum kelar di sini, tawaran ke Nias menggoda untuk di iya kan. Namun demikian ada bagian kehidupan ku yang perlu ku perhatikan.

Salah satunya keluarga kecil di gubuk istimewa. Dua minggu berturut turut sebelumnya, aku meninggalkan rumah. Tak ayal sang nahkoda di rumah memberikan warning begitu beratnya mengurus ketiga anak yang masih belum lepas dari pengasuhan orang dewasa.

Itu yang menjadi Pertimbangan bijaksana untuk belum dapat menerima tantangan perjalanan ketiga di tahun 2019 (Nias)

Sebetulnya ada tautan di luar kuasa dan kedudukan ku terkait unit kerja, bahwa setelah menulis tentang konversi minyak tanah ke LPG 3Kg pada waktu yang lalu dipertemukanlah pada tawaran pengecekan lapangan. Seolah ditunjukkan kondisi nyata yang berawal dari tulisan

Baca juga

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/11/28/sahabat-dapur-kita/

Konversi BBM ke BBG untuk nelayan Tanah Bumbu Kalsel

10 Desember 2019

Aku pun turut mengiringi program yang menghadirkan negara untuk rakyatnya. Stimulus bantuan untuk mereka yang menutupi kebutuhan keluarga.

Mata kepalaku menyaksikan sendiri ratusan orang berkumpul di seberang kantor desa Satiung dan desa pagarruyung. Senyum mereka para kepala keluarga setelah menerima paket peralatan sarana transportasi untuk menembus aliran sungai.

Bagi mereka, sungai adalah tempat mata pencaharian dan mesin penggerak sebagai alat yang memerlukan energi Penggerak 🚒 perahu. Energi penggerak alat di tempat mata pencaharian yang selama ini bersumber dari Bahan Bakar Minyak cukup membebani sebagai modal bekerja.

Kini, 135 orang di desa Setiung dan 364 di desa Pagarruyung menemukan energi murah dan bersih dari seperangkat konventerkit yang terhubung dengan LPG 3Kg.

LPG yang masih terhitung murah dibandingkan dengan Premium menjadi alternatif pilihan untuk menekan modal kerja para nelayan.

Diatas adalah sedikit gambaran dari perjalanan pengecekan fisik BMN di Kabupaten Tanah Bumbu melalui penugasan kepada Pertamina oleh Kementerian ESDM cq. Ditjen Migas terkait bantuan Hibah kepada masyarakat nelayan kecil. Salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan mendapatkan kesempatan kedua kalinya. Pertama pada tahun 2018 dimana lebih dari 200 orang dan kedua tahun 2009 hampir 500 orang.

Bersumber dari APBN, paket bantuan berupa seperangkat Penggerak kapal dengan kapasitas sampai dengan 5 gros ton dan dua tabung perdana LPG 3kg serta konventerkit diperuntukkan kepada 499 orang nelayan di Kabupaten Tanah Bumbu.

Akses menuju ke Kabupaten Tanah Bumbu dapat ditempuh melalui Pesawat terbang dari Bandara Cengkareng menuju ke bandar udara Syamsudin Noor Banjarmasin. Kemudian lanjut akses darat atau dapat juga dilanjut dengan maskapai Wings 07.00 WITA tujuan Makasar transit Bandar Udara Batu Licin.

Kebetulan Selasa, 10 Desember 2019 menjadi First Passenger di Bandara yang telah selesai dibangun. Bangunan baru, terkesan sangat luas berada di sebelah bangunan lama. Lalu lalang para petugas dan pegawai bandara masih terlihat tahap penyesuaian tempat.

Senin, 9 Desember 2019, lepas mendarat via Garuda, pada pintu keluar Bandara lama, para penumpang telah di hadang puluhan sopir taksi. Sopir taksi yang terlalu aktif mengurangi kenyamanan. Sebagai pengguna sarana publik seperti bandara, berharap semoga ada penataan para sopir taksi di bangunan bandara Syamsudin Noor yang baru.

Harga taksi yang senilai 75.000 untuk satu unit yang belum terinformasikan, keberadaan loket pemesanan taksi yang sangat terbuka dengan para sopir taksi mengurangi kenyamanan.

Sembari mengantar ke Novotel Hotel, tukang taksi menginfokan bangunan baru Bandara Syamsudin Noor akan diresmikan Presiden Jokowi tanggal 20 Desember 2019.

Aku dan rombongan pengecekan persiapan penghapusan BMN melalui Hibah kepada para nelayan bermalam di Hotel yang tak jauh dari Bandara. Kebetulan malam ini terlihat para pemain sepakbola asal PSM makasar yang menginap di Novotel.

Perut dan jadwal makan malam, memaksa diri ini mencari referensi makanan khas Banjarmasin. Ketemulah Soto Anang Ayam Bapulah. Kupesan jasa transportasi online dengan jarak hampir 14 Km atau 16 menit perjalanan.

Sepiring soto banjar dengan ketupat cukup cocok dengan lidah Jawa. Tak ragu mengganti 181 ribu untuk lima porsi plus minum dan kerupuk serta sepuluh tusuk sate ayam.

Lestarinya rumpun Arsiparis

Seolah berasa dekat banget dengan perubahan birokrasi Indonesia. Sambutan ASN pada urusan kearsipan pun, tak kalah ramai. Misalnya saja kudapati 673 pembaca pada beberapa tulisan terkait pengalihan pejabat administrator dan pengawas ke jabatan fungsional melalui penyesuaian/ Inpassing.

Itulah berasa, atau rasa rasanya, sedangkan kondisi nyata itu masih sama. Tatkala jabatan Pengawas ditiadakan, siapa yg menjadi pejabat penilai kinerja arsiparis. Selama ini Kearsipan berada ditangan pejabat pengawas, sebagai perpanjangan tangan Kepala unit kearsipan.

Penilaian periode 2018 adalah kali pertama, proses penetapan dan konversi angka kredit selaku arsiparis, melalui mekanisme SKP. Penilaian tersebut berada di pejabat penilai (pejabat pengawas sebagai atasan langsung) Meski secara mekanisme proses pemberian nilai dibantu oleh tim penilai bentukan kepala Biro Sumber Daya Manusia.

Bagaimanakah nanti tatkala sudah diterapkan penghapusan jabatan eselon 3 dan 4??

Tiada yang tidak bisa dirubah, karena itu hanya mekanisme administrasi saja. Toh perubahan pejabat pengawas sebagai pejabat pengusul nilai kinerja arsiparis kepada pejabat penilai kinerja arsiparis (sesuai Peraturan Arsip Nasional Republik Indonesia tahun 2017 tentang Pedoman penilaian prestasi kinerja arsiparis) tidak merubah mekanisme adanya tim penilai.

Bagiku yg tidak begitu mendalami administrasi kepegawaian, terbersit pertanyaan selanjutnya siapa yang akan menandatangani DP3 dan SKP. Setiap tahun aku dipanggil oleh pejabat pengawas untuk bersama menandatangani DP3, selain itu menyusun SKP untuk pengajuan penilaian angka kredit. Pun pejabat administrator turut dalam penandatanganan DP3 atas namaku.

Setidaknya lebih dari 400 an Pegawai dan dengan 400 an tanda tangan pada DP3 di kantorku. Apakah tanda tangan tersebut harus berpindah ke pejabat tinggi pratama? Memang sudah ada terobosan itu, namun diperuntukkan untuk fungsional madya yang secara jumlah tidak terlalu banyak.

Pemangkasan pejabat administrator dan pengawas bukan saja akan berdampak pada penambahan jumlah arsiparis. Tapi juga merubah penandatanganan SKP dan DP3.

Selain itu, bisa dibilang pengalihan jabatan tersebut ke jabatan fungsional tertentu dapat dimaknai sebagai kondisi dalam peningkatan ketersediaan arsiparis.

Otaku pun berasumsi, dari ratusan pembaca, maka saat saat menyambut pengadaan arsiparis melalui jalur Penyesuaian.

Baca juga

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/11/18/inpassing/

Komentar pembaca dari pesbuker: Tapi tetap dibebani sertifikasi dan konversi SKP menjadi PAK, ini yang membedakan dengan jabfung lainnya[16/11 23.03] arsiparis KLH:πŸ‘πŸ‘πŸ˜ŠπŸ€­ ya nggak lah ya….[17/11 05.25]arsiparis kemenkes : Naik pangkatπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡17/11 06.06] arsipa: Gak bund…Bila naik jabatan aja..[16/11 22.00] arsiparis ANRI: Perlindungan BUP dn kelas jabatan …hahaha… jd Mendadak Arsip πŸ€”??,

Hahaha,…selamat datang, semoga amanah juga pak … welcoming lah [16/11 22.14] arsiparis kemenhub: Sik penting kabeh happy😁😁

Tak luput komentar seorang pimpinan pratama di Lembaga Kearsipan, [18/11 18.44] direktur : Pasal 20 Permenpan 13 th 2019….ujikom merupakan persyaratan untuk diangkat, sedangkan diklat adl kewajiban sesudah diangkat….

Dilihat dari gelombang Uji Kompetensi yang diselenggarakan oleh ANRI di bulan November 2019, lebih kurang 200 orang. Hal ini semakin memperlihatkan bahwa pada akhir tahun 2019 mencatatkan gelombang pengadaan dan penambahan jumlah arsiparis.

Dari pengadaan CPNS pun kita dapat memantau informasi bahwa formasi arsiparis dari jalur umum di tahun 2019 menyediakan lebih dari 800 kursi pada jabatan arsiparis dengan cakupan seluruh Indonesia.

Pada akhir tulisan ini, aku menautkan suatu simpulan yakni “lestari nya rumpun jabatan arsiparis bisa jadi karena pemahaman bersahabatnya dari para pelaku kearsipan dengan perubahan.

Pelaku kearsipan yang terus memiliki resisten atas perubahan, akan dihadapkan dengan gelombang perubahan yang lebih besar.

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/11/15/impasing-jabatan-arsiparis/

Tautan di πŸ” menyimpulkan bahwa kondisi pemangkasan jabatan eselon tiga dan empat dapat mendorong peningkatan kualitas arsiparis.

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/11/16/arsiparis-inpassing-jalur-umum/

Tautan di πŸ” menjadi ilustrasi ucapan selamat datang kepada calon arsiparis jalur Inpassing.

Akhirnya semoga perubahan birokrasi menjadi bagian dari pelaku kearsipan untuk memandang positif pengalihan pejabat eselon 3 dan 4 demi lestarinya rumpun jabatan arsiparis

Semoga bermanfaat

Serba Serbi Pertemuan

Aku hanya ingin membalas hutang kebaikan kehidupan yang telah datang padaku. Kalimat tersebut kusampaikan kepada seorang senior yang baru aku kenal kemaren. Malang melintang diurusan auditor, beliau memberikan beberapa wejangan kepadaku.

Salah satunya adalah, jangan memasang Girik dalam pelaksanaan kerja di kantor. Apapun bentuknya, berjiwa bebas merupakan pilihan lebih baik.

Mungkin seperti perjodohan saja, pertemuan dan kebersamaan beberapa hari terselubung pendalaman nilai nilai kehidupan, bumbu pengalaman dari perjalanan karir seseorang. Pun di 4-6 Desember 2019 ini, kehangatan dalam berbincangan saling menggali dan menyatakan bahwa hakikat nilai hidup adalah untuk kepatuhan.

Canda kata dalam obrolan menggerakkan saraf kegembiraan. Sepiring mie ongklok sajian khas di Wonosobo, menjadi buah perut dari sosok kenalan ASN urusan pembibitan ikan 🐑 tawar.

Pun kenalan baru, Sales Branch Manager (SBM) pada perusahaan milik negara urusan hilir Migas. Saling telpon dan mengirim pesan demi mengawal kolaborasi program negara untuk masyarakat menambah arti silaturahmi.

Diakhir tulisan ini, kala merasa terasing di kota kelahiran bersamaan datangnya kenalan baru. Bukan hanya datang dan akan segera pergi, namun saraf kebahagiaan, arti silaturahmi sampai pada pendalaman nilai kehidupan menjadi serba serbi.

JAKARTA – YOGYAKARTA – WONOSOBO – DIENG – YOGYAKARTA – JAKARTA

Bantuan nelayan wonosobo

5 Desember 2019. Terbaring di ruangan tengah sawah yang disebutnya homestay, kuuntai kata demi kata sebagai tanda pernah menapaki kaki gunung dieng.

Puncak sikunir bisa jadi menjadi kenangan Bapak Agus Sunaryo, Ardhi, Arman, dan Irvan. Atau setidaknya menjadi kenangan ku pada bagian akhir dari perjalanan kunjungan lapangan pengecekan BMN Konkit untuk nelayan.

Lepas dari Waduk Wadaslintang, genangan air tawar yang cukup melegenda di masyarakat sekitar pegunungan Wonosobo, menjadi lokasi titik serah 338 paket bantuan masyarakat dalam program konversi BBM ke BBG.

Total bantuan langsung kepada masyarakat nelayan Kabupaten Wonosobo dalam kerangka diversifikasi energi, telah menyentuh kurang lebih mendekati separo dari total nelayan tradisional. Penggantian mesin lama dengan mesin baru beserta paket konventerkit dan tabung LPG 3Kg diharapkan bukan hanya meraih ketahanan energi dengan penganekaragaman sumber energi, namun dapat meningkatkan pendapatan menangkap ikan.

Kurang lebih 600 orang nelayan di Kabupaten yang berada di tengah pulau Jawa (Wonosobo), pada dua tahun terakhir ini telah menerima stimulus peningkatan perekonomian keluarga berupa paket konventerkit dan mesin penggerak kapal.

Meski Telaga Menjer sebagai wilayah PLTA dibawah pengelolaan Indonesia Power bukan lagi tempat penyebaran benih, namun sisa konservasi ikan dan keberadaan nelayan di sekitar juga terbagi 23 paket. Sehingga menggenapi jatah Kabupaten Wonosobo di tahun 2019 dengan total 361 paket bantuan dari Kementerian ESDM cq.Ditjen Migas melalui penugasan kepada PT Pertamina.

Merasa asing di kota kelahiran.Β 

Gudeg Permata adalah tempat pertama setelah mendarat di Bandara Adisucipto. Aku hanya bisa bercerita bahwa nama Permata dari warung penjual Gudeg diambil dari bioskop bernama Permata.

37 tahun mengenal Jogja, makan Gudeg Permata dengan temen kantor dalam perjalanan Dinas Persiapan Hibah BMN ke Wonosobo.

Sejak 20.45 WIB di Garuda di CGK, perut memang sudah terasa lapar. Pas banget, sebagai pengantar bermalam di Grand Zuri Yogyakarta, seiring nasi gudeg ayam paha memenuhi lambung kecil ini.

Empat hari ini, dimulai tadi 4 Desember 2019 sampai nanti tanggal 7 Desember 2019 aku mendapat penugasan untuk pengecekan konventerkit Nelayan beserta seperangkat mesin Penggerak kapal nelayan kecil yang dibagikan di waduk wadaslintang Wonosobo.

Tim yang dinamai persiapan penghapusan BMN karena barang milik negara yang dibelanjakan oleh kantorku, Ditjen Migas sejak awal direncanakan untuk dihibahkan kepada masyarakat.

Pada tahun 2019 lebih kurang 13.000 paket mesin beserta baling baling dan 26.000 LPG 3Kg diperuntukkan untuk program konversi BBM ke BBG melalui kebijakan diversifikasi energi.

Ini adalah tahun ketiga dimana aku senantiasa mendapat panggilan tugas lapangan. Di tahun 2017, Pemalang, Pekalongan dan selayar. Di tahun 2018 ada delapan tempat antara lain Labuan Batu Utara, Samosir, Tuban, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Indragiri Hilir, dan Wonosobo serta Tapanuli Tengah.

Di tahun 2019 ini, selain kembali ke Wonosobo untuk pengecekan 361 paket konventerkit untuk nelayan, direncanakan lanjut ke Tanah Bumbu Kalimantan Selatan.

Meski bukan berada di unit substantif, kepercayaan yang diberikan kepadaku menjadi bagian perjalanan tugas kedinasan sembari mengeksplore nusantara.

Pada akhir tulisan ini, aku hanya pengen meninggalkan jejak bahwa meski berasa asing di kota kelahiran, Yogyakarta, namun tetap merasa memiliki.

Yogya-wonosobo-dieng-yogya dan nanti kembali ke Jakarta

5 Desember, Jl Margo Utomo, 00.40 WIB.