Sumpah Pemuda

Para Pemuda terus bertumbuh dan berkembang. Ribuan tahun yang lalu, kala Muhammad menjadi sosok perubahan peradaban manusia terekam sejak berumur belia. Pun di era milenial ini, pemuda yang digadang gadang, diberikan kesempatan untuk lebih banyak berkiprah.

Tak jarang kita jumpai, usia pemuda menduduki jabatan, RT sampai kepala Kelurahan. Tahun 2016, saat penulis menginjak usia 34 tahun, ditunjuk pada jabatan ketua RT di Kelurahan Tanah Baru. Pun demikian, pak lurah saat ini memiliki tahun kelahiran 1982.Kini di tahun 2019, menteri Pendidikan dan Kebudayaan diemban oleh pemuda usia 35 tahun.

Pemuda yang dibayangi ketakutan naik pesawat ✈ terbang, kini mondar mandir dari bandara satu ke bandara lainnya sebagai penumpang tetap. Pemuda yang terbiasa antar kota lintas propinsi, kini bergerak ke luar negeri. Pemuda kampung yang punya hobi mengelap motor pun bekembang dengan menyodorkan cucian mobil pada tiap bulannya. Tanda tangan pemuda yang dipergunakan untuk menunjukkan kehadiran saat kuliah atau masuk kerja, kini sebagai bentuk legalisasi proses terealisasikan anggaran.

Pemuda dan Pemudi sampai pada tumbuh dan kembang. Mungkin sudah suratan takdir dari Nya. Sepasang Muda mudi bersama menambah datangnya jiwa. Dua ke tiga tak terasa sampai ada yg lebih dari lima jiwa. Dulu masih culun di Ibukota, sekarang menjadi ternama, minimal pada cerita sosok pemuda di lingkungan sekitar nya.

Ilustrasi ini bukan menceritakan siapa dan bagaimana. Tulisan ini mencoba memaknai suatu pertumbuhan dan perkembangan para pemuda. Sebagaimana momentum 28 Oktober pada Bangsa Indonesia. Satu momentum yang dijadikan hari nasional Negara Indonesia, “Hari Sumpah Pemuda”

Teks sumpah pemuda yang telah disempurnakan pada ejakan kata katanya berbunyi :
Sumpah Pemuda
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Memaknai momentum hari nasional Sumpah Pemuda tidak dapat dilepaskan dari konteks waktu dan tantangan kondisi kehidupan.

Bisa jadi ini eranya tukang Teknologi Informasi, karena kemudahan hidup dengan adanya Internet dan berbagai aplikasi berbasis Android telah meracik kehidupan menjadi sangat instan. Pemuda dan teknologi berusaha diramu sedemikian rupa menjadi pemandangan di segala urusan.

Diakhir tulisan ini, penulis yg merasa di usia bawah 40 tahun menjadi bagian dari pemuda indonesia, mencari eksistensi diri dengan terus bergerak maju dengan semangat litetasi digital.

Mengabarkan kepada dunia terkait hal yang berada di sekitar untuk tumpah darah, satu bangsa dan satu persatuan di Bumi Indonesia.

Semoga bermanfaat

Mushola Al Ukhuwah

“bahkan kalo perlu kehidupanku akan kusedekahkan untuk mushola” jawabku kepada seorang tetangga. Kalimat tersebut secara spontan terucap kala Beliau sebagai seorang tokoh dimataku memberi pesan untuk merampungkan pembangunan mushola sebelum datang masa serah terima jabatan ketua RT 10.

Terlalu berlebihan gk sih, kalimat “menyedekahkan kehidupan”????
Sebetulnya terlalu percaya diri mengucap kalimat itu. Tanpa bermaksud congkak, lebih mendalam hanya sekedar untuk menunjukkan keseriusan ku dalam mewujudkan keinginan mempunyai mushola di wilayah mukim?

Meski urusan Mushola bukan hanya urusan terkait berapa jumlah uang yg kita kuasai untuk disumbangkan. Namun perhatian dan rasa penerimaan untuk terus menjalankan operasionalnya.

Tatkala perhatian terukur dari jumlah rupiah yang tidak sedikit, akan besar rasa penerimaan jikalau mushola ramai dikunjungi pada tiap lima waktunya. Namun bila puluhan bahkan ratusan juta telah dipersembahkan demi berdirinya bangunan tak juga membuat ramai dalam operasional lima waktu, datanglah kesan hampa.

Disinilah ada peran serta dan bersifat partisipatif yang sukarela. Bukan untuk menampik anggapan orang tentang mudahnya mendirikan bangunan dan tantangan berat untuk mengisi dan meramaikan mushola. Namun kedua nya, sedari mendirikan bangunan sampai dengan mengisi dan menjalankan mushola ibarat gayung bersambut.

Konon katanya, dari cerita seorang tetangga yang berasal dari Nganjuk Jawa timur, beberapa mushola yang didirikan oleh satu keluarga lepas menjalankan ibadah haji, kalah bertahan dari desakan kondisi lingkungan.

Kondisi lingkungan yang begitu dinamis lebih bisa seoring dengan mushola yang didirikan dengan peran partisipatif warga sekitar.

Pun di Mushola Al Ukhuwah Villa Tanah Baru, tidak ada target setahun selesai membangun. Kalimat itu pernah kusampaikan kepada tokoh masyarakat yang menaruh harapan dan bahkan kerelaan untuk menggelontorkan rupiah nya untuk mempercepat pembangunan Mushola.

Suatu harapan bahwa mushola dapat merasa dimiliki oleh warga sekitar demi eksistensi yang terukur dengan waktu lebih lama menjadi satu dalih kuat, minimal tiga tahun waktu yang ditetapkan dalam pembangunan.

Sedikit demi sedikit bersamaan dengan pengkondisian yang lebih mengabdi bagi generasi penerus di perumahan Villa Tanah Baru.

Akhir tulisan ini, demi mendapatkan rasa kepemilikan warga sekitar untuk mushola tercinta, tak lupa membrotcast, menyebarkan informasi terbaru terkait kebutuhan dana pembangunan dalam kondisi Minus.

Assalamualaikum
Bersama ini kami selaku Ketua RT 10 Perumahan Villa Tanah Baru mengucapkan beribu rasa terima kasih atas donasi, infaq dan Sodakoh untuk pembangunan Mushola.

Kiranya masih diberikan kepercayaan dalam penyaluran tabungan kebaikan akhirat, kami masih menerima dengan mengucapkan semoga Amal kebaikan Bapak Ibu Saudara diberikan predikat Jariyah di sisi Allah. AMIIN

Berikut kondisi laporan
PEMASUKAN : Rp. 171.794.500,
PENGELUARAN :Rp.175.622.000
SALDO MINUS
Per hari Sabtu, 26 Oktober 2019 Rp.3. 827.500,-.

RINCIAN PENGELUARAN
1. Bayar material 26 Oktober : 280.000
2. Bayar tukang 26 Oktober : 1.890.000
3. Bayar tukang 17 Oktober : 1.500.000
4. Bayar material 17 Oktober : 1.469.000
5. Bayar tukang 14 Oktober: 600.000
6. Beli Roster K : 4.575.000
7. Pemasangan pintu dan jendela: 5.400.000
8. Tukang plester dan keramik Lt 2 : 10.900.000
9. Material plester dan keramik Lt.2: 13.521.000
10. Pembelanjaan Jan s.d. Maret : 73.255.000
11. Pembelanjaan melalui Bp. Eko : 17.092.000
12. Pembelanjaan melalui Bp. Irwan : 12.760.000
13. Paket Kanopi & Atap genting (Sulani): 17.185.000
14. Paket Keramik lantai dasar: 5.770.000
15. Tukang Mei (Munadi/Heru/Syahril): 5.250.000
16. Karpet 3 roll: 2.800.000
17. Amplifier: 1.550.000

Daftar Donatur pembangunan mushola al Ukhuwah Villa Tanah Baru.
1. Pratama Persada: 15.000.000
2. Abdul Haris Semendawai 12.000.000,
3. Eko Saputro(D6) 10.492.000
4. PT. MN. Investama ( Bp. Suwandi): 10.000.000,
5. Nurul Muhamad: 10.000.000,
6. Kotak Amal Tarawih 2019: 9.104.500,
7. Hj. Normawati (Ibunda Irwan): 7.000.000
8. Baderi(B3) 7.000.000,
9. Hadi Suprayitno(G1): 6.000.000,
10. H. Imron (T.B. bintang Jaya): 5.850.000 (60 btg kanal C baja ringan, 50 btg reng baja),
11. Patmawati (Ibunda Erna F6): 5.000.000,
12. Suwandi(C3): 4.000.000,
13. Adiknya Suwandi : 4.000.000,
14. Bayu Suryono Hadi(C6): 4.000.000
15. Afrian J.P(H7): 3.242.000 (1 jt uang & TOA&kipas A.)
16. Kader PKS seTanah Baru: 3.000.000,
17. Krestiana Evelyn(H6): 3.000.000,
18. Endang G2: 2.500.000,
19. H. Suryadi(D9): 2.420.000 (hebel dan semen),
20. Pegawai LPSK (Relasi Bp.Dawai): 2.250.000,
21. Gagah Pramada(F6) 2.703.000,
22. Aan Mardian : 2.620.000 (semen 20 sak+ 1, 5jt),
23. Hamba Allah E7: 2.000.000,
24. Ifa Rufaida(kakanda Irwan): 2.000.000,
25. Bogi (E1): 2.000.000,
26. Wahyuni (ibunda Agus): 2.000.000
27. PT Multi Consulting Utama ( Bp. ade): 1.500.000,
28. Hamba Allah: 1.500.000,
29. Hj.Halimah (Ibunda Netty E3): 1.500.000,
30. Habib Salim : 1.475.000,
31. Alm.Radjiyem(Ibunda Ibnu): 1.300.000,
32. NN (teman Rusdan): 1.250.000,
33. Ibnu F1: 1.500.000,
34. Arisan ibu2 blok FGH : 1.100.000,
35. Jawahirul Ade Ahyar: 1.000.000,
36. Ari Cahyo(H8): (1.000.000, + jam Digital)
37. Roesdan(F3): 1.000.000,
38. Agus(G4): 1.000.000,
39. Zidane: 1.000.000,
40. H. Apriyanto: 1.000.000,
41. Rayhan (C3): 1.000.000,
42. Maradona: 1.000.000,
43. Irvan Ardiansyah (B10): 1.000.000,
44. Nasywa(H6): 2.000.000,
45. Pradipta (H6): 1.500.000,
46. Rosnaetti (E3): 1.000.000,
47. H. Anwari: 1.000.000,
48. H.A. D5: 1.000.000,
49. Nurdin: 1.000.000,
50. Fatimatuzzahra (H6): 1.500.000,
51. Wiyono Kanopi (Bp.Rusdan): 1.000.000 (jasa tukang),
52. NN blok D: 1.000.000,
53. Jamaah masjid al ikhlas gd. Migas: 1.000.000,
54. Aniswatul M.: 1.000.000,
55. Shareva D5: 1.000.000
56. Hamba Allah F4: 700.000,
57. Romli(G6): 500.000,
58. Ahmad Afandi (kakak Bp. Ade): 500.000,
59. Juhani : 500.000,
60. H.A. (saudara suwandi): 500.000,
61. Totok: 500.000,
62. Habib Asy Asy’ari (relasi puryanto security): 500.000,
63. H.A.: 500.000,
64. Sulani Kanopi: 500.000,
65. Ika Sri Martiani (kakanda Bogi): 500.000,
66. H.A. : 350.000,
67. H. Syamsudin : 320.000,
68. H.A.: 300.000,
69. Bu Yanti C9 : 450.000,
70. Hari Susilo BNI (temen Irwan) : 300.000,
71. H. A.: 300.000,
72. H.A. blok C: 250.000,
73. H.A.: 200.000.
74. Bu ari (H5): 250.000,
75. H.A. : 200.000,
76. Bu Maria (H4): 500.000,
77. H.A: 150.000
78. Kotak infaq (Tromol): 450.000
79. H. A: 150.000
80. H. A: 300.000
81. Alm Romilah (ibunda Nurul): 2.000.000
82. H. A: 150.000

Tata berkas aktif

Maren, hari Jumat, 25 Oktober 2019, bu warti, bu Indasah, bu Suci dan bu Warti mendatangi ruang arsip untuk memastikan lagi persiapan pengelolaan arsip aktif di lingkungan Ditjen Migas. Kedatangan mereka untuk sekedar bercerita bahwa telah melaksanakan lanjutan kegiatan penyusunan daftar berkas.

Sebagaimana tautan berikut 👇
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/10/23/lanjutan-daftar-berkas/, para admin di setiap subdit dan bagian diharapkan telah mempersiapkan sarana simpan arsip pelaksanaan anggaran tahun 2019.

Penyusunan daftar berkas menjadi triger dalam meraih perubahan kondisi pengarsipan di unit kerja. Daftar berkas menjadi dasar penyimpanan arsip yang selama ini menyebar ke setiap koordinator kegiatan dan ke setiap pelaksana kegiatan.

Sebagaimana surat Kepala Biro Umum KESDM tertanggal 24 Oktober 2019 sebagai tindak lanjut surat Kepala Pusat Akreditasi Kearsipan ANRI tertanggal 16 Oktober 2019 bahwa diperlukan persiapan dalam pengelolaan arsip aktif di setiap unit pengolah/unit kerja.

Selain untuk tujuan pengawasan kearsipan internal TA 2020, pengelolaan arsip pelaksanaan kegiatan anggaran akan mendukung manajemen unit dalam proses pencapaian akuntabilitas kinerja.

Tak dipungkiri, keberadaan arsip sebagai rekaman kegiatan belanja barang dan jasa sebagaimana tersebut sesuai Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) akan dibutuhkan untuk memenuhi permintaan data oleh tim auditor baik internal maupun eksternal.

Sebelum disajikan pada proses pengawasan atau pemeriksaan oleh auditor, data dan arsip tentu saja diperiksa terlebih dahulu atas kelengkapan dan kesesuaian sedari perencanaan, input, proses, dan ouput. Pengecekan termaksud yang sering tidak diperhatikan oleh Penanggung jawab kegiatan sehingga tertangkap sebagai potensi temuan.

Semoga kearsipan dapat memberikan sumbangan kerja untuk unit kerja dalam mencapai kinerja sebagaimana pada Perjanjian kontrak kerja atau KPI. Tatkala proses penyiapan tempat arsip telah terlaksana maka saatnya dilanjutkan untuk merapikan arsip pelaksanaan anggaran.

Semoga bermanfaat

RT jabatan Sosial

Tiga hari terakhir ini, anget anget nya dibicarakan di media masa, seperti Siaran di Televisi dari istana presiden Jakarta terkait jabatan baru. Setelah kemaren para menteri, maka di hari ini berlangsung pelantikan wakil menteri.

Pun demikian kiranya di tataran akar rumput bangsa Indonesia yakni Ketua RT. Pada tautan di bawah 👇
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/10/06/romantika-ketua-rt/ meski bukan menjadi sorotan media, namun menjadi bagian terkecil pelaksanaan kehidupan berbangsa.

Dua kali sudah, pak ketua RT terpilih menanyakan kepadaku tentang data warga. Hal ini menjadi bukti terjadi perpindahan jabatan sosial dengan mulus bak ibarat jabatan penggede di negara ini.

Bisa jadi menteri baru akan menanyakan kepada menteri lama, saya tidak tahu. Tapi di tataran terendah menunjukkan pertanda kebaikan, proses komunikasi untuk mempelancar kegiatan kemasyarakatan, salah satunya komunikasi RT lama dengan RT baru di Perumahan Villa Tanah Baru.
[7/10 08.25] eko: Assalamualaikum, pak RT minta tolong untuk di share list warga Villa Tanah Baru. Native file (excel) ya. suwun. berikut indikasi siapa saja yang sudah ber KTP Villa Tanah Baru
[24/10 13.09] eko: Assalamualaikum, pak RT, file data warga nya adakah?. sekalian sama sususan kepengurusan RT. suwun

Dengan latar belakang diatas, maka tulisan ini sekedar memberikan gambaran berjalannya kepengurusan RT kepada Bapak Ketua RT terpilih di tempat tinggalku.

Sebagaimana tahun 2016 di masa awal diri ini terpilih sebagai ketua RT. Tugas pertama yang dilakukan adalah membentuk kepengurusan. Formatur yang disediakan oleh Kantor Kelurahan adalah Ketua RT, Sekretaris dan Bendahara.

Penyetoran nama sesuai formatur tersebut menjadi bagian akhir dari proses peremajaan Ketua RT se Kelurahan Tanah Baru yang hampir selesai di minggu ini.

Kemudian yang perlu dilakukan adalah konsolidasi ke beberapa warga yang diharapkan kesediaannya untuk nyengkuyong pelaksanaan kegiatan kemasyarakatan. Dalam hal ini adalah kerelaan beberapa warga untuk bersedia menjalankan operasional perumahan yang utama seperti Keamanan dan Lingkungan, serta peringatan hari nasional dan keagamaan.

Dalam semangat nya, pada setiap kepengurusan pastilah ada program program kerja kemasyarakatan tertentu yang menyelimuti angan angan ketua RT. Belum genap angan angan untuk merencanakan, pasti telah didesak kegiatan PKK tingkat RW yang begitu berjibun.

Untuk itu pada periode 2016-2019, kepengurusan tidak melalui program kerja, namun hanya menjalankan rutinitas tertentu saja. Misalnya pertemuan rutin bulanan, pengumpulan dana iuran operasional perumahan, dan melaksanakan peringatan hari besar nasional dan keagamaan.

Pernah terpikirkan olehku kala itu, karena kondisi pertama kalinya menjadi wilayah RT, menarasikan RT 10 Perumahan Villa Tanah Baru dalam bentuk AD (Anggaran Dasar) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).

Karaktristik warga masyarakat yang sebagian besar berpebdidikan tinggi menjadi salah satu alasan perlunya AD ART sebagai pedoman berjalannya RT.

Meski sampai dengan habisnya masa jabatan ketua RT 10, hal tersebut urung terlaksana. Kemudian narasi yang kita bangun mendasarkan pada poin Peraturan Daerah yg di tanda tangani Walikota Depok, dimana poin yang saya pahami adalah pelaksanaan kegiatan RT bersifat sukarela dan partisipatif.

Dua kata tersebut senantiasa melingkupi angan di otaku sebagai warga yang ditunjuk selaku ketua RT. Untuk itu, beberapa hal yang telah saya laksanakan mendasarkan sifat partisipatif dan kerelaan warga.

Salah satu keputusan yang telah saya putuskan adalah menghapus tukang sapu jalan yang telah berjalan pada kepengurusan sebelumnya. Dan menginisiasi kerja bhakti lingkungan sebagai bentuk partisipasi warga untuk memiliki kepedulian lingkungan.

Dengan pertimbangan untuk menghidupkan partisipasi warga dalam kebersihan lingkungan khusus jalan perumahan maka tukang sapu jalanan yang menyedot dana operasional sebesar Rp. 900 ribu per bulan terpaksa saya hapuskan.

“pak RT, kok dikerjakan sendiri” tanya salah satu warga kepadaku. Pertanyaan itu secara sepontan dilontarkan kepadaku saat melihat diri ini sedang membereskan dahan dan ranting hasil bhakti lingkungan pada hari Sabtu.

“iya bu, sekalian fitnes” jawabku malu malu. Karena bagiku, memberikan kesan banyolan lebih mengakrabkan perbincangan. “itu bukan fitnes pak, itu fitnah” pungkas ibu itu sembari bergegas meneruskan jalannya.

Tiada pertanyaan mendalam atau tafsir berlebihan atas kalimat salah satu warga yang juga pernah menjadi pengurus perumahan Villa Tanah Baru.

Bagiku saat itu, hobi saja untuk membunuh waktu libur dengan meluangkan kerelaan diri demi lingkungan hunian. Dan sebetulnya, dengan praktik tersebut, diri ini sedang menjalankan narasi “kepengurusan RT didasarkan dengan kerelaab dan partisipatif dari warganya”.

Kala 2016,diri ini mendapat tafsir narasi kepengurusan sebelumnya, bahwa dengan iuran bulanan, maka dapat membereskan tanggung jawab lingkungan. Meski tidak menolak atas tafsir potensi kekuatan iuran bulanan yang saat ini telah mencapai Rp. 200 ribu per bulan per rumah.

Dengan iuran tersebut, maka RT 10 Perumahan Villa Tanah Baru dapat menjalankan operasional empat orang petugas keamanan dan satu orang petugas kebersihan (tukang sampah).

Biaya sebesar Rp 88.400.000 dengan rincian honor security senilai 1,7 juta dikalikan 13 bulan (termasuk THR). Sedangkan 28, 6 juta untuk membayar jasa angkut sampah dalam setahun.

Jika dijumlahkan, maka sebesar 117 juta dibagi 12 bulan mendapatkan jumlah beaya yang harus dipenuhi untuk menanggung kebutuhan beaya operasional bulanan (Rp. 9.750.000). Dan dari kebutuhan operasional bulanan, jika dibagi dengan 60 KK yang ada di RT 10 Villa Tanah Baru (termasuk para pengontrak yg kadang belum tentu menetap selama 12 bulan) maka akan bertemu dengan nilai Rp 162.500.

Untuk itu, narasi kepengurusan RT 10 Periode 2016-2019 bukan hanya terletak pada potensi Iuran Bulanan saja. Bentuk partisipasi dari warga yg bersifat sukarela merupakan kekuatan besar dari kegiatan kemasyarakatan.

Selain narasi “sukarela dan partisipasi”, terdapat pemahaman fundamental dalam berjalannya roda kepengurusan RT 10 Perumahan Villa Tanah Baru periode 2016-2019 yakni membiasakan warga dengan hal baru sehingga tidak menjadi aturan baku meski telah menjadi asumsi tetap pada kepengurusan sebelumnya.

Demikian kiranya ilustrasi informasi yang menjadi pengalaman ketua RT selama tiga tahun menjabat. Tak ada hal lain dari harmonisasi tanpa ada perbedaan pendapat dari warga. Namun demikian, penyelaman keadaan dan penempatan diri pada kebijaksanaan perlu ditunjukkan dengan berjalannya waktu.

Semoga bermanfaat.

MESDM

Begitu seksi kah sektor energi dan sumber daya mineral di negeri ini, hingga kepemimpinan satu periode (lima tahun) harus dikomandani lebih dari dua orang???

Dari deretan nama Menteri pada dua era kepemimpinan nasional yakni Presiden SBY dan Presiden Jokowi menyedot beberapa nama sosok menteri. Setidaknya setelah nama Bapak Purnomo Yusgiantoro yang secara penuh menjabat lima tahun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang biasa disebut dengan MESDM telah berganti seiring pengumuman oleh Presiden Jokowi pada hari Rabu tanggal 23 Oktober 2019 jam sembilan pagi.

Dari siaran televisi 📺 yang kulihat di kantor Gedung Ibnu Sutowo lantai 4, MESDM dipercayakan kepada Bapak Arifin Tasrif. Dari kalimat Presiden memperkenalkan sosok yang pernah menduduki duta besar RI untuk negara Jepang dan pernah pula menjabat direktur di salah satu BUMN.

Diriku yang merasa sebagai ASN di Kementerian ESDM, terusik untuk mengetahui lebih jauh terkait sosok MESDM pada kabinet Indonesia Maju periode 2019 – 2024. Bukan apa apa, terkadang pertanyaan tetangga kanan kiri datang padaku untuk menanyakan siapa menteri yang memimpin kantorku.

Dari WAG seprofesi pada jabatan arsiparis kudapati info bahwa beliau alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Kimia. Dan dari hasil gogling kudapati tulisan pernah menahkodai holding company PT. PUPUK Indonesia.

Dari bacaan arsip di dalam tugas keseharian, memang gas untuk industri pupuk cukup menghiasi otak ku. Meski baru sebatas niat pengen sedikit mengulas bagaimana proses bisnis gas dalam industri pupuk. Sekarang disuguhi informasi tukang pupuk sebagai pemimpin sektor ESDM.

Sontak memoriku teringat omongan Alida, temen semasa kuliah di Diploma tiga kearsipan UGM, bahwa industri pupuk tidak bisa jalan tanpa adanya Kebijakan dari sektor migas.

Dalam benaku kemudian menangkap sinyal adanya penekanan kebijakan Gas pada industri pupuk Indonesia. Atau kemudian, ketika seorang menteri ditetapkan oleh Sang Presiden, mendasarkan keterhubungan sepak terjang seseorang pada bidangnya.

Hari kamis, 24 Oktober 2019,bersumber dari pemberitaan kudapati info serah terima jabatan dari Bapak Ignatius Jonan dan Bapak Archandra Tahar kepada MESDM yang baru.

Menjadi catatan buatku adalah selama mengabdikan diri di KESDM (2009 s.d. sekarang) berderet nama menteri Purnomo Yusgiantoro, Darwin Zahedy Saleh, Jero Wacik, Plt. Chaerul Tanjung, Sudirman Said, Plt. Luhut Binsar Pandjaitan, Arcahndra Tahar, Ignatius Jonan dan kini Arifin Tasrif. Sedangkan jabatan wakil MESDM antara lain Widjajono Partowidagdo, Susilo Utomo, Archandra Tahar.

Bagi “kroco mumet” seperti saya, ada dan tidak efek dari kehadiran pemimpin baru bukan menjadi halangan dari pengabdian kepada Negara.

Diakhir tulisan ini, harapan untuk lebih mendapatkan perhatian kearsipan selalu menjadi angan angan. Selama sepuluh tahun terakhir ini, belum pernah satu menteri atau wakil menteri ESDM yang tertangkap gambarnya pada kegiatan kearsipan.

Memang, aku pun harus realistis, kearsipan masih belum menjadi urusan yang dapat dipergunakan sebagai agenda strategis di sektor ini. Sektor energi dan sumber daya mineral lebih kental nuansa bisnis dan terkait dengan urusan “DATA” ketimbang urusan “ARSIP”. Arsip merupakan salah satu bentuk saja dari Data. Data lebih mengemuka dibandingkan arsip.

Semoga bermanfaat

Anak dan Istriku

Rabu, 23 Oktober 2019
Rara si bontot mulai tidur tanpa diiringi “nenen” ibunya. Beberapa malam sih ok, hanya semalem kok agak susah. Meski sempat ku ajak keluar, untuk menjagaku dari kantuk, namun itu juga tak memuluskan jalan Rara dihinggapi kantuknya.

Mendekati jam 11 malam, tangis Rara yang kenceng membangunkan biangnya yang lebih dulu tertidur 😴 😴. Aku pun bisa memaklumi, karena selain bekerja, teman serumahku telah kecapean dalam berdarma untuk keluarga. Di keluarga, istriku rajin memasak untuk sarapan lelaki nya.

Pun setelah lepas dari tugas kantoran, peran lain sebagai ibu, tidak mau dibilang lalai dengan tugas rumahan. Sedari cuci piring, melayani anak anak, cuci pakaian, sampai mengusir 🐭 tikus. Pokoknya diborong semua deh.

Balik ke cerita Rara tadi, bahwa menjadi seorang lelaki itu perlu kesabaran juga. Sabar dalam mengisi kekosongan peran di keluarga. Salah satunya peran yg sudah rutin adalah menidurkan anak anak. Pernahkah merasa bahwa ternyata menenami anak menjelang tidur itu gampang gampang susah??

Tatkala balita kita tidur agak larut malam, bisa jadi mereka tidur siang lumayan lama. Keinginan untuk terus bermain, tak jarang menyulut konflik anak dan orang tua. Terlebih buat istri, yang telah merasa kecapekan.

Dua anak yg sudah lepas dari ketergantungan ketek ibunya, tidak terlalu menyulitkanku. Meski dulu sempat suatu malam, aku pernah mengalami bersitegang dengan Dipta, gara gara terlalu larut malam, lebih jam 11 masih ingin bermain, tak juga beranjak tidur.

Menemani Nasywa dan Dipta menjelang datang kantuk, cukup berbekal susu dalam botol. Susu bubuk dicampur dengan air dingin menjadi amunisi ampuh untuk mendatangkan kantuk mereka.

Mendatangkan kebiasaan membacakan buku cerita, kadang sudah bukan hal yang menarik bagi Nasywa yang telah aktif baca dan tulis. Cerita karangan sendiri pun tak canggung kubawakan tatkala Dipta merasa tidur siang agal lama.

Di akhir tulisan ini, aku pun harus menyampaikan rasa Syukur kepada Sang Pencipta. Betapa besar karunia Nya yang menghadirkan pasangan 👫 hidup. Bersama dia, aku bisa bertahan mengawal keluarga 👪 dengan tiga orang anak.

Dengan keterbatasan kemampuan ku, jadilah ia sosok perempuan yang tangguh. Tidak dapat memprotes segala kekurangan dia, karena begitu banyak kehebatannya yang menutupi figur seorang kepala keluarga.

Terimakasih 🤝 buat istriku

Lanjutan Daftar Berkas

Kemaren, ibu suwarti, staf pada subdit Penyiapan Program Migas menyambangi ruang arsip. “pak nurul, apakah perlu surat balasan terkait pembuatan daftar berkas??” katanya dengan semangat. Mendengar pertanyaan tersebut, diri ini menjadi tersanjung. Bahwa masih ada harapan untuk terus menggelorakan semangat perbaikan wajah perkantoran di birokrasi.

Selama ini, sadar dan tidak, potret pengarsipan masih berada pada tingkatan kesadaran. Gerakan sadar arsip yang terdengar pada seremonial belum menampakkan geliat nyata pada potret ruang perkantoran.

Tanpa adanya gerakan sadar arsip yang digelar dengan seremonial, sebetulnya hampir semua pegawai mempunyai kesadaran perlunya pengarsipan di ruang kerja. Transaksi administrasi keseharian dalam pelaksanaan tugas fungsi organisasi menghasilkan naskah kedinasan yang perlu di perhatikan.

“kala itu bu surya keliling ke ruang kerja, saat melihat odner berada di bawah meja, beliau memberi arahan untuk mengajukan permintaan lemari ke bagian umum” kata bu suwarti.

Ibu Surya merupakan pejabat pimpinan tinggi yang menaungi unit kerja dimana bu suwarti menjalankan tugas pekerjaan keseharian. Dari cerita bu suwarti, saya pun semakin yakin bahwa sebetulnya para pimpinan tinggi juga penuh kesadaran dalam kearsipan.

Kesadaran pengarsipan selalu kepentok dengan sarana penyimpanan. Hari demi hari berganti, arsip pun menjadi tumpukan kertas. Meski ditempatkan pada odner, masih saja menjadi pajangan di bawah meja atau di atas meja kerja.

“bu, setelah daftar berkas teridentifikasi, maka langkah selanjutnya adalah menentukan sarana penyimpanan” kataku untuk menjawab pertanyaan bu suwarti. Aku pun menambahkan bahwa unit kearsipan berharap dalam minggu ini seluruh unit kerja di lingkungan Ditjen Migas telah menentukan dan mempersiapkan sarana penyimpanan arsip.

“Jika nanti mempergunakan odner, maka judul odner dituliskan sesuai daftar berkas, jika nanti mempergunakan boks arsip, maka label boks bertuliskan nama berkas seauai daftar berkas. Jika mempergunakan map, maka subjet map dituliskan nama berkas” kataku untuk menjawab tidak perlu dibuatkan surat balasan terkait penyusunan daftar berkas.

Hal tersebut juga yang menjadi kesepakatan forum kearsipan Ditjen Migas pada tautan 👇

https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/10/17/pembuatan-daftar-berkas/

Kedepan, setelah penentuan sarana simpan, direncanakan forum kearsipan untuk pembahasan pembuatan isi berkas. Sebagai gambaran awal bahwa nantinya judul berkas bisa jadi akan muncul sub judul berkas sesuai dengan kuantitas arsip.

Pada akhir tulisan ini, semoga menjadi perhatian bagi admin di subdit dan bagian dalam pengarsipan secara seragam. Penyeragaman pengarsipan termaksud untuk mempersiapkan kegiatan pengawasan internal dalam kearsipan.

Apa definisi arsip???

Selasa, 22 Oktober 2019
Penjaga arsip yang semula hanya berkutat pada naskah kedinasan berkontempelasi kepada penjagaan rekaman kegiatan atau peristiwa yang dipengaruhi perkembangan teknologi informasi dan keterbukaan informasi pada birokrasi.

Arsiparis yg sejatinya pekerjaan secara fisik, terwarnai dengan cakrawala komoditas pekerjaan lain misalnya teknologi informasi dan keterbacaan informasi. Pekerja arsip tidak lagi hanya dibenturkan pada getirnya kenyataan beban ruangan dan rol opek/rak/lemari arsip. Namun sudah dihadapkan pula dengan ruang digital berupa server dan hardisk berkapasitas besar.

“mas, kalo mau mindahin arsip layanan perizinan yang berupa berkas pendukung penerbitan izin, berbetuk PDF, ke ruang arsip, bisa gk mas nurul?” tanya salah seorang analisis kegiatan usaha Hilir migas.

Aku pun menjawab selaku petugas arsip di kantorku “bisa mbak, kalo bisa skalian aplikasi dummy nya y mbak, agar memudahkan kami dalam pengelolaan data pdf tersebut”

Mbak nya pun, mikir kembali, dan sampai sekarang, puluhan tera arsip bentuk pdf belum berhasil dipindahkan ke unit kearsipan Ditjen Migas.

Sesuai pemahamanku, Kearsipan terkait erat dengan media dan penyimpanannya. Tatkala pemindahan arsip bermedia kertas dapat diterima hanya dengan disertakan daftar arsip dan berita acara pemindahan, namun arsip bentuk digital dengan format pdf, perlu disertakan database atau aplikasi.

Kalo arsip bentuk kertas beratus ratus meter linear dapat disimpan pada ruangan gedung , maka arsip digital harus disimpan dalam ruang digital bentuk server.

Arsip bentuk kertas tidak memerlukan sarana untuk membaca, namun arsip bentuk digital sangat memerlukan sarana baca. Bukan hanya sekedar baca, namun diperlukan sarana digital yang dipergunakan dalam transaksi semasa aktif. Jadi sarana digital dengan arsip digital menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengelolaan arsip.

Saya pun mendapat satu kesimpulan bahwa permasalahan kearsipan pada urusan kearsipan adalah tingkat keterbacaan menjadi tantangan terbesar pada ruang penyimpanan arsip. Baik ruang simpan untuk bentuk kertas dan ruang simpan untuk bentuk digital.

Pertanyaan nya adalah, kenapa saat arsip bentuk kertas tidak dipindahkan beserta lemarinya?, tapi untuk arsip digital harus dipindahkan beserta database atau aplikasi nya?

Jawaban ku cukup sederhana, yakni terkait keterbacaan informasi dalam arsip. Arsip digital yang begitu banyak akan menyulitkan dalam membaca arsip. Sulit bukan berarti tidak dapat dibaca, namun bagaimana jika file pdf yg berjumlah ratusan itu dengan mudah dapat diidentifikasi?

Sampai disitu dulu ya gaess…. Uraian pemaknaan definisi arsip. Uraian diatas merupakan kegiatan sampingan dari rutinitas pada tiap delapan jam di hari kerja, mengkondisikan diri untuk memegang arsip bentuk kertas.

Menjadwalkan diri agar lebih banyak untuk memegang fisik kertas lebih dari 5 jam sehari. Itu pun bisa terlaksana jika tidak ada panggilan pihak manajemen. Bagi diri pribadi, objek pekerjaan dan tuntunan manfaat yg akan dipetik dari urusan kearsipan adalah tatkala menyediakan kesetiaan diri dalam merapikan fisik arsip kertas yang tetep mawas dengan perkembangan teknologi informasi dan keterbukaan informasi di birokrasi.

Tak perduli dianggap sebagai penjaga gudang yang identik dengan fisik kertas kertas bertumpukan. Toh, kenyataan media penuangan komunikasi kedinasan paling banyak berada pada fisik kertas.

Nyatanya, ruangan dipenuhi dengan tumpukan kertas di dalam boks, kardus, kontainer, odner, map yang bukan hanya di kantor ku saja, namun bisa jadi terjadi hampir disemua instansi.

Laju pertambahan arsip kertas yang tidak diimbangi dengan pengurangan arsip berdampak pada tingkat keterbacaan arsip. Tatkala informasi penting masih bercampur dengan informasi biasa, maka selayaknya kita sebagai pekerja arsip mereview kembali pemahaman definisi arsip.

Saat ini kelahiran satu arsip bentuk kertas mendapatkan dukungan arsip lampiran atau berkas pendukung bentuk digital. Bagaimana eksekusi pengarsipan nya????

Misalnya, aplikasi perizinan online yang masih mempunyai produk naskah dinas yang ditandatangani para pimpinan tinggi bermediakan bentuk kertas. Jika ditilik pada proses pengajuan permohonan dengan mempergunakan sarana online, maka menghasilkan rekaman kegiatan bentuk digital.

Pertanyaan kita selanjutnya adalah apakah arsip kertas dan arsip digital dimaknai menjadi satu bagian yang tidak terpisah???

Dulu, tatkala arsip diartikan sebagai hasil samping dari kegiatan administrasi, dianggap merendahkan kedudukan urusan kearsipan.

Pengaruh pendapat pakar dari luar negeri terkait arti arsip berupa informasi yang terekam pada media apapun mewarnai tafsir Undang Undang tentang Ketentuan Pokok Pokok Kearsipan pada tahun 1971 yang sebetulnya hanya membatasi pada suatu naskah dalam berbagai corak media.

Pada perkembangan nya, tatkala sarana komunikasi dan teknologi informasi serta kebebasan informasi telah melanda dunia birokrasi, mendesak perluasan definisi arsip.

Kira kira ada yang tau???? , dari mana awal kemunculan arti arsip menjadi rekaman kegiatan atau peristiwa sebagaimana yang menjadi isi Undang Undang tentang Kearsipan pada tahun 2009.

So, saya pun harus mengakhiri dengan bertanya pada diri sendiri, sudah tepatkah kita dalam memaknai definisi arsip saat ini?????

Semoga bermanfaat.

Inovasi Kearsipan

Satu kalimat yang membekas di memori otaku dari Pidato Presiden Jokowi saat pelantikan pada Minggu, 21 Oktober 2019 adalah ***rutinitas dari proses pekerjaan adalah satu hal, dan hasil pekerjaan adalah hal lain***””

Bagaimana implementasi nya di area kearsipan? Urusan kearsipan yang selama ini masih berada pada urusan proses, atau rutinitas harus dipandang pada sudut lain dengan mengutamakan hasil pekerjaan.

Hasil kerja arsip itu apa? Apakah bentuk daftar arsip bisa dibilang seperti bentuk laporan atau buku kajian dari karangan para ahli atau konsultan? Bukankah sejak lama hasil pekerjaan tersebut telah mendapatkan kritik?.hasil kerja berupa laporan dan buku kajian setebal apapun tidak dapat menghasilkan sesuatu tanpa dipergunakan?

Memaknai pidato presiden tersebut diatas memang perlu keluasan wawasan dan ketepatan presisi. Penulis jadi ingat saat kemunculan istilah “manfaat pekerjaan atawa 🏴󠁧󠁢󠁥󠁮󠁧󠁿 Inggrisnya” impact. Kala itu memahami pertanggungjawaban dari pekerjaan adalah keselarasan perencanaan sedari input, proses dan ouput. Hanya berfokus pada batasan output saja.

Ternyata dalam manajemen ada yg perlu digali lagi terkait adanya impact atau manfaat nyata dari pencapaian output.
Bisa jadi ini juga yg dimaksud pada isi pidato presiden tentang bedanya makna “delivered” dengan “sent”

Manfaat apa yang bisa diberikan dengan hasil pekerjaan kearsipan?. Pertanyaan tersebut menjadi poin untuk menyimpulkan hal hal di atas.

Penyediaan informasi kepada pihak yang membutuhkan sesuai dengan kedudukan kearsipan pada organisasi, bisa jadi mendapat tempat yang paling tinggi dari manfaat adanya urusan kearsipan.

Atau kemudian membangun beberapa tautan informasi yang akan menjadi memori organisasi menjadi jangkar ⚓ urusan kearsipan?

Pada akhir tulisan ini, penulis hanya akan menyampaikan sedikit kegelisahan atas isi pidato presiden tentang budaya inovasi. Tingkat resistensi di kearsipan masih cukup tinggi jika dibanding dengan urusan lainnya di rumah kebangsaan NKRI.

Kearsipan yang masih dituntut sesuai dengan proses dan kaidah yg begitu normatif, menjadi tantangan terbesar para pekerja arsip. Misalnya saja, kejelasan manfaat urusan kearsipan pada tujuan pembangunan tautan informasi untuk memori organisasi.

Lebih sederhana nya penulis contohkan pada penyusutan arsip. Pelaku kearsipan pasti akan sangat tunduk dan menghargai akan proses yg sesuai dengan kaidah. Jika tidak dilewati suatu proses tersebut , maka penyusutan bisa dikatakan SALAH. Tanda tangan kedua belah pihak dalam secarik berita acara, adanya daftar arsip yang juga harus ditanda tangani kedua belah pihak sampai dengan proses berlapis lapis jika arsip akan di musnah.

Praktik inovasi kearsipan pada contoh penyusutan arsip masih terganjal dengan kaidah peraturan yang memang menomorsatukan sebuah proses yang baik. Padahal tuntunan untuk segera memberikan manfaat kearsipan senantiasa menghantui para pekerjaan arsip.

So, dimanakah letak ketepatan sudut pandang kita atas isi pidato presiden pada hari minggu itu????

Tatkala kemudahan penyusutan arsip dapat menjadi area inovasi kearsipan, tak diragukan lagi dalam pemberian dua manfaat kearsipan sekaligus yakni
1. Segera membangun memori organisasi yang tercermin dari ragam khasanah koleksi arsip di Unit Kearsipan
2. Memberikan kesegaran ruang simpan bagi unit pengolah atau unit kearsipan level bawah untuk dapat melanjutkan layanan kearsipan (solusi ruang simpan)

Semoga bermanfaat

Ke Sucen Sleman

Mencari beberapa kata untuk menggambarkan makna dan arti hidup dengan pulang ke kampung. Apa yang bisa diceritakan dengan pulang ke Sleman pada Bulan Oktober 2019 ini???? Jika dua bulan lalu (tepatnya Agustus) terangkai kata kata melalui tautan berikut 👇 👇
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/08/11/memori-di-sleman/

Hidup yang terkesan menghabiskan jatah waktu sebelum menuju ke alam baka, perlu pencarian makna dan arti hidup hingga dapat meninggalkan cerita.

Cerita perjalanan hidup yang akan diceritakan oleh kita sendiri sebelum nanti bakal menjadi bahan cerita orang lain.

Tiada jadwal yang runut saat berada di Sucen. Karena disini bukan tempat yang beracara namun tempat kembali ke jati diri. Maka tak perlu menyusun urutan kegiatan, namun keharusan saja untuk datang kembali di Sucen untuk menguak memori.

Bagiku, Padukuhan Sucen, Kelurahan Triharjo dan Kecamatan Sleman merupakan daerah sebagai pembentukan jiwa. Di daerah ini, jabang bayi menyapa dunia dari rahim seorang perempuan. Di sucen lah tempat aku dibesarkan dari seorang buruh bangunan. Di kampung ini otaku menampung memori baik berupa informasi, suasana, pemandangan, penciuman, kenalan, cerita.

Memori penciuman saat melalui jalan diantara persawahan pada gelap malam. Bau rumput dicampur embun serta dibalut keheningan. Muncul kembali suatu kenangan saat masih SD pada beberapa saat sebagai santri pondok pesantren. Adalah bapak Fatwa Ma’ruf dan nama Darul Ilmi Murten merupakan memori yang ada di otaku.

Memori keberjamaahan di Masjid Asy Syifa, sejak direncanakan pembangunan sampai menjalankan kegiatan seperti TPA, Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), kepanitiaan Ramadhan di kampung dan seterusnya. Memori dimana diri ini mempunyai merk sebagai remaja muslim yang lebih taat ketimbang remaja lain yang tidak.

Dulu, saat masih menempuh kuliah, tak ada niat untuk meninggalkan kampung. Lepas lulus SMAN 1 SLEMAN, kata kataku terucap kepada kerumunan beberapa orang dalam nuansa ngaji. Ada satu lagu nasyid yang begitu membius semangat untuk membangun desa tercinta. Meski pada akhirnya, kalimat tersebut aku lecehkan, kukhianati serta kulanggar sendiri.

Coba tuk mengingat kembali lirik lagu Nasyid oleh Gradasi itu yang telah menyebabkan obsesiku membangun desa tercinta.

Karena agak lupa, aku pun copy paste dari link http://liriknasyidterbaru.blogspot.com/2012/03/gradasi-pematang.html?m=1

Di pematang kutatap bulan
Langit cerah cemerlang
Bertabur penuh bintang
Riangkan hati insan
Di pematang ku menerawang
tentang sebutir harapan
yang telah aku tanam
Di tanah kelahiran
Reff:
Butir padi keemasan
Tersapu angin melambai
Seakan membawa pesan
Tentang arti kesetiaan
Akan sebuah kerja panjang
Jalannya semakin terbentang
Membawa cahaya terang
Membangun desaku tersayang
Bridge(etnis):
Hayu batur urang kumpul sarerea
Perhatikeun ciptaan Anu Kawasa
Lestarikeun keur anak jeung incu jaga
(instrumentalia)
(ending)

Meski pernah membius dalam obsesi kala masih masa kuliah, memoriku hanya mampu mengingat bait kedua saja… Itu pun aku harus mendendangkan seperti tim nasyid yang sedang berpentas. Ya, sebagai anggota tim nasyid, dulu aku sangat hafal betul lirik lagu tersebut, pada lagu tersebut, dipercaya sebagai vocalnya dan beberapa kali pentas.

Memori tidak bertahan lama y….kenapa? Bisa jadi karena korban pelecehan. Obsesi yang terlecehkan dari perubahan kondisi. Obsesi membangun desa harus dihentikan untuk menjalani urbanisasi. Obsesi pun dikhianati dengan menjelma diri menjadi kaum urban di tahun 2007.

Pada akhirnya harus kuakhiri tulisan ini dengan satu kesimpulan pencarian makna dan arti hidup dengan pulang kampung adalah, obsesi dan kesetiaan harus di pertaruhkan demi perasaan ketidakberdayaan. Bisa jadi hanya perasaan saja yg terkungkung dengan penjajahan ekonomi.

Kondisi ekonomi miskin dengan cekokan kemajuan pencapaian dan cita cita. Padahal hidup dunia hanya sebatas berperan saja. Kehidupan berjalan dan terus berkembang merupakan sebuah kepastian dari Sang Pencipta.

Semoga bermanfaat