DIPTA KE MADRASAH

Senin, 22 Juli 2019, setelah bujuk rayu Sang Ibu, lepas terjaga di pagi hari, Dipta pun harus berangkat ke Madrasah. Cemberut yang nampak di wajahnya, lupa sejenak saat berboncengan berempat bersama bapak, ibu, kakak.

Pagi itu menuju ke madrasah dimana kakak Nasywa juga sekolah disana. Biasanya, sudah sebulan ini, Dipta tidak mau masuk sekolah. Katanya, sekolah itu capek. Namun pagi ini, berbarengan dengan cuti tahunanku, sebagai bapak berkesempatan menunjukkan perhatian kepada Dipta yang baru mengenal suasana sekolah.

Suatu perhatian kepada anak yang dibelakangnya terkandung beribu maksud. Salah satunya agar anak mau bersekolah. Salah duanya kelak menutup tuntutan anak, saat haknya tidak diberikan. Hak untuk mendapatkan pendidikan melalui bangku sekolah.

Mungkin saja kejadian Dipta yang enggan ke sekolah juga di alami anak anak yang lain. Tak jauh beda, dulu kakaknya pun hampir sama, masih takut untuk bersekolah. Pun saya sebagai bapaknya, memori masa kecil yang teringat bahwa memang sekolah itu sangat memuakkan.

Meski tidak suka dengan sekolah, namun tetap harus bersekolah. Tidak ada pilihan lain, mau ngapain di rumah. Mungkin saja Dipta masih merasa asyik di rumah, hingga tidak mau berangkat sekolah.

Rencana, besok pagi, hari Selasa, 23 Juli 2019, mengantar kembali Dipta ke Madrasah. Semoga menjadi usaha yang dimudahkan oleh Sang Pencipta dalam mendampingi anak memberikan pendidikan melalui bangku sekolah.

Arisan Warga

PERTEMUAN WARGA VTB JULI 2019
Tak rela rajutan rasa kebersamaan yang telah terbangun lebih dari puluhan tahun memudar. Menjaga wujud permusyawaratan sebagai salah satu kepribadian Bangsa Indonesia. Sabtu, 20 Juli 2019, Warga RT 10 Villa Tanah Baru, di Kediaman Bapak Charly Blok C5 melaksanakan pertemuan rutin bulanan.

Meski berada pada akar rumput masyarakat Indonesia, warga Villa Tanah Baru (VTB), terus memupuk rasa kebangsaan dengan jalan silaturahmi antar tetangga. Bahkan lebih dari itu, pada sambutan tuan rumah, Pak Charly berharap, silaturahmi yang terus terjaga semoga dapat meraih rasa kekeluargaan.

Status catatan domisili 58 kepala keluarga terwakili dengan kehadiran, Bapak dan Ibu, Roeswadi, Anwari, Dawai, Pratama, Walidi, Ade, Bien, Ries, Nurdin, Posma, Aan, Irvan, Baderi, Gagah, Yulius, Ari Cahyo, Afrian, Nurul, Maradona, Ibnu, Bayu, Ima, Dwi, Emmy, Farida, dan masih terdapat berberapa warga lainnya.

Hasil permusyawaratan untuk Peringatan HUT RI ke 74:
+ Pengiriman kontingen Futsal U15 di Lomba tingkat RW
+ Malam kebersamaan: Sabtu, 17 Agustus di area Gazebo
+ Mancing di Empang Deluna pada 18 Agustus 2019
+ Penyiapan Konsumsi Malam Kebersamaan oleh Ibu2

Bagi kami, inilah wujud rasa cinta tanah air, rasa kebangsaan meski tak bisa disandingkan dari pekik perjuangan para pahlawan. Besok sore, tatkala kontingen Futsal U15 VTB berada pada Jadwal Lomba 17an, berharap mendapat suport dan doa dari seluruh warga VTB.

Semoga dapat disambung dengan Sabtu malam, di 17 Agustus di area Gazebo, lapangan Badminton VTB, untuk berkumpul bersama, dalam nuansa khidmat momentum Kemerdekaan Indonesia ke 74

Begitu juga Minggu, 18 Agustus, Mancing Mania dapat memantik kembali rasa kebersamaan, di Empang Deluna. Tak tanggung2, persiapan 100 Kg Ikan Mas dari Pak Pratama akan menambah gelak tawa menerobos rasa keakraban diantara warga.

Hasil Permusyawaratan Idul Qurban;
+ tempat penyembelihan 🐄🐐 di Mushola Al Ukhuwwah
+ pelaksanaan Hari Minggu, 11 Agustus 2019
+ akan dibentuk tim kecil dari para Sohibul Qurban
+ info awal satu sapi dari grup pengajian Ibu2 VTB

Pun kebersamaan dalam nuansa Kurban semoga terus terjaga pada RT 10 Villa Tanah Baru. Nuansa yang merangkul kemajemukan serta keberagamaan.

Pada akhirnya, semoga pertemuan bulanan warga terus berjalan dan terus bertahan. VTB sejak 2006 sampai 2019 menjadi bagian melekat dari perjalanan kehidupan. Melekat memori keluarga, sampai nantinya anak2 berada pada kemapanannya sebagai generasi penerus bangsa Indonesia.

Jejak Arsip Kertas Tahun 2016

Meniti kembali jejak jejak kearsipan Ditjen Migas di tahun 2016????? Jejak yang tertinggal dalam mengawal kearsipan dalam manajemen birokrasi pemerintahan.

Bak ibarat lilin 🕯di tengah belantara hutan, kearsipan di Ditjen Migas merasa diri dalam harapan tinggi untuk bisa menjadi penerang kegelapan informasi. Berbeda dengan sumber informasi lainnya, kearsipan kental dengan ciri kertas sebagai kekhasan identitas jati diri suatu organisasi.

Adakah jejak kearsipan itu? Secarik kertas tertanggal 26 Agustus 2016 bertandatangan pimpinan tinggi pratama, menjadi satu jejak kearsipan. Jejak penggunaan logo Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai identitas.

Tak dipungkiri, identitas terpatri pada kertas menjadi bukti keberadaan organisasi. Bahkan sampai kepada suatu asumsi, terungkapnya kepalsuan yang mengaku sebagai instansi resmi.

Dari satu jejak kearsipan itu, kuuntuai cerita sebagai apresiasi diri dalam peran mengawal kearsipan. Berharap jejak kearsipan dapat berperan dalam menghidupkan lentera penerang kegelapan informasi di antara riuh dan gemerlapnya industri informasi.

Pun kiranya pada secarik kertas bertanggal 9 Agustus, 15 Agustus 2016 dan tanggal 20 September 2016, terdapat jejak kearsipan dalam Nota Dinas Bertanda tangan pimpinan.

Atas tujuan pengurusan surat sebagai salah satu area kearsipan, inisiasi untuk mewujudkan penciptaan arsip yang terdokumentasi dengan baik menjadi langkah kearsipan.

Kertas yang selalu mengisi sisi meja kerja, kertas yang kadang mengubur infomasi karena terlalu banyak, menjadi perhatian kearsipan. Melalui pendekatan teknologi informasi e surat, kearsipan mulai menarasikan tata laksana persuratan dalam menggapai kondisi perkantoran elektronik (e office).

Berbekal dukungan Direktur Jenderal kala itu, hampir tiga tahun, ratusan ribu surat mondar mandir antar meja kerja tanpa bentuk kertas. Penurunan penggunaan kertas pada praktik perkantoran dapat berujung pada efisiensi ruang arsip.

Arsip Pegawai

Senin itu, saat seorang petugas kepegawaian menghubungi kami di ruang arsip, menjadi satu kejadian yang membukakan perhatian terhadap dosir pegawai. Perhatian terkait arsip personal file yang biasa disebut dengan dosir pegawai.

Pada tulisan yang berjudul berkas pegawaian KESDM
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/03/22/berkas-pegawai-kesdm/ memberikan gambaran pemanfaatan teknologi komputer sebagai sarana pengelolaan arsip kepegawaian.

Aplikasi sistem informasi pegawai yang diharapkan mampu untuk menjamin ketersediaan arsip, masih perlu perhatian dari unit kerja terkait. Adalah arsip penetapan pensiun salah satu Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Alm. Pak Naryanto Wagimin, belum tersedia pada aplikasi termaksud.

Saat tidak didapati arsip termaksud, petugas kepegawaian pun menelusuri di ruang arsip. Ruang arsip dimana identik dengan arsip dalam media kertas. Setelah diketemukan, arsip tersebut disampaikan kepada keluarga pejabat termaksud untuk pengurusan pajak.

Gambaran kejadian ini pasti menambah semangat Kasmari yang dibantu junaidi alfin dan Avis dalam mengelola dosir pegawai Ditjen Migas. Hasil kerja selama beberapa bulan terakhir ini, telah menemukan titik tolak manfaat bagi para pencari arsip.

Manfaat pengelolaan sebelumnya saat mantan Dirjen Migas Bapak Rachmat Sudibyo yang memerlukan SK pensiun. Sebagimana tautan https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/05/24/cari-ssp-2014-arsip-pensiun-2003/

#dosirPegawai

Inovasi ketatalaksanaan

Salah satu aspek dari keberhasilan Reformasi Birokrasi adalah adanya tata laksana yang terus berinovasi. Begitu bacaan yang sempet mampir di otaku saat memilah bahan arsip dan non Arsip. Bacaan dari copy paparan dari tumpukan berkas kerja pindahan dari unit kerja.

Begitu banyak bacaan yang melewati memori otak saat meniti aktivitas kearsipan. Mungkin ini yang menjadi nilai tambah dari jabatan arsiparis. Semakin hari bertambah pengetahuan.

Berkas kerja yang bercampur antara arsip dengan bahan bacaan, atau bahan bacaan yang mendukung kelengkapan arsip, atau berkas kerja yang hanya berisi bacaan sebagai referensi saja untuk membantu para pejabat dan pegawai dalam menyelesaikan pekerjaan.

Berkas kerja tersebut menjadi bahan kerjaku tiap hari. Ketika mendudukan bahan kerja arsiparis berupa berkas kerja pindahan dari unit pengolah/unit kerja, maka aku harus melakukan analisa untuk memisahkan antara bahan arsip dan non arsip.

Sebagaimana tautan berikut
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/06/15/menjaga-autentikasi-arsip/

Tulisan pada tautan tersebut menunjukkan bahwa arsiparis bertugas melakukan verifikasi terhadap arsip. Tidak semua bahan kerja dari berkas kerja masuk dalam kategori bahan arsip.

Balik ke bacaan terkait reformasi birokrasi. Apa itu inovasi? Coba ketik di mbah google, ketemu dengan arti kata inovasi yakni pengenalan hal hal yang baru. Hal yang baru menjadi bagian dari keberhasilan Reformasi birokrasi.

Saya jadi teringat dengan hal yang baru terkait jabatan arsiparis. Dalam tulisan di tautan berikut
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/06/23/aai-asosiasi-arsiparis-indonesia/
Saya sempat menyinggung resistensi para arsiparis terkait hal yang baru di kearsipan. Hal yang baru adalah sistem penilaian prestasi kinerja.

Satu fenomena penghuni habitat kearsipan (arsiparis) masih merasa resisten dengan perubahan, bergejolak dengan hal yang baru, yakni sistem penilaian kinerja.
Baca juga
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/02/13/penilaian-arsiparis-via-skp/

Hari ini saya mendapat pelajaran bahwa, tak perlu risau dengan hal hal yang baru. Boleh jadi hal yang baru membawa hal positif. Sebagaimana indikator keberhasilan reformasi birokrasi yang aku baca dari aktivitas memilah arsip.

Semoga bermanfaat

Kompetisi Arsiparis Teladan

Menyambut kegiatan Pemilihan Arsiparis Teladan tingkat Nasional tahun 2019, kurang lebih satu bulan kedepan, tepatnya 15 s.d. 17 Agustus 2019, para Arsiparis tingkat provinsi dan instansi pusat berada salah satu momentum untuk mempertahankan lingkungan hidup komunal kearsipan.

Kata kunci nya berada pada lingkungan kearsipan secara komunal. Urusan kearsipan yang dimotori para pekerja kearsipan (arsiparis dan petugas kearsipan) dengan nahkoda lembaga kearsipan dan unit kearsipan berhadapan dengan peran urusan lain dalam menghadapi era industri 4.0.

Untuk itu diperlukan lingkungan kearsipan komunal yang terlihat hidup, mengesankan dinamis, dan meneriakan semangat perubahan. Bukan saja untuk mengambil peran dalam pembangunan Indonesia, namun yang lebih penting adalah mempertahankan eksistensi lingkungan kearsipan secara komunal.

Kearsipan dituntut untuk mengikuti perubahan kondisi birokrasi baik sejak tingkat daerah sampai ke tingkat pusat. Belum lama, kearsipan mendapat kan apresiasi dari pucuk pimpinan. Belum meratanya perhatian pimpinan terhadap kearsipan. Atau kesan belum dianggap sebagai suatu urusan pemerintahan dalam kerangka manajemen birokrasi. Bisa jadi suatu instansi memang masih ada yang tidak mengenal urusan kearsipan.

Gambaran diatas biasa direngkuh dengan cara menciptakan suasana kompetisi. Namun demikian, pernahkah mendalami makna kompetisi???? Sabrang Damar mowo Panuluh, di suatu obrolan yang santai pernah menyampaikan, bahwa makna kompetisi diharapkan mampu membuat suatu komunitas dapat berbuat lebih bermanfaat.

Dari rekaman pada Channel Youtube, “Edukasi Maiyah”, Sabrang sebagai penerus Mbah Nun, telah memantik perspektifku tentang kompetisi. Konsep dasar suatu kompetisi bukan sekedar saling mengalahkan, bukan untuk menjadi pemenang 🏆🎉🏆, bukan sekedar saling mengungguli. Ada tata nilai Fairplay yang harus dijaga untuk tujuan menjadikan lingkungan hidup komunal dapat lestari. Lagi lagi, kalimat kuncinya adalah: menjaga lngkungan hidup komunal hingga dapat lestari.

Misalnya kompetisi sepak bola tingkat lokal dapat menjaring bibit unggul untuk menciptakan tim sepak bola nasional yang unggul. Bukan si pemangku kebijakan dan operator sepakbola saja yang dapat berkontribusi membentuk tim nasional sepakbola yang unggul, namun berasal pula dari tingkat komunitas sepakbola paling rendah atau lokal.

Pun misalnya tim nasional sepakbola yang telah terbentuk dari kompetisi yang sehat belum dapat unggul di kancah internasional, itu bukan tujuan utama. Tujuan utama adalah mempertahankan lingkungan hidup komunal sehingga dapat lestari. Persepakbolaan yang terus lestari.

Begitu juga kiranya pada bidang kearsipan. Pemilihan arsiparis teladan tingkat nasional seyogyanya berujung pada terjaganya lingkungan kearsipan secara komunal. Sedari pekerja Arsip, pejabat struktural urusan arsip, unit kearsipan pada tingkat pusat dan daerah, lembaga kearsipan pusat dan daerah, Perguruan tinggi, dan badan usaha yang bergerak di bisnis kearsipan perlu memberikan perhatian atas momentum kegiatan tersebut. Kegiatan sebagai salah satu usaha mempertahankan eksistensi kearsipan dalam pembangunan Indonesia.

Selamat berlomba wahai para arsiparis Indonesia. Kobarkan semangat 🔛🔥 kearsipan Indonesia untuk simpul pemersatu bangsa

Semoga bermanfaat

Arsip Hidup ala Pak Aco

Selasa, 16 Juli 2019 melalui Pak Aco, pejabat administrator eselon tiga memberikan sentuhan kearsipan di Ditjen Migas memancing kembali cakrawala wawasanku. Wawasan kearsipan selama ini yang terkurung dalam ruang dan dimensi media.

Gagasan yang menarik dari pak Aco untuk mengcapture atau menangkap arsip hidup. Apakah Arsip hidup itu?????
Meski secara harfiah, lebih dekat dengan dokumentasi bukan kearsipan, namun secara tinjauan lain, sangat menarik untuk diposisikan sebagai suatu gagasan dalam pembangunan kearsipan.

Pagi itu, saat kedua tangan tak luput dengan berkas pindahan dari unit pengolah/unit kerja, harus terhenti kala mata melihat nama pak Aco menyertai bunyi HP. Keseharian sebagai petugas arsip, ruang kerja pun jauh dari ruang kerja pimpinan. Ruangan ku menyatu di ruang pada pengolahan Arsip, seperti pilihanku agar bisa konsen kearsipan.

Beberapa saat terhubung melalui seluler, saya pun melangkah kaki menuju ruangan Pak Aco untuk mendapatkan arahan kerja.

Seperti biasanya, beliau menyapa dengan penuh canda. Di ruangan beliau, semakin lengkap dengan kehadiran pejabat pengawas sub bagian tata usaha (bu Ike)ang dilantik pada hari Jumat 12 Juli 2019.

Arahan kerja Pak Aco agar direncanakan aktivitas wawancara pelaku sejarah, sosok Direktur Jenderal Migas menjadi maksud dari arsip hidup, versi Pak Aco.

Di bangku sekolah dulu, Arsip hidup versi pak Aco masuk dalam mata pelajaran “metode pengolahan informasi lisan”. Pendekatan dalam memaknai wawancara pelaku sejarah yang dapat melengkapi khasanah Arsip.

Sentuhan pak Aco, untuk membangun kearsipan Ditjen Migas tersebut, sangatlah menginspirasi. Meski demikian sesuai kemampuan unit kearsipan ditjen Migas belum mampu dilaksanakan.

Perbedaan tafsir peran unit kerja dan keterbatasan sumber daya pendukung dan tingkat prioritas aktivitas kearsipan, belum mendukung terobosan pengolahan Arsip hidup.

Berjajar nama nama arsip hidup yakni pelaku sejarah Ditjen Migas yakni pimpinan tinggi madya, Direktur Jenderal Migas sejak pak Soedarno, Suyitno, Rachmat Sudibyo, Iin Arifin Tahyan, Luluk sumiarso, Evita Herawati Legowo, Edy Hermantoro, IGN Wiratmaja, Ego Syahril, Djoko Siswanto.

Kepergian Bapak Seopraptono Soelaiman setahun yang lalu, menambah niat untuk mendokumentasikan arsip hidup. Kegiatan mendokumentasikan sejarah perjalanan Direktur Jenderal pernah dilaksanakan oleh Bagian Rencana dan Laporan (SDML). Kala itu, saat era kepemimpinan Sesditjen Migas, Bapak Edi Purnomo dan lanjutan Sesditjen Migas, Bapak Edy Hermantoro.

Adalah sosok wanita satu satunya yang menjabat sebagai Dirjen Migas, Evita Herawati Legowo, menjadi aktor film dokumenter kala diputar saat pelepasan pensiun. Meski di ruang arsip tidak menyimpan dokumentasi informasi lisan tersebut.

Di akhir tulisan ini, semoga sentuhan Pak Aco dalam menangkap Arsip hidup dapat terealisasi di saat tingkat prioritas kearsipan dihadapakan dengan penyelamat dampak renovasi gedung Migas. Semoga bukan hanya di Bagian Umum kepegawaian dan organisasi saja, karena gagasan ini sangat bermanfaat untuk dokumentasi kemigasan di Indonesia.

Semoga bermanfaat

Arsip Pengawasan

Para pembaca yang budiman, Ceille.. nyapa nih ye.. 😂😛😝😋, Para petugas kearsipan dapat berada di persimpangan yang mengasyikkan. Persimpangan yang terkadang memancing adu argumentasi. Persimpangan tersebut harus dilalui untuk sampai pada tujuan yakni arsip yang tersusun dan tertata rapi.

Layaknya berjalan di suatu jalan, kita akan memilih satu jalur pada persimpangan untuk dapat sampai ke tempat yang dituju. Yang dimaksud jalur persimpangan dalam tulisan ini adalah adanya tiga cara dalam membentuk berkas. Cara pemberkasan yang dapat ditempuh melalui salah satu dari tiga cara yakni kesamaan bentuk, kesamaan masalah dan kesamaan kegiatan.

Cara pemberkasan tersebut yang penulis ibarat kan sebagai tiga jalur membentuk persimpangan. Salah satu jalur yang akan membawa ke tempat yang dituju. Cara pemberkasan yang ditentukan untuk tujuan kearsipan yakni menjamin ketersediaan rekaman kegiatan.

Persimpangan yang datang dari tiga kesamaan pembentukan berkas berakar dari tinjauan struktur, kontek dan isi. Suatu tinjauan yang perlu dilakukan sebagai jalan untuk menuju tujuan menjamin tingkat kepercayaan arsip.

Tulisan kali ini akan mengurai persimpangan termaksud. Ibarat melalui jalur persimpangan jalan, untuk sampai pada tempat yang dituju memerlukan pertimbangan agar tidak salah.

Meski berbeda, namun ketiga jalur akan membawa pada tujuan yang sama yakni tersusun nya arsip. Intinya jalan, bukan berdebat, palagi saling menyalahkan salah satu jalur.

Sebelumnya, tulisan ini tersusun bukan tidak mau mempergunakan metode ilmiah, namun karena penulis merasa belum dan bukan ahli. So kita sampaikan sederhana dan sebisa saya saja ya gaes….

Yuk kita mulai….
Di unit mana pun, baik yang bersifat teknis maupun penunjang, pastilah terdapat arsip pengawasan. Arsip ini merupakan rekaman kegiatan audit dari unit pengawas baik internal maupun eksternal.

Jangka waktu administrasi yang mengikuti penyelesaian hasil pemeriksaan memantik kembali ketersediaan arsip pengawasan. Hasil pemeriksaan pada tahun anggaran berlalu, merekomendasikan tindak lanjut pemeriksaan pada tahun berjalan. Jika belum dapat terselesaikan, dapat berlaku untuk tahun berikutnya. Hal tersebut menjadikan berkas pengawasan memiliki kurun waktu dengan rentangan tahun (dapat lebih dari dua tahun anggaran).

Struktur arsip pengawasan bukan hanya Laporan Hasil Pengawasan disingkat LHP yang menjadi hasil akhir pemeriksaan. Atau berupa kertas kerja berisikan saldo temuan yang dikompilasi menjadi data.

Hasil audit disampaikan oleh inspektur jenderal kepada pimpinan satuan kerja melalui pengantar masalah hasil audit yang termuat pada LHA. Pengantar tersebut biasanya memiliki struktur naskah dinas bentuk surat. Surat inspektur jenderal akan ditindaklanjuti oleh pimpinan satker dengan menciptakan naskah dinas berbentuk nota dinas.

Rekaman kegiatan tidak lanjut hasil pemeriksaan dapat memiliki struktur yang berbeda beda. Misalnya tidak lanjut penyetoran kerugian negara akan menghasilkan surat setoran bukan pajak (SSBP). Jika tidak memperhatikan kesamaan kegiatan, atau mempergunakan tinjauan kontek, SSBP tersebut dianggap sebagai arsip keuangan, atau di berkas kan sesuai bentuknya yakni surat setoran yang mirip pajak.

Belajar dari contoh kasus layanan yang kita temui terkait dengan arsip pengawasan.

Minggu yang lalu, tepatnya hari Rabu, 10 Juli 2019, pramu kantor dari Bagian Keuangan menelusuri surat terkait tindak lanjut pemeriksaan. Berdasarkan arahan pimpinan pada unit keuangan migas, surat tersebut dapat diketemukan di ruang arsip karena memiliki kurun waktu tiga tahun yang lalu, atau tahun 2016.

Petugas arsip menelusuri surat termaksud dengan dua cara, yang pertama adalah struktur arsip berbentuk surat, akan ditelusuri di aplikasi persuratan. Kejelasan identitas seperti perihal, tanggal, dan bulan pada surat dapat mengarahkan petugas dalam menemukan arsip.

Setelah tidak dapat diketemukan file PDF pada aplikasi persuratan, maka petugas mengecek pada aplikasi arsip digital. Suatu aplikasi yang dimanfaatkan untuk menyimpan daftar arsip. Melalui aplikasi ini, perlu pencarian dengan cara kedua yakni tinjauan berkas, bukan mencari surat.

Sesuai daftar arsip yang ada pada aplikasi termaksud, dapat ditemukan petunjuk lokasi keberadaan surat. Sebagaimana cara pendataan arsip bukan tiap item, melainkan tiap berkas(tinjauan struktur) maka didapatkan petunjuk keberadaan lokasi surat yakni pada berkas persuratan bertanda tangan dirjen yang disusun berdasarkan bulan dan tahun.

Kasus tersebut diatas, bisa jadi memunculkan pertanyaan para pembaca?
++++mengapa surat tidak di berkas kan dalam kesamaan masalah????
++++mengapa masih terjadi pemberkasan berdasarkan kesamaan bentuk???? Yakni berkas persuratan bertandatangan dirjen yang disusun per bulan dan per tahun.

Tulisan kali ini belum akan menjawab pertanyaan tersebut. Semoga menjadi topik tulisan tulisan selanjutnya.

Semoga bermanfaat

Pejabat Administrator

Dibalik pelantikan KESDM sampai pertengahan tahun 2019, terselip fakta bahwa Jabatan fungsional diarahkan untuk mengisi jabatan struktural. Salah jabatan tersebut adalah auditor madya. Setidaknya terhitung tujuh orang auditor madya yang mengisi jabatan Kasubdit di lingkungan KESDM.

Jenjang jabatan madya pada fungsional disamakan dengan jabatan administrator atau eselon tiga. Fenomena tersebut pun sebetulnya sama dengan kebijakan impasing pada jabatan fungsional tertentu.

Tulisan ini sekedar untuk membuat catatan kecil saja 😂. Meski tidak menggali lebih dalam terkait fenomena jabatan auditor madya yang diberikan kesempatan oleh Menteri ESDM untuk menjadi pejabat administrator, namun telah menginfokan kepada kita semua.

Teringat obrolan dalam canda dengan salah satu senior di kantor lepas dilantik sebagai inspektur Migas Madya. Adalah Yudi Indarto yang tenar dengan julukan “Kompol” yang merasa terselamat kan untuk menduduki jenjang jabatan Madya.

Pasalnya slot formasi Madya pada rumpun jabatan Inspektur Migas sangat terbatas. Jumlah formasi yang belum mengakomodir keberadaan jenjang jabatan setingkat di bawahnya. Pun pada draft revisi permen ESDM tentang peta jabatan yang beberapa tahun terakhir dibahas, tambah Kompol Yudi.

Jenjang jabatan madya pada jabatan inspektur Migas dan auditor memang beda nasib. Meski saya tidak berusaha mengkaitkan dalam kerangka pembinaan karir, namun tergambar informasi untuk bisa dilakukan analisa dan dikomentari.

Berikut adalah catatan pengisian jabatan administrator atau eselon 3 di lingkungan Ditjen Migas sejak Januari sampai Juli 2019
+++ 14 Januari 2019, Heru Windiarto sebagai Kasubdit Penerimaan Negara dan Pengelolaan PNBP Migas

+++ 4 Februari 2019, Diyan Wahyudi sebagai Kepala Bagian Rencana dan Laporan (rotasi) dan Muhidin sebagai kepala subdit pengangkutan Migas (promosi)

+++ 4 Maret 2019,Alpha Febrianto sebagai Kasubdit Penyiapan Program Migas (promosi auditor madya), Jerry Alfiardy sebagai Kasubdit Pengembangan Investasi Migas( promosi auditor madya), dan Suryono sebagai Kasubdit Usaha Penunjang Migas(rotasi)

+++ 19 Juni 2019, Agustinus Sudarmo sebagai Kepala Bagian Keuangan (rotasi dari Ses BPSDM), Kasubdit Penyiapan Wilayah Kerja Konvensional: Ardhi Krisnanto, S.T (rotasi), Kasubdit Pengawasan Eksplorasi: Ir. komar Hutasoit (promosi), Kasubdit Penilaian dan Pengembangan Usaha Hulu Migas Yulianto, SE (promosi)
Kasubdit Penyiapan Wilayah Kerja Non Konvensional: Ir. Dody Pribadi (rotasi)

+++12 Juli, Roosriani sebagai Kepala Subdit Penyimpanan Migas dan Wahyudi Akbari sebagai Kasubdit Perencanaan dan Pengadaan Pembangunan Infrastruktur Migas( promosi dari auditor Madya)

BIG DATA

Big data. Suatu konsep informasi pada media penyimpanan yang mendikte kepantasan nilai kehidupan. Suatu fenomena yang dapat mengkonfirmasi ragam informasi. Dini hari, 14 Juli 2019 setelah mengunggah tulisan sebelumnya di WordPress, serasa mendengar kembali berita tentang BIG DATA.

Otaku pun mengira begitu luar biasanya BIG DATA. Konsep keterhubungan bahkan untuk lintas lini masa. Keterkaitan suatu kata yang menunjukkan informasi serupa. Bisa saja kita mengklaim pemahaman sepihak. Setelah di unggah, tersimpan dalam wadah yang sama, muncul dan di suguhkan fakta lainnya. Fakta yang mengajar kan bahwa bisa jadi kita belum seberapa.

Suatu kata yang mewakili judul tulisan pada blog akan mengarahkan ke artikel postingan yang bertemakan serupa. Dari situlah kita mendapatkan gambaran, bahwa diluar sana terjadi pemikiran sama dan tersaji tulisan yang terkait.

Gambaran BIG DATA seolah mendikte untuk bisa mengukur diri. Seberapa ukuran kepantasan untuk merasa unggul bahkan hebat. Bahkan untuk deklarasi, tahap merasa diri saja telah menghidupkan lampu kuning. Lampu pertanda awas 👀, berhati hati dalam berbangga diri.

Tulisan sebelumnya yang bernada sanjungan dan terapresiasi dari para pembaca, kemudian terpancing menendongak dari blog lainnya karena BIG DATA. Tulisan yang ku berikan judul “berkah tulisan’ mengantarkan ke blog WordPress berisi seribu tulisan selama sepuluh tahun dengan hampir tiga juta viewers.

Meski tidak bisa dibandingkan apel to apel y. Bandingkan saja timun to timun 😂😛😄😄. Nyadar diri, saya masih unyu unyu, masih pemula di dunia blog. Satu tahun tercatat sebagai warga wordpress belum mampu menciptakan 200 tulisan.

Pun jika memakai angka waktu sepuluh tahun mengenal dan mencemplungkan diri dengan tulisan blog meski saat itu berada pada platform sebelah yakni blogspot, saya masih amat amatir.

Dini hari ini kok mendapatkan pelajaran sempurna. Bahwa
+++ Ternyata suatu hal dengan dikerjakan secara inten, bersungguh sungguh, menjiwai, menjadikan sebagai passion, hasilnya berbeda y meski dengan waktu yang sama. Dalam hal ini adalah tulis menulis.
+++Pandai pandai saja dalam mengukur diri agar tidak merasa berbangga diri alias kepedean. Kita berada pada era BIG DATA yang selalu mengkonfirmasi suatu fakta.
+++tulisan berisi informasi yang diunggah pada wadah yang sama, telah memberikan perspektif kehidupan yang berbeda. perspektif BIG DATA.
— siapakah yang diuntungkan dari kemurahan WordPress yang menyediakan layanan gratis BIG DATA????