Untuk Bapak Wahono

Dusun Ndemi Bantul, membuka puasa kedua di Yogyakarta tahun ini. Bentuk penerimaan dan kasih sayang kepada Bapak, menjelmakan hubungan kekerabatan baru. Dua unit televisi merk Coocaa menjadi pelengkap keterhubungan bapak kepada anaknya. Disertai ungkapan terima kasih atas segala yang sempat diberikan kepada anaknya. Berapa duit saja jika ditotal untuk singgah selama puluhan tahun di rumahLanjutkan membaca “Untuk Bapak Wahono”

Bapaku dan ujian

Lahir di akhir bulan dua belas, bertahunkan 1958. Menjelang 62 tahun yang nanti beriiring suara terompet pergantian tahun. Gigi yang sudah tidak lengkap, mengurangi gelak dan tawa lepasnya. Sorot mata yang berbeda di beberapa taun ini, memuncak di 26 September 2021. Bapaku diberikan ujian dengan sakit.  Infeksi Saluran Kemih (ISK), memaksa ketegaran diri menerima selangLanjutkan membaca “Bapaku dan ujian”

Inspirasi dari Bapak

Figur yang melengkapi tumbuhnya jiwa dan raga. “ngopo kuliah le..nek ujung ujunge kerjo kasar” tutur Bapaku. Meski nggak persis di hampir dua puluh tahun yang lalu kala terucap, namun pitutur itu yang menancap di memori pembentuk jiwaku.  Apa yang terjadi, dengan pitutur itu? Justru yang kulakukan mengambil dua universitas sekaligus berbarengan tantangan bapak untuk langsungLanjutkan membaca “Inspirasi dari Bapak”

Bapak

Memori kepada Bapak, menemani sepanjang hayat. Apapun pencapaiannya, tentu menjadi idola. Setidaknya harus mengidolakan. Sebagai bukti tunduk penghayatan “Bhakti kepada Orang Tua” . Tak menggubris rendahnya derajat pekerjaan ukuran dunia. Toh semua hanya sebagai sarana menggapai rejeki yang berasal dari Sang Pencipta. Tentu si Bapak lebih Hebat dari si Anak. Kemahiran seni seruling yang takLanjutkan membaca “Bapak”