Kampung Halaman

Ke Sleman lagi edisi lebaran 2019 bagian kedua ini menjadi cerita kerinduan atas hubungan emosional semasa tinggal di kampung. Tulisan ini menjadi pengingat penulis bahwa tantangan kaum udik (golongan perantau dan akhirnya harus pindah kependudukan) tidak bisa lagi ikut membangun kampungnya.

Bukan tidak mau namun perubahan yang dialami menciptakan kondisi yang sulit untuk dapat berbuat banyak di kampung sebagai tanah kelahiran. Semoga tulisan ini membawa pribadi penulis untuk meniti kerinduan sampai pada suatu saat nanti punya kesempatan dan kemampuan lagi untuk ikut memberikan sumbangsih pembangunan untuk kampung halaman.

—–+++++++—–#####$$$$$&&&&@@**”‘

Kamis, 6 Juni 2019 adalah hari keempat dari rangkaian pulang kampung atau biasa disebut dengan mudik. Selain itu merupakan hari kedua lebaran dimana hari2 diinstal dengan hal yang sama tiap tahunnya.

Pagi hari menjelang hari kemenangan atawa lebaran, singgah di Puri Mertua Indah memang cukup menyenangkan. Terbangun dari tidur langsung bisa mandi disambung dengan sarapan pagi. Tidak perlu repot untuk bangun sendiri dan menyiapkan makanan sendiri. Mertua yang begitu baik membangunkan dan mempersilahkan makan.

Kita cukup berfokus melakukan servise kepada cucu cucu mertua dengan mangajak ke tanah lapang untuk melaksanakan sholat Ied. Bertempat di komplek perkantoran OPD Kab. Sleman yang berlokasi di dekat kampung halaman Sucen Triharjo Sleman Yogyakarta, kami pun mengikuti rangkaian sholat Ied tahun 2019.

Nuansa sholat Ied yang penuh dengan orang2 yang dulu pernah dijumpai semasa kecil. Ada pak Ustadz yang dulu pernah mengajak dan menemani mengenal islam. Ada pakdhe2 yang melirik ke arah tempat aku duduk sambil manggut manggut. Ada mas mas yang dulu memuji kepintaranku dalam sekolah sambil terus mengagumi karena sudah punya tiga anak.

Nuansa kenangan balik kampung begitu menghiasi dari jamaah sholat Iedul Fitri di tahun ini. Di kerumunan jamaah itu, terkuak memori ketika aku yang masih semasa bermain. Melihat si A teman SD. Berjabat tangan dengan si B teman bermain dan berorganisasi remaja kampung. Dipanggil Bapak C yang dulu dan sekarang masih menduduki jabatan tokoh masyarakat. Disapa mas D sebagai rekan pergerakan kegiatan remaja Mushola dan pengurus masjid.

Tak lupa terlihat pula temen2 sebaya pada lima belas tahun yang lalu yang memandangku sebagai orang yang sukses. Sebuah pandangan yang dibelenggu penjajahan ekonomi kapitalisme. Pandangan yang menjadikan keakraban semakin retak, padahal dulu pernah sangat mesra untuk menjalani hari hari di Sucen.

Selain itu terlihat pemandangan kampung yang dulu bocah kini menjadi manusia muda. Tubuh gempal dan gagah serta kumis atau jenggot bukan bocah dulu yang pernah ku urusi ketika mereka belajar mengaji atau ketika mereka lomba 17an.

Bocah2 yang dulu merasa disayangi, diurusi dan dikondisikan untuk menggapai kehidupan yang lebih baik kini telah merasa asing dengan diriku. Mereka merasa ditalak, merasa dicerai, merasa ditinggalkan ketika bertahun tahun ku telah pindah penduduk di ibu kota.

Tiada wujud bentuk kasih sayang, keberpihakan dan perhatian untuk nasib mereka di kampung, sedangkan diri ini tenggelam dalam jelmaan takdir kehidupan sebagai kaum udik.

Hal itu menjadi tautan untuk kondisi hubungan yang lain. Aku punya hubungan emosional di kampung saat punya banyak waktu dengan organisasi remaja, kepengurusan masjid, TPA, senioritas, tokoh masyarakat, kekerabatan keluarga dan seterusnya. Namun kini menjadi terasa asing saat pulang kampung. Tak sedetik pun waktu dapat disisihkan untuk hubungan2 tersebut.

Jika memang status kaum udik menjadi penyebab retaknya hubungan itu, maka diri ini menjadi manusia yang telah berubah. Namun melalui tulisan ini, ku ungkap kan bahwa perubahan yang terjadi karena ketidakberdayaan atas penjajahan ekonomi semata.

Kutuliskan alibiku bahwa perubahan ini tidak semata atas kemampuan dan keinginanku. Masih ada di dalam hati kecilku rasa emosional atas hubungan hubungan tersebut. Semoga dapat tumbuh kembali rasa itu. Rasa yang dulu merasa “aku anak kampung'”.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar