THOLE

“aku tetep bobo disini, terus disini, sampe pagi, KEREN” kata Thole, anaku yang kedua. Kata kata itu kudengar saat diancam ibunya untuk mandi. Seolah Thole tak gentar meski diancam oleh Ibunya – tidur di luar kamar- jika tidak mandi di sore hari.

Dalam hati, aku hanya tertawa, lisan ini aku tutup rapat. Tak sepatah kata pun ikut campur dalam ketegangan anak dan ibunya. Ketakjubanku terhadap anak berumur kurang dari lima tahun, atas keberanian melawan ancaman ibunya.

Sebetulnya, dalam diam aku menganalisa, bagaimana pendekatan yang cocok untuk menemani titipan ilahi. Apakah pendekatan pressing seperti marah, ancaman, dan paksaan dapat cocok untuk bocah yang saat ini menjadi tanggung jawab aku dan istriku.

Ketakjubanku bukan aku membanggakan keberanian Thole yg sudah menampakkan keAkuannya. “subhanallah, dari mana datangnya keberanian itu kalo bukan dari Sang Pencipta??? ” pikirku.

Untuk melerai ketegangan, aku pun harus bersandiwara membela anaku. Kutawarkan diri untuk menemani mandi, setelah kakaknya yg masih berada di kamar mandi. Dengan sedikit nada merendah di hadapan anak, dan sedikit rayuan, Thole pun mandi.

Sembari meladeni, sang Raja(Thole) Mandi, kutarik memori đź§  di dalam otak. Terantuk pada suatu pertanyaan, “perbuatan apa yang kulakukan dan aku kasih makan dari duit mana serta suri tauladan yg bagaimana?”

Suatu perenungan bagiku. Seorang anak menjadi ujian sekaligus perhiasan bagi orang tuanya.

Semoga bermanfaat

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar