
10 November 2019
Memaknai Hari Pahlawan
Halo teman teman semua….di akhir pekan kali ini , bisa jadi berasa bukan hari libur y… Itu karena pada Sabtu nya bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad dengan undangan peringatan(pengajian). Kemudian Minggu nya bertepatan dengan Hari Pahlawan, dimana ada agenda Upacara Bendera.
Meski bukan keharusan banget layaknya hari kerja sih, namun demikian tuntutan kondisi mengajar kan kita untuk menghadiri pengajian dan upacara bendera(bagi yg memang telah menjalani).
Apa yang terbersit di pikiran temen2 terkait kedua peringatan tersebut. Momentum kenabian atau kelahiran manusia suci yang diyakini sebagai pembawa misi keselamatan? Apapun itu, pastinya bernilai kebaikan tatkala mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad.
Dalam sosok Nabi Akhir Zaman tersebut, riwayat dan kisah Muhammad semenjak kecil pun sangat layak untuk menjadi rujukan. Bermula dari kondisi tidak beruntung dengan kepergian sosok orang tua sebagai pengasuh secara fisik.
Otaku jadi berfikir, kenapa y… jalan hidup orang termulia seluruh masa, kok diawali kondisi yang kurang beruntung y…. Bisa jadi berbalik dengan era saat ini tatkala kondisi ketidakberuntungan menjadi buah bibir pemikiran miring.
Meski berangkat dari takdir kehidupan yang kurang beruntung, meninggalkan masa remaja, dan memasuki masa pernikahan, Muhammad pun tak sepi dengan prestasi. Luar biasa….
Hingga memasuki masa kenabian, sosok santun dari berbagai riwayat kok ketangkap otaku sebagai profil lebih dapat menunjukkan karakter Jawa, ketimbang karakter Arab di kelompok masyarakat Quraisy.
Karakter lemah lembut, menghharmonisasi permasalahan kehidupan kala itu. Bahkan ebih dari sekedar musikalisasi yang begitu konplek dengan beribu aliran musik maupun hasil 🎼, terdapat gambaran kepahlawanan yang tercermin nilai kuat dan tegas. Misalnya saja saat mengancam anak nya sendiri Fatimah yg akan dipotong tangan, jika kedapatan mencuri.
Perspektif kepahlawanan bisa berbeda beda, misalnya nilai berani berkorban mempertaruhkan jiwa dan raga. Bukan hanya berkorban yang tak luput dari Sosok Nabi Muhammad. Betapa tidak, kondisi kekurangan untuk Diri dan keluarganya lebih dipilih demi perjuangan sang juru selamat.
Hal itu penulis kaitkan dimana 10 November menjadi hari nasional untuk memperingati momentum kepahlawanan. Dengan tidak menafikan peri kehidupan yang semakin komplek, memaknai hari pahlawan pun dapat dimulai dari hal hal sederhana.
Sisi kehidupan yang menjadi area kekuasaan diri pribadi dengan merujuk kisah kenabian Salallahu’alaihi Wassalam. Misalnya di Sabtu dan Minggu ini tatkala bercengkrama dengan keluarga sampai dengan memposisikan dalam komunitas warga dalam peran sederhana.
Akhirnya memaknai kepahlawanan pastinya akan multi persepsi sesuai dengan kondisi pribadi masing masing. Semoga kita semua dapat menjadi pahlawan di hati keluarga dan di mata warga sekitar kita dengan hal hal yang sederhana.
Semoga bermanfaat