
“Pak, aku pengen menulis, tapi tidak punya ide” kata Nasywa yang sudah membawa pulpen dan buku tulis kosong. Aku pun menjawab untuk menuliskan kata kata itu. Dia pun menimpali “aku tidak mau menulis yang tidak ada idenya”
Penggalan perbincangan dengan anak pertamaku yang saat ini sudah mulai 📝 belajar menulis. “aku pengen buat novel” kata Nasywa lagi.
Lah, dari mana ini anak mengenal Novel? Ternyata kulihat salah satu bacaan nya, Novel Komik. Aku pun menanyakan ke dia, siapa yang buat novel. Biasanya sih, si anak meniru temennya.
“mbak Nay aja bikin novel” jawab Nasywa. Tetangga depan rumah yang sekolah standar mutu kategori puluhan juta untuk bisa masuk, memang lebih mewarnai Nasywa ketimbang bapak ibunya.
Kita bisa pahami kondisi masa pra sekolah, sangat tergantung dan terpengaruh dari teman sepermainan. Kebetulan Nasywa yang belum masuk SD punya temen seusai kelas 3 SD.
Hal itu ditunjukkan Nasywa saat kusampaikan untuk menulis yang sederhana sesuai dengan kejadian yang dialami. Menulis tentang kedua adiknya yang sering merecoki saat nasywa bermain. Menulis tentang apa yang ada di pikiran, misalnya saat tidak ada ide, maka tulis saja sedang tidak ada ide.
Nasywa menolak kata kata bapaknya. Akhirnya dia pun menyimpan pulpen dan buku tulis untuk beranjak tidur.
Baca juga
https://muhamadonlinecom.wordpress.com/2019/06/30/nasywa-calon-penulis-ternama/