Didi Kempot 

Selamat Jalan, Pakdhe…. Kisah di penghujung usiamu telah menjadi Inspirasi luar biasa. Bukan hanya membuat air mata ini mengalir deras, namun juga membuka ruang batin untuk lebih peduli atas kebaikan untuk sesama manusia. 

Sejak Pandemi COVID 19, ada Didi kempot dirumahku. Karya lagumu menjadi sarana untuk mengenalkan bahasa ibu kepada anak anaku. Maklum saja, perantau  yang setiap hari terbawa pergaulan, melupa diri atas bahasa ibu “bahasa jawa” untuk penerus ku di rumah.

Begitu pas sekali, sarana pengajaran bahasa jawa kepada anaku. Karya sang maestro yang dibawakan oleh anak seusai SD. Pakdhe Didi Kempot mengorbitkan arda, anak Sekolah Luar Biasa yang bertempat tinggal di Klaten. 

Judul lagu pun pas banget dengan area pendidikan bagi anak anaku yg berumur 7,5 dan 2 tahun. Judul karya “Kagem Ibu”, dapat dinikmati via channel YouTube, oleh penyanyi arda. Bukan hanya untuk anaku, dan bahasa ibu saja. Tapi lagu kagem ibu itu, karya pakdhe Didi Kempot mengingatkan kenangan mesraku dengan almarhum ibuku. 

Lagu kedua adalah “ora biso mulih”, lagu ini ku dengar pertama kali di kompas TV. Kemudian semakin dihafal oleh ketiga anaku di rumah via chanel Didi kempot di Youtube. Bahkan yang mengundang kebahagiaan dan kelucuan kala Rara (si Bontot, 2 tahun ) ikut menikmati dengan ikut mendendangkan… Bapak… (padahal belum bisa ngomong jelas). Lagu kisah Pandemi COVID 19, tidak Mudik

Karya ketiga “tulong”. Lagu yang menggambarkan kesejatian kebaikan manusia. Pada lagu ini, kudapatkan gambaran jiwa kebaikan Pakdhe Didi Kempot untuk arda yang kurang penglihatan. Jiwa Kebaikan pakdhe Didi Kempot, menggugah kesadaran jiwa atas orang orang yang terbatas alamiah.

Dan yang meledak adalah lagu “Tatu” meski banyak di cover oleh penyanyi lain, versi arda tak kalah dalam menyenggol kisah asmara lama. Asmara jadul, asmara yg hanya bisa bikin pendengarnya senyum senyum sendiri. 

Selamat Jalan Pakdhe DIDI KEMPOT. Selamat menghadap kembali keharibaan Nya. Begitu bagus serta mulia bulan ini dan amalan mu yang mengiringi kepergianmu. Ramadhan dan konser amal 7,6 Milyar itu, menjadi cerita yang tak dapat dilupakan masyarakat Indonesia. Masyarakat pecinta bahasa jawa. Bahasa ibu. Kesenian campur sari. Serta pencari nilai kebaikan untuk sesama manusia

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar