Kembali ke Sleman

Malam satu suro atau malam tahun baru Hijriyah, ketiga anaku berada di kampung halaman. Setelah sholat Dzuhur di Mushola VTB, Dipta sudah tak sabar untuk bertolak ke Sleman. 19 Agustus 2020 menjadi kali kedua setelah bulan Februari, aku dan sekeluarga melakukan perjalanan menuju kampung halaman. 

Pukul 13.30 WIB keluar dari Warung Soto Barokah, segera menyusuri jalan via Taman Makan Kalibata untuk bergabung ke Tol Cikampek. Mengawali jalan Tol dari KM 2, kendaraan pun terhenti di KM 207. Kewajiban empat rakaat pun dapat terlaksana pada 17.25 WIB. 

Indikator bahan bakar pun memaksa berhenti kembali di KM 379. Rest Area ini berada di Batang, Jawa Tengah. Secangkir kopi instan dan tiga cup es krim buat bocah sengaja kubeli untuk sekedar memulihkan konsentrasi perjalanan jarak jauh. 

Setelah mengisi pertalite 200 ribu rupiah, aku pun tancap gas melanjutkan perjalanan ke Sleman. Total menjadi 400 ribu rupiah dengan separonya kubeli saat sebelum mengawali perjalanan. 

Sampai di KM 483, keluar dan sampailah di Sleman. Seporsi bakmi Pak Hardi mengisi perut yang sedianya bakmi Mbah Ndumok. Dini hari pun segera meluncur ke hotel Mertua Indah. 

Akhirnya, 11 jam perjalanan Jakarta-Jogja di masa Pandemi ini mengiringi cerita di malam satu suro atau malam tahun baru Hijriyah. 

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

3 tanggapan untuk “Kembali ke Sleman

Tinggalkan Balasan ke Baderi Batalkan balasan