Keluarga Waliman

Melewati enam malam di Sleman, belum mampu mengerti apa itu arti keluarga. “Bahagianya berkumpul bersama adalah tatkala terungkap kembali cerita konyol sewaktu anak dan remaja tinggal bersama orang tua” Kata lek preh di dalam mobil. Sepulang dari katekan Gantiwarno Klaten, perbincangan ringan mengiringi kembali ke Sucen Triharjo Sleman.

Di dalam mobil itu, ikatan keluarga satu darah antara bapak, dan kedua adiknya mulai cair. Sedangkan di mobil satunya, ada dua adiknya lagi yang juga turut mendatangi tanah kelahiran mbah buyutku. Berada di sebelah timur provinsi Yogyakarta, terukir cerita awal kehidupanku di dunia.

Kenanganku semasa kecilku pun ikut mengkonfirmasi, bahwa kesederhanaan keluarga membuktikan rutinitas “ruwahan” Di makam mbah buyut. Memori kecilku mengingatkan masakan tahu yang diguyur kuah santan, racikan perempuan yang aku sebut kakak mbah. Kini, perempuan itu sudah terdiam di kamar ditemani sisa sisa kesadaran sebagai makhluk nya.

Inilah kisahku, di mudik lebaran 2022 yang diakhiri makan bersama di warung mie ayam karunia. Dua puluh empat manusia dari seorang pria bernama waliman, mulai belajar menguak arti keluarga. Bisa jadi disebut sebagai keluarga “waliman”

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar