Arus Balik 2022

Episode rehat di Sleman itu harus berakhir. Kamis, 5 Mei 2022. Aku mengawali perjalanan dengan hidangan Soto Mekar Jaya sebelum nembus gerbang Boyolali yang berjarak hampir 3 jam dari rumah Slemab. Soto ayam kampung yang berada di Pinggiran jalan Yogya- Solo, sebelum Tempat Sunat Bogem.

27 April – 5 Mei 2022 adalah episode rehat sejenak dari kehidupan ku di pinggiran ibu kota. Meski tak utuh delapan hari, keberadaan di Jabung dan Sucen Yogyakarta melengkapi status anak.

Status yang masih memiliki Bapak dengan keluarga dibelakangnya. Anak yang ingin mengenang romantika kehangatan ibu, meski telah almarhumah. Begitu juga status menantu yang harus berperan baik demi keseimbangan jiwa untuk ketiga anaku, Nasywa, Dipta dan Rara.

Tiga malam dalam peran ayah untuk ketiga anak yang belum lepas pelukan menjelang tidur mereka. Tiga malam berada di penginapan untuk pengenalan anak dan penyelaman arti rumah tinggal. Semalam untuk bapak, dan rencana malam untuk seting kamar yang tak terlaksana

Cerita di kampung itu, sengaja kutulis demi ingatan diri. Arus balik ke Jakarta pun menjadi catatan yang perlu kupertahankan. Berbekal arah jalan Google Map, veloz menyusuri jalan lternatif yang lebih dominan nuansa persawahan. Dari KM 483 Boyolali, laju kendaraan roda empat terhenti di KM 456 Salatiga untuk BBM. Adalah Pertashop yang hanya menjual Pertamax telah menenangkan perjalanan mudik.

82.500 rupiah ongkos pertama setelah nembus Semarang, kalikangkung. Rest area yang dipadati pemudik menohok pemandangan perjalanan. Menjelang jam 12 siang, aku pun ambil pintu keluar Kendal. Menghindari ress area yang penuh sesak untuk sekedar menghibur dan mengganjal perut.

Istri meminta waktu untuk ke Toilet, ketemulah Pom Bensin. BBM senilai 185.000 rupiah untuk meluber seluruh permukaan dalam tangki. Laju kendaraan terhenti tatkala akses masuk peristirahatan KM 225 terlihat lengang. Segelas kopi hitam menenangkan diri, tatkala kantuk memenjaraku.

Pak laper“, kata Nasywa tepat di sebelahku. Di KM 225, Nasywa tertidur pulas. Pintu Keluar Cikedung, dua cup pop mie berhasil menghibur ketiga anaku. Di pinggir jalan raya Subang itu, warung kecil yang menyediakan toilet tanpa tulisan menjadi pemberhentian ku yang keempat. Salatiga, Kendal, KM 225 dan Cikedung.

Kepadatan jalan tol berhasil mencatatkan lima belas jam perjalanan. Nyaris jam sepuluh malam, raga pun mendarat di Villa Tanah Baru. Perumahan yang menjadi arena keseharian sebagai kaum Urban.

Diterbitkan oleh Nurul Muhamad

Pencerita dan Pencari Makna

Tinggalkan komentar